Amerika Kacau Balau, Ribuan Karyawan Minta Google Tanggung Jawab
Jakarta, CNBC Indonesia - Peranan Google dalam kasus Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) membuat karyawan perusahaan marah. Hampir 1.000-an karyawan perusahaan mengecam dan meminta mengungkap hubungan dalam kasus tersebut.
Kecaman itu diungkap dalam surat yang ditandatangani lebih dari 900 pegawai Google. Surat juga mengungkapkan para karyawan terkejut dan merasa ngeri atas peranan perusahaan tempat mereka bekerja.
"Google mendukung kampanye pengawasan, kekerasan, dan penindasan ini," tulis surat tersebut, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (10/2/2026).
Kasus tersebut terkait dugaan pembunuhan oleh ICE pada Keith Porter, Renee Good, dan Alex Pretti. Layanan cloud milik Google disebut membantu pengawasan CBP dan sistem ImmigrationOS, serta AI milik Google juga digunakan oleh CBP dan Play Store telah memblokir aplikasi pelacakan ICE.
Para karyawan Google menentang kerja sama perusahaannya dengan lembaga-lembaga itu. Mereka meminta untuk menyetop kemitraan.
"Kami menganggapnya sebagai tanggung jawab etis dan terikat kebijakan kepemimpinan mengungkapkan seluruh kontrak dan kolaborasi bersama CBP dan ICE, dan melepaskan diri dari kemitraan," jelas para karyawan.
Lebih lanjut, karyawan Google tersebut meminta Google mengakui bahaya dari ICE. Termasuk meminta mengadakan sesi tanya jawab internal soal kontral perusahana untuk DHS dan militer, serta menerapkan keselamatan bagi pekerja.
"Sebagai pekerja yang berhati nurani, kami menuntut pemimpin kami mengakhiri kemunduran dalam melakukan kontrak dengan pemerintah yang melakukan kekerasan pada masyarakat sipil," kata surat tersebut.
Pihak Google tidak segera menanggapi permintaan terkait hal ini.
Banyak karyawan dari raksasa perusahaan teknologi lain juga menyuarakan hal serupa. Karyawan dari Amazon, Spotify, hingga Meta telah mengirimkan surat terbuka untuk meminta ICE tak lagi terlibat dengan mereka.
(fab/fab)[Gambas:Video CNBC]