IMF Minta BI Hati-hati Soal Rupiah Digital: Bisa Picu Krisis

Tech - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
12 July 2022 13:20
The International Monetary Fund (IMF) logo is seen outside the headquarters building in Washington, U.S., as IMF Managing Director Christine Lagarde meets with Argentine Treasury Minister Nicolas Dujovne September 4, 2018. REUTERS/Yuri Gripas Foto: Logo Dana Moneter Internasional (IMF) (REUTERS/Yuri Gripas)

Bali, CNBC Indonesia - International Monetary Fund (IMF) mengungkapkan adanya risiko stabilitas keuangan hingga krisis ekonomi dengan hadirnya Central Bank Digital Currency atau di Indonesia disebut sebagai Rupiah Digital.

Kepala Divisi Departemen Moneter dan Pasar Modal di Dana Moneter Internasional (IMF) Tomasso Mancini-Griffoli menjelaskan risiko penerbitan rupiah digital akan mengganggu stabilitas keuangan lebih dalam, karena dikhawatirkan masyarakat akan mengalihkan aset mereka di perbankan.

"Dalam hal CBDC yang dikhawatirkan adalah pelarian dari simpanan bank, meskipun perpindahannya mungkin akan berjalan lambat. Namun, jika proses perpindahan (simpanan bank) ke CBDC berjalan cepat, justru berisiko pada krisis keuangan," jelas Tomasso dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia 2022 dengan topik 'Future of Money in The Digital Era', Nusa Dua, Bali, (12/7/2022).

Oleh karena itu, menurut Tommaso, Bank Sentral sebagai penanggung jawab moneter harus bekerja lebih keras untuk mempertimbangkan soal imbal hasil atau yield yang akan berlaku pada CBDC, agar masyarakat tidak 'FOMO' terhadap mata uang digital.

Festival Keuangan Digital Indonesia, g20 (youtube BI)Foto: Festival Keuangan Digital Indonesia, g20 (youtube BI)
Festival Keuangan Digital Indonesia, g20 (youtube BI)

Karena jika tidak, orang akan dengan cepat berpikir bahwa menabung di perbankan, tidak lagi menjadi investasi yang menarik. "Inilah jalur krisis yang benar-benar nyata," tuturnya.

Tingkat suku bunga yang berlaku antara CBDC dan mata uang yang berlaku saat ini harus diperhitungkan.

"Mungkin mereka bisa tetap menawarkan aset yang dapat dipegang masyarakat dalam likuiditas yang tak terbatas, dan ini mungkin bisa memperlambat masyarakat untuk lari dari bank komersial," kata Tommaso lagi.

Bank Sentral, kata Tomasso sebenarnya dapat membuat modul mengenai rancangan mata uang digital untuk menghitung berbagai risiko jika CBDC diterapkan.

"Perhatikan tingkat bunga CBDC, mereka dapat memutuskan untuk menerapkan cap of quantity atau besaran jumlah (maksimal dan minimum) untuk memegang CBDC sebagai ambang batas," jelasnya.

Selain itu, menurut Tomasso bank sentral juga harus mengungkapkan informasi secara transparan tentang dampak-dampak bisa terjadi jika masyarakat memiliki mata uang digital. Hal ini juga bermanfaat bagi para investor yang ingin mengembangkan pasar mata uang digital.

Ada risiko substitusi perpindahan mata uang uang, jika masyarakat di banyak negara mulai memegang mata uang bentuk digital. "Mata uang digital menjadi jauh lebih murah dan lebih mudah untuk disimpan, dibandingkan dollar (mata uang global dunia)."

Berbagai dampak harus diperhitungkan bank sentral dalam penerbitan mata uang digital, di antaranya adalah akan merusak kebijakan dan kredibilitas yang sudah berjalan, membuat inflasi negara tinggi, dan meningkatkan volatilitas nilai tukar.

"Begitu negara mengimplementasikan kebijakan ini (CBDC), pergantian cepat pada mata uang mungkin akan terjadi," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

BI & Pakar Top Dunia Kumpul di Bali Bahas Rupiah Digital


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading