Kasus Omicron RI Naik, Nasib Sekolah Tatap Muka Terancam Bun!

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
20 January 2022 08:10
Sejumlah siswa-siswi mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Pondok Labu, Jakarta Selatan, Senin (3/1/2022). Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan kapasitas 100 persen di seluruh sekolah mulai hari Senin (3/1). Relaksasi kebijakan ini sesuai dengan kondisi PPKM Level 1 yang diterapkan di Jakarta. Kepala bidang kesiswaan SD 01 Muhamad Nasir mengatakan, kebijakan tersebut merefleksikan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang diputuskan pada 21 Desember 2021. SKB dengan Nomor Nomor 05/KB/2021, Nomor 1347 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/6678/2021, Nomor 443-5847 Tahun 2021 berisi tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. Meski dibuka 100 persen, Sekolah mewajibkan semua warga sekolah untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Terlebih lagi bagi mereka yang belum divaksinasi. Kebijakan PTM juga disambut baik bagi orang tua murid, Yulia salah satu orang tua murid kelas 2 mengatakan senang setelah dibuat PTM 100%.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan kasus Covid-19 berpotensi terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. Lalu bagaimana nasib Pembelajaran Tatap Muka (PTM)?

Sebagai informasi sejumlah sekolah sudah melakukan PTM full atau 100% pada daerah PPKMĀ level 1 dan 2. Namun hal ini dikhawatirkan berpotensi menjadi penularan Covid-19.

Beberapa waktu lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyuarakan kekhawatirannya. Sebab ada 10 sekolah di Jakarta yang mengadakan PTM 100% dan akhirnya ditutup sejak 3 Januari 2022.


Kasus yang terjadi di sekolah tersebut memang bukan berasal dari Omicron. Namun Komisioner KPAI, Retno Listyarti mengatakan hal ini tidak bisa disepelekan.

Perlu diingat, bahwa pola penularan dari Covid-19 di antaranya adalah kerumunan dan sulit jaga jarak. PTM 100% dengan kapasitas 100% siswa sangat berpotensi karena bersama-sama berada dalam satu ruangan tertutup selama waktu yang cukup lama (sekitar 3-5 jam). Anak-anak sangat rentan tertular dan menularkan," jelas Retno, belum lama ini.

Masalah ini disebut sudah diprediksi oleh KPAI. Alasannya karena anak-anak di sekolah dasar (SD) belum mendapatkan vaksinasi lengkap dua dosis dan ada potensi penularan usai libur Natal dan Tahun Baru.

Karena hal tersebut, Retno mengatakan KPAI mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengevaluasi kebijakan PTM. "KPAI mendorong Pemprov DKI Jakarta melakukan evaluasi menyeluruh, mempelajari pola kerentanan dan nasal penularan, sehingga dapat diantisipasi penyebarannya," ungkapnya.

Lembaga itu merekomendasikan sebaiknya PTM di DKI Jakarta dilakukan 50%. Kebijakan tersebut bisa dipertahankan sampai kondisi dinilai lebih aman untuk pelaksanaan PTM.

Terkait pelaksanaan PTM juga jadi pembahasan saat Kementerian Kesehatan rapat bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (18/1/2022). Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menjelaskan mengenai aturan kegiatan PTM.

Menurutnya kondisi PTM di sekolah dilaksanakan sesuai dengan level wilayah tersebut. Sebagai contoh, level 3 hanya diperbolehkan melaksanakan pembelajaran 50% saja.

"Ada aturannya PTM, turun level 3 harus 50%, ada level vaksinasi minimum harus dicapai. Risiko lebih tinggi otomatis turun ke 50% bisa 0% kalau sudah level 4," jelas Budi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Lengah, Simak Nih Studi-studi Terbaru Soal Omicron


(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading