Startup SoftBank Ini Mau PHK Karyawan Usai Batal Akuisisi

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
16 March 2022 18:20
ARM SoftBank (REUTERS/Neil Hall)

Jakarta, CNBC Indonesia - Startup yang didanai Softbank, Arm mengumumkan rencananya untuk melakukan PHK massal. Rencana ini muncul setelah kesepakatan akuisisi antara perancang chip asal Inggris dan Nvidia batal beberapa minggu lalu.

Ada sekitar 1.000 pekerjaan atau 15% dari tenaga kerjanya secara global yang mungkin terdampak dari keputusan tersebut. Arm memiliki 6.400 pegawai di seluruh dunia. Dari jumlah itu, setengahnya bekerja di Inggris.

"Seperti bisnis apapun, Arm terus meninjau rencana bisnisnya memastikan perusahaan punya keseimbangan tepat antara peluang dan disiplin biaya," kata juru bicara perusahaan, dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (16/3/2022). "Sayangnya proses tersebut mencakup usulan pengurangan tenaga kerja di seluruh angkatan kerja global Arm".


Dia menambahkan jika usulan tersebut dilanjutkan, ada sekitar 12% hingga 15% orang yang akan terpengaruh nantinya.

Arm diketahui dimiliki Softbank sejak membayar US$32 miliar pada 2016. Berselang empat tahun kemudian atau September 2020, Softbank berencana menjualnya ke raksasa chip asal Amerika Serikat (AS) yakni Nvidia.

Nilai penjualannya senilai US$40 miliar. Namun sayang kesepakatan itu batal pada Februari lalu.

Alasan batalnya kesepakatan karena periode pengawasan ketat dari regulator persaingan di AS, Uni Eropa, China, serta Inggris.

Pada Juli lalu, menurut mantan CEO Arm, Simon Segars, perusahaan mungkin juga akan melakukan PHK jika kesepakatan dengan Nvidia diblokir.

Arm juga direncanakan akan go publik. Pada Februari lalu CEO Softbank, Masayoshi Son mengatakan perusahaan mungkin akan terdaftar di bursa saham Nasdaq.

Namun Softbank juga menghadapi tekanan untuk melakukan dual listing pada perusahaan tersebut.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rencana Nvidia Akuisisi Arm Rp 1.151 Triliun Batal, Ada Apa?


(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading