'Kiamat' ATM Nyata Adanya, Ini Bukti Terbarunya

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
27 May 2022 08:30
foto/ ATM BCA

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembatasan kegiatan selama pandemi Covid-19 membuat banyak masyarakat mengalihkan kegiatannya menjadi lewat daring. Termasuk mulai menggunakan transaksi online dan meninggalkan anjungan tunai mandiri (ATM) sebagai sarana transaksi sehari-hari.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengungkapkan transaksi ekonomi dan keuangan digital berkembang pesat. Ini terjadi saat peningkatan penerimaan dan preferensi masyarakat juga terus terjadi.

Laporan dari data BI mengungkapkan nilai transaksi digital banking meningkat 45,64% secara tahunan atau menjadi Rp 39.841,4 triliun tahun lalu. Tren peningkatan ini nampaknya akan terjadi lagi pada 2022.


"Nilai transaksi digital banking diproyeksikan tumbuh 24,83% (yoy) mencapai Rp 49.733,8 triliun untuk tahun 2022," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers awal tahun ini.

Sementara itu nilai transaksi uang elektronik per Januari 2022 bertumbuh 66,65% yoy atau Rp 34,6 triliun. Nilai transaksi digital banking juga ikut meningkat mencapai 62,82% atau Rp 4.313,3 triliun.

Data bank sentral juga mengungkapkan transaksi dengan ATM, kartu debit dan kredit memang masih bertumbuh. Namun jumlahnya tidak sebesar transaksi yang terjadi secara digital.

Penggunaan QRIS juga tercatat terus meningkat karena penerimaan masyarakat yang baik. Secara nominal bertumbuh 290% yoy dan volume 326% yoy.

Bank Indonesia terus mendorong inovasi sistem pembayaran serta menjaga kelancaran dan keandalan sistem pembayaran," kata Perry.

Di tahun ini, BI memprediksi nilai transaksi dompet digital akan bertumbuh 17,13% atau Rp 357,7 triliun.

Jika prediksi ini jadi kenyataan, maka semakin banyak orang bertransaksi dengan dompet digital. Sarana konvensional seperti ATM untuk transfer uang, membayar tagihan atau cek saldo akan makin ditinggalkan.

Dari data BI juga menunjukkan jumlah ATM di dalam negeri berkurang dari 2018. Yakni 106.901 mesin tahun 2018, berkurang menjadi 106.649 pada 2019, dan menyusut hingga 99.262 mesin di akhir September 2021 lalu.

Hal serupa juga terjadi pada kartu ATM yang langka beredar di pasaran. BI mencatat pada 2018-2020 mengalami pertumbuhan yakni 8,85 juta (2018), 8,98 juta (2019) dan 9,51 juta (2020).

Namun setelah itu trennya berubah terus menurun, pada November 2021 totalnya menyusut hanya 4,75 juta kartu saja yang beredar di pasaran.

BI juga melakukan perluasan penggunaan QRIS sebagai salah satu upaya akselerasi digitalisasi sistem pembayaran. Bank sentral juga mengharapkan ada puluhan juta orang pengguna baru layanan tersebut.

"Kita akan perluas penggunaan QRIS dengan menargetkan 15 juta pengguna baru pada 2022 melalui kolaborasi dengan industri, kementerian dan lembaga, dan komunitas," kata Perry.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Siap-siap! 'Kiamat' ATM Semakin Dekat, Ini Fakta Terbaru


(npb)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading