Virus Covid Paling Menular, Kraken Diduga Sudah Ada di RI

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
18 January 2023 08:25
Pengunjung pusat perbelanjaan juga terlihat di Pondok Indah Mall 1 pada (2/1/2023). Meskipun PPKM telah dicabut para pengunjung mall tetap mematuhi peraturan dengan menggunakan masker saat berkeliling mall. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Pengunjung pusat perbelanjaan juga terlihat di Pondok Indah Mall 1 pada (2/1/2023). Meskipun PPKM telah dicabut para pengunjung mall tetap mematuhi peraturan dengan menggunakan masker saat berkeliling mall. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Covid varian Omicron XBB.1.5 atau juga dikenal dengan Virus Kraken, diperkirakan sudah masuk ke Indonesia.

Hal tersebut diungkap oleh Epidemiolog Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia. Ia memperingatkan adanya kemungkinan masuknya subvarian tersebut ke Indonesia.

Apalagi saat ini mobilitas sudah meningkat seperti sebelum pandemi. Masuknya Omicron XBB.1.5 tentu sulit dihindari.

"Kemungkinan besar sudah terdeteksi ya [di Indonesia], terutama provinsi atau kota yang memiliki jalur penerbangan internasional," kata Dicky kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (18/1/2023).

"Itu bukan hal yang aneh dalam konteks konektivitas pascapembukaan banyak pelonggaran-pelonggaran di berbagai negara pada pertengahan tahun 2022 lalu," imbuhnya.

Dari data ilmiah terkini, XBB.1.5 memiliki kemampuan yang jauh lebih kuat dan super dalam menginfeksi orang yang terjangkit.

Menurutnya subvarian Omicron ini mungkin tidak akan memicu gejala berat, tetapi pasien yang sudah tertular berisiko tinggi mengalami long Covid-19.

Kraken disebut oleh Dicky dapat menyebabkan kerusakan organ-organ, dampak jangka menengah maupun jangka panjang bagi mereka yang terinfeksi.

"Kemampuan untuk ada di sel tubuh manusia jauh lebih kuat, lebih lama. Artinya ada potensi lebih besar yang dibawa oleh infeksi XBB.1.5 ini untuk menyebabkan long covid," tutur Dicky.

Di sisi lain, sama seperti semua subvarian Omicron, XBB 1.5 mampu menerobos antibodi yang semakin efektif.

"Jadi karena apa yang dihadapi oleh saat ini oleh dunia dan Indonesia, bukan bicara kematian keparahan lagi tapi bicara masalah dampak serius dari penyakit virus Covid ini dalam jangka panjang," tuturnya.

Ia mengatakan untuk berpikir strategis di bidang kesehatan, berpikirnya tidak boleh untuk jangka pendek.

Sebab bicara penyakit ini bagaimana dampaknya kepada manusia dalam jangka panjang yang harus menjadi pemikiran strategis baik pemerintah maupun masyarakat.

Pemimpin teknisCovid-19 WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan bahwa XBB.1.5 adalah subvarian Covid yang paling menular hingga saat ini. Para ilmuwan percaya,penyebaran XBB.1.5 sangat cepat karena ia mengelak dan mengikat lebih erat ke sel manusia, membuatnya lebih menular.

"Ini adalah subvarian yang paling menular yang telah terdeteksi," kata Van Kerkhove dalam konferensi pers 4 Januari di Jenewa, dikutip dari CNBC Internasional.

"Alasan untuk ini adalah mutasi yang ada di dalam subvarian omicron ini yang memungkinkan virus ini menempel pada sel dan bereplikasi dengan mudah," imbuhnya.

Dalam analisisnya, WHO menyatakan kajian soal tingkat keparahan virus masih berlangsung. Namun, virus XBB.1.5 dipastikan tidak membawa mutasi yang terkait potensi tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi.

WHO mengatakan XBB.1.5 adalah salah satu subvarian Covid yang paling lincah menghindari kekebalan dari vaksinasi. Cara dia menghindar sama dengan kekebalan seperti subvarian lain di keluarganya, XBB.1.

Organisasi kesehatan global itu mengatakan XBB.1.5, saat ini masih menjadi varian dominan di Amerika Serikat. XBB.1.5 dapat menyebabkan peningkatan kasus secara global, tetapi sulit untuk mengetahui secara pasti karena hampir semua data berasal dari AS.

Agar terhindar dari dampak terburuk dari Covid-19, masyarakat diminta tetap waspada dan mengenali gejala awal dari penularan virus Corona.

Gejala awal Covid-19

Zoe Health Study melaporkan beberapa gejala yang dialami mereka yang positif Covid-19. Beberapa diantaranya masih mencakup gejala seperti sakit tenggorokan, pilek, hingga berubahnya indera penciuman.

Berikut daftar gejala yang dilaporkan Zoe Health Study:

  • sakit tenggorokan
  • pilek
  • hidung tersumbat
  • bersin
  • batuk tanpa dahak
  • sakit kepala
  • batuk berdahak
  • suara serak
  • sakit otot dan nyeri
  • indra penciuman yang berubah


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Muncul Gejala di Mata? Fix! Anda Bisa Kena Covid Varian Baru


(dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading