Mengapa Badai Matahari Jadi Ancaman Satelit?

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
10 February 2022 12:30
This illustration from NASA shows the Parker Solar Probe spacecraft approaching the sun. Launched in August 2018, the spacecraft will get a gravity assist Wednesday, Oct. 3, 2018, as it passes within 1,500 miles of Venus. The flyby is the first of seven that will draw Parker ever closer to the sun. (Steve Gribben/Johns Hopkins APL/NASA via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa waktu mendatang, akan lebih banyak satelit yang rusak atau hancur karena badai Matahari. Seperti puluhan satelit Starlink milik SpaceX yang beberapa waktu lalu hancur karena dihantam badai tersebut.

Badai Matahari ini bukannya jarang terjadi, para ahli cuaca luar angkasa menjelaskan bahwa fenomena ini diperkirakan akan memburuk selama beberapa tahun ke depan.

Matahari memulai siklus matahari 11 tahun baru pada bulan Desember 2019 dan sekarang meningkat ke maksimum matahari yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2025.


"Adapun alasan mengapa badai matahari tidak menjadi masalah besar adalah karena selama tiga hingga empat tahun terakhir, kami telah berada pada apa yang kami sebut 'solar minimum,'" kata ilmuwan peneliti Aerospace Corp Tamitha Skov kepada CNBC Internasional, dikutip Kamis (10/2/2022).

Khususnya, solar minimum baru-baru ini bertepatan dengan lonjakan besar jumlah satelit di orbit rendah Bumi. Sekitar 4.000 satelit kecil telah diluncurkan dalam empat tahun terakhir, dengan sebagian besar beroperasi di orbit rendah.

"Banyak dari usaha komersial ini tidak mengerti seberapa signifikan cuaca antariksa dapat mempengaruhi satelit, terutama satelit kecil ini," terang Skov.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, badai geomagnetik seperti ini berasal dari angin matahari yang dihasilkan oleh aktivitas matahari. Perisai magnet Bumi membuang energi badai matahari ke atmosfer atas planet dan memanaskannya.

Sebagian manusia di Bumi malah sangat menikmatinya dan mereka bahkan tidak menyadarinya, karena yang dilihat adalah aurora.

Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional mengukur badai geomagnetik pada skala keparahan yang meningkat dari G1 hingga G5. Badai yang menghancurkan satelit Starlink pekan lalu diperkirakan adalah G1.

Erika Palmerio seorang ilmuwan peneliti di Predictive Science menjelaskan keduanya terhitung kecil dan cukup umum terjadi sebanyak 1.700 kali dalam siklus matahari 11 tahun.

"G5 adalah badai ekstrim dan yang seperti itu jauh lebih langka. Kami menemukan sekitar empat dari mereka per siklus, "kata Palmerio.

Palmerio menekankan bahwa badai G5 adalah ancaman, seperti jaringan listrik atau operasi pesawat ruang angkasa, tetapi bukan manusia. "Tidak ada risiko bagi manusia di darat dengan badai ini." tutur Palmerio.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Badai Matahari Hantam Bumi, Apa Kabar Kiamat Internet?


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading