Ngeri! 'Vampir' di Luar Angkasa, 'Hisap' Darah Para Astronot

Tech - Eqqi Syahputra, CNBC Indonesia
16 January 2022 11:40
This photo released by Xinhua News Agency shows a screen at Beijing Aerospace Control Center showing astronaut Liu Boming stepping out of core module of the China's new space station in space on Sunday, July 4, 2021. Two astronauts made the first space walk on Sunday outside China's new orbital station to work on setting up a 15-meter (50-foot) long robotic arm. (Jin Liwang/Xinhua via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kehilangan darah selama di luar angkasa telah menjadi sesuatu yang sudah diketahui secara umum oleh para ilmuwan sejak misi pertama manusia ke luar angkasa. Akan tetapi hingga saat ini belum ada penjelasan ilmiah kenapa hal itu terjadi masih menjadi misteri.

Baru-baru ini, para ilmuwan kembali berusaha mengungkap misteri vampir luar angkasa yang memusnahkan 50% sel darah merah astronot selama bertugas di International Space Station (ISS). Berdasarkan penelitian ini, 3 juta sel darah merah astronot dapat hancur selama berada di luar angkasa.

Penelitian tersebut juga termasuk sebuah studi kecil yang dilakukan Universitas Ottawa terhadap 14 astronot, termasuk Tim Peake dari Inggris pada masa tinggal enam bulan di Stasiun Luar Angkasa Internasional.Penelitian ini telah membuka lebih banyak kebenaran vampir ini.


Mereka menggunakan sampel darah dan napas yang diambil selama misi mereka, para peneliti dapat mengukur kehilangan sel darah merah. Sel-sel ini membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh.

"Studi kami menunjukkan bahwa setelah tiba di luar angkasa, lebih banyak sel darah merah yang dihancurkan, dan ini berlanjut selama misi astronot," kata Dr Guy Trudel, peneliti utama dan dokter rumah sakit seperti dikutip BBC, Minggu (16/1/2022).

Saat berada di luar angkasa, karena tidak memiliki bobot, hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi saat kembali ke Bumi, ini berarti astronot telah mengurangi massa tulang dan kekuatan otot yang menghasilkan para astronot merasa sangat lelah.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tiga juta sel darah merah hancur per detik di luar angkasa, dibandingkan dengan dua juta di terra firma. Untungnya, tubuh manusia secara alamiah bisa mengimbanginya. Jika tidak, astronot akan menjadi sangat sakit di luar angkasa.

Meski begitu, para peneliti tidak yakin berapa lama tubuh dapat terus-menerus memperbaiki dirinya sendiri, terutama jika berada di luar angkasa untuk misi yang panjang. Bahkan ketika astronot dalam penelitian ini kembali hidup dengan gravitasi, tidak ada perbaikan cepat, dan setahun kemudian mereka masih ditemukan kehilangan sel darah merah pada tingkat yang lebih tinggi.

Untungnya, sejumah fungsi vital mereka tetap dapat berjalan secara normal.

"Jika kita dapat mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan anemia ini, maka ada potensi untuk mengobati atau mencegahnya, baik untuk astronot maupun pasien di Bumi ini," tutur Dr. Trudel.

Selain itu, temuan lain yang didapat dari studi Marrow, yang diterbitkan di Nature Medicine, menemukan bahwa orang yang akan mengambil bagian dalam misi luar angkasa ke planet yang jauh perlu menyesuaikan pola makan mereka untuk menghasilkan lebih banyak zat besi, serta makan lebih banyak kalori untuk energi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

SpaceX Berhasil Bawa Empat Astronaut Amatir ke Luar Angkasa


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading