Gertak WTO, Moratorium Pajak Impor E-Commerce Bikin RI Rugi

Tech - Demis Rizky Gosta, CNBC Indonesia
16 June 2022 15:40
Boneka setinggi 3 meter (10 kaki) dari serial Netflix Foto: Boneka setinggi 3 meter (10 kaki) dari serial Netflix

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama puluhan tahun, WTO memberlakukan moratorium atas pengenaan tarif bea masuk untuk produk digital. Ternyata, negara ekonomi berkembang seperti Indonesia menanggung beban lebih berat dari kebijakan tersebut.

Menurut Reuters, Indonesia, Afrika Selatan, dan India mengancam untuk menolak perpanjangan moratorium tarif e-commerce yang telah berlaku sejak 1998.

Moratorium membuat negara anggota WTO tidak bisa menerapkan bea masuk dan cukai atas transmisi elektronik. Ini berarti, pajak impor bisa dikenakan atas konten seperti musik, film, buku, dan peranti lunak yang diperdagangkan dalam bentuk fisik seperti CD, DVD, atau buku. Namun, konten serupa yang diperdagangkan dalam bentuk digital seperti e-book atau fail digital dan lewat streaming, bebas dari pajak impor.


Laporan riset UNCTAD berjudul Growing Trade in Electronic Transmission: Implications for the South yang diterbitkan pada 2019, memperkirakan moratorium tersebut membuat negara ekonomi berkembang kehilangan US$8 miliar pada 2017, sedangkan potensi kehilangan pendapatan para negara maju hanya sekitar US$212 juta.

Riset UNCTAD juga memperkirakan potensi pendapatan yang hilang akibat larangan pengenaan tarif bea masuk produk digital di tiap negara.

Negara dengan kehilangan potensi pendapatan terbesar adalah India dan China. India kehilangan US$497 juta setiap tahun, sedangkan China kehilangan US$492 juta. Adapun, Indonesia berpotensi kehilangan US$ 54 juta dari pendapatan bea masuk.

Rencana Indonesia, India, dan Afrika Selatan untuk menolak perpanjangan moratorium membuat perusahaan teknologi global kelimpungan. Sebanyak 108 asosiasi perusahaan teknologi, menurut Reuters, termasuk di India dan Indonesia bersurat kepada WTO mendesak adanya pembaruan moratorium. Jika tidak dilakukan, mereka mengatakan terjadi kemunduran untuk WTO dan juga merusak pemulihan global.

John Neuffer, kepala eksekutif Asosiasi Industri Semikonduktor berbasis di Amerika Serikat (AS) menyatakan aliran data bebas tarif penting bagi negara yang ingin menarik investasi asing. Selain juga menawarkan manfaat yang jelas untuk konsumen serta usaha kecil.

"Risikonya adalah jika satu atau dua melakukannya, negara lain akan melakukan hal serupa".


[Gambas:Video CNBC]

(dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading