Karyawan Google Dipecat usai Laporkan Pelecehan Seksual di Kantor
Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang karyawan senior Google mengaku dirinya diberhentikan setelah melaporkan seorang manajer yang melakukan kekerasan seksual kepada klien dan rekannya. Klaim tersebut disampaikan Victoria Woodall dalam sidang pengadilan ketenagakerjaan di London.
Melansir BBC, Woodall mengatakan dirinya menjadi sasaran pembalasan setelah melakukan whistleblowing terhadap manajer tersebut yang kemudian dipecat. Google membantah tuduhan pembalasan dan menyebut Woodall menjadi "paranoid" serta menafsirkan aktivitas bisnis normal sebagai sesuatu yang "jahat".
Dokumen pengadilan yang dilihat BBC menunjukkan investigasi internal Google UK menemukan manajer tersebut menyentuh dua rekan kerja perempuan tanpa persetujuan. Perilaku itu dinilai sebagai pelecehan seksual dan melanggar kebijakan perusahaan.
Dalam gugatannya, Woodall menyebut atasannya sendiri melakukan aksi pembalasan tanpa henti karena laporannya juga menyeret rekan dekat sang atasan. Dua rekan tersebut kemudian dikenai tindakan disipliner karena menyaksikan perilaku tidak pantas namun gagal menegurnya.
Gugatan itu juga memuat tuduhan adanya budaya "boys' club" di Google, termasuk pendanaan acara makan siang khusus pria hingga Desember 2022. Google menyatakan tidak menemukan budaya tersebut dan mengatakan acara itu dihentikan karena tidak lagi sejalan dengan kebijakan perusahaan.
Putusan dari London Central Employment Tribunal diperkirakan akan keluar dalam beberapa minggu ke depan. Kasus ini menjadi sorotan terkait penanganan pelecehan seksual dan perlindungan whistleblower di perusahaan teknologi besar.
Woodall diketahui bekerja sebagai senior industry head di tim UK Sales and Agencies Google. Pada Agustus 2022, ia dihubungi klien perempuan yang mengeluhkan perilaku seorang manajer saat jamuan bisnis.
Menurut klaim Woodall, manajer tersebut membanggakan jumlah perempuan kulit hitam yang pernah ia tiduri dan menyebut dirinya serta istrinya adalah swinger. Ia juga menceritakan pengalaman berhubungan seksual dengan dua perempuan yang ditemui saat liburan, berdasarkan ringkasan investigasi internal Google.
Klien tersebut menyebut percakapan itu terjadi tanpa diminta dan dilakukan di depan atasan langsung sang manajer yang tidak melakukan intervensi. Dalam dokumen pengadilan, klien menggambarkan perilaku tersebut sebagai "menjijikkan".
Woodall kemudian melaporkan keluhan klien itu kepada atasannya, Matt Bush, yang saat itu menjabat managing director tim agensi. Google pun membuka investigasi internal atas dugaan pelanggaran tersebut.
Saat investigasi berlangsung, Woodall mengajukan keluhan kedua dari klien perempuan lain. Klien tersebut menuduh manajer yang sama memperlihatkan foto "vagina istrinya" saat menggulir foto di ponselnya.
Google mewawancarai 12 orang dalam proses investigasi tersebut. Hasilnya menemukan sejumlah insiden tambahan yang dinilai sebagai pelecehan seksual dan pelanggaran kebijakan perusahaan.
Manajer itu dinyatakan secara probabilitas telah melecehkan dua karyawan perempuan dalam sebuah acara kerja. Ia diduga menyentuh kaki satu kolega dan menggosok punggung serta bahu kolega lain tanpa persetujuan.
Investigasi juga menemukan dugaan komentar tidak pantas kepada staf, termasuk menyebut dirinya berada dalam pernikahan terbuka. Ia bahkan diduga mengatakan kepada kolega perempuan bahwa istrinya akan senang jika ia berhubungan seks dengannya di kamar mandi.
Manajer tersebut membantah seluruh tuduhan dan mengklaim tidak merasa pernah membagikan detail hubungan pribadinya kepada rekan kerja. Namun, Google tetap memecatnya karena pelanggaran berat.
Sementara itu, atasan langsungnya dan satu kolega senior lain direkomendasikan untuk pembinaan terdokumentasi karena gagal bertindak. Keduanya kemudian juga terkena pemutusan hubungan kerja.
Woodall mengklaim tak lama setelah melaporkan pelecehan tersebut, ia dipaksa menukar akun klien yang sukses dengan akun bermasalah. Akun tersebut sebelumnya dikelola salah satu kolega yang kemudian dikenai sanksi akibat laporan Woodall.
Ia menyebut langkah itu sebagai "poisoned chalice" yang membuatnya rentan terhadap redundansi. Pengadilan mendengar bahwa posisinya menjadi semakin lemah setelah perubahan tersebut.
Woodall juga mengaku diturunkan ke peran bawahan dalam proyek internal besar. Proyek itu justru dipimpin oleh manajer senior lain yang ikut terseret dalam laporannya.
Selain itu, ia menuduh atasannya berupaya menurunkan penilaian kinerjanya dan melakukan berbagai tindakan pembalasan lain. Semua tindakan tersebut disebutnya sebagai bagian dari upaya sistematis menyingkirkannya.
Dalam pernyataan saksinya, Matt Bush membantah tuduhan tersebut dan menyatakan selalu mendukung karier Woodall. Ia menambahkan bahwa rotasi akun klien adalah praktik standar di dalam tim.
Pada 2023, Google memulai proses redundansi yang berujung pada keluarnya Bush dan salah satu manajer senior yang gagal melaporkan pelecehan. Proses itu tercantum dalam dokumen pengadilan.
Pada Mei 2023, Woodall membawa keluhan soal budaya boys' club dan pembalasan yang dialaminya ke jajaran pimpinan tertinggi. Ia bertemu Debbie Weinstein yang saat itu menjabat wakil presiden Google UK dan Irlandia.
Dalam kesaksiannya, Woodall menyebut Weinstein tampak terkejut dengan klaim tersebut. Pesan internal menunjukkan Weinstein menulis kepada HR, "Baru bertemu Vicki. Astaga. Mau bicara 10 menit hari ini."
Pada November 2023, saat Google bersiap melakukan reorganisasi besar, Woodall mengklaim ada dorongan terakhir untuk menyingkirkannya. Pesan Weinstein kepada pimpinan periklanan UK dan Irlandia menyebut proses tersebut sebagai "kesempatan untuk keluar dari orang-orang".
Pada Maret 2024, Woodall akhirnya dinyatakan redundan bersama manajer senior lain yang terlibat dalam investigasi. Meski demikian, ia masih tercatat sebagai karyawan dan menerima pembayaran sakit jangka panjang akibat stres kerja.
Google menegaskan Woodall tidak diberhentikan karena tindakan pengaduannya. Perusahaan menyebut perannya merupakan satu dari 26 posisi yang ditutup dalam tim dan departemen terkait.
Google juga membantah bahwa Weinstein berupaya menyingkirkan Woodall. Perusahaan menyatakan Weinstein justru mendukung Woodall dan memprakarsai investigasi budaya kerja.
Perusahaan mengakui laporan Woodall merupakan tindakan whistleblowing. Namun, Google menegaskan tidak ada pembalasan dan seluruh keputusan yang diambil merupakan keputusan bisnis yang wajar.
[Gambas:Video CNBC]