Waspada 4 Modus Begal Rekening, 5 Menit Uang di Rekening Raib

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
16 June 2022 10:35
Seorang nasabah tengah menggunakan beragam fasilitas yang kini semakin memudahkan transaksi di BNI, baik mesin pencetak rekening koran hingga mesin pembukaan rekening baru (Digital Customer Service) di Jakarta, Rabu (12 Mei 2021). BNI memang tengah mempercepat transformasi digital yang akan semakin memudahkan transaksi nasabah. (Dok. BNI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus pembobolan rekening bank memang tak ada habisnya. Kita sering mendengar banyak modus untuk mengelabui korban dan akhirnya para pelaku berhasil mendapatkan uang dari aksi kejahatannya itu.

Berikut ini beberapa modus yang digunakan dalam pembobolan rekening, dirangkum CNBC Indonesia, Kamis (16/6/2022):

1. Call Forwarding

Salah satu yang digunakan adalah Call Forward, yakni semua panggilan akan tertunju pada nomor ponsel tertentu. Dengan cara ini pelaku akan mengambil alih nomor korban dengan tujuan misalnya membajak akun mobile.


Nomor ponsel diketahui berperan penting untuk proses mobile banking atau payment. Salah satunya pengiriman One Time Password (OTP).

"Kemungkinan besar masalah terjadi karena adanya OTP yang diminta ke korban langsung melalui voice atau SMS ke nomor ponsel ponsel korban Karena kan bisa kita daftar dengan aplikasi di ponsel baru dengan memasukkan nomor dan nomor itu akan dikirimi OTP," ujar Executive Director Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi pada 2020 lalu.

2. Sim Swap

Pelaku akan mengaku menjadi pemilik kartu SIM korban. Lalu akan meminta operator untuk membuat kartu SIM dengan nomor yang sama.

Dari modus ini juga diawali dengan modus phishing yaitu pelaku akan mengelabui korbannya untuk mendapatkan data pribadi. Berikutnya mendatangi operator dan mengaku kehilangan Sim Card, setelah itu mengunduh aplikasi mobile banking.

"Sudah dapat semuanya sehingga akun berhasil dikuasai. Dan ternyata setiap transaksi di bank tersebut hanya perlu OTP [one time password] saja. Saat korban sedang di luar negeri atau dalam jangkauan yang jauh dan sulit untuk bertindak cepat, saat itulah dilakukan transaksi-transaksi yang tidak diketahui korban," jelas CEO & Chief Digital Forensic Indonesia, Ruby Alamsyah.

3. Social Enginnering

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan modus lainnya adalah dengan social engineering atau rekayasa sosial. Ini dilakukan dengan memanipulasi psikologis dan nantinya mengorek informasi pribadi.

Berikutnya informasi akan digunakan untuk kepentingan-kepentingan pelaku kejahatan. OJK mengungkapkan sebelum melakukan kejahatan, pelaku akan berusaha mengintai targetnya.

4. Informasi Data dari Pemilik Data

Selain itu, OJK juga mengatakan kebocoran data pribadi bisa disebabkan dari pemilik data itu sendiri. Mereka dikatakan bisa saja membuka informsi data pribadinya secara sengaja kepada pihak lain dengan alasan apapun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Marak Phising Saat Ramadan, Sekali Klik Link Uang Bisa Lenyap


(npb)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading