Alert! Gletser Himalaya Mencair Cepat, Wilayah Asia Terancam

Tech - Novina Putri, CNBC Indonesia
22 December 2021 13:40
Ice coats a cave in the Eagle Glacier on Sunday, Feb. 14, 2021, in Juneau, Alaska. The glacier is remote, and one way to access it involves a 5.5 mile hike on a rugged trail to a public use cabin followed by lake crossings. (AP Photo/Becky Bohrer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gletser di Himalaya dikabarkan mencair dengan cepat akibat pemanasan global. Kejadian ini disebut bakal berdampak pada pasokan air di wilayah Asia dan mengancam masyarakat di sana.

Ini terungkap dalam studi yang diterbitkan dalam Scientific Reports. Studi ini dipimpin oleh para peneliti dari University of Leeds School of Geography Inggris.

Dilaporkan jika Gletser Himalaya kehilangan es 10 kali lebih cepat selama beberapa dekade terakhir dibandingkan rata-rata ekspansi gletser besar terakhir pada 400-700 tahun lalu atau zaman es kecil.


Tim peneliti menemukan 14.798 gletser Himalaya telah hilang 40% dibandingkan saat zaman es kecil.

"Temuan kami menunjukkan es sekarang hilang dari gletser Himalaya pada tingkat setidaknya 10 kali lebih tinggi dari rata-rata selama beberapa abad terakhir," kata rekan penulis dari University of Leeds, Jonathan Carrivick, dikutip dari The Hindustan Times, Rabu (22/12/2021).

"Percepatan dalam tingkat kerugian ini hanya muncul dalam beberapa dekade terakhir, dan bersamaan dengan perubahan iklim oleh manusia".

Studi menyebutkan Himalaya Timur lebih sensitif pada pemanasan. Area itu juga mengalami penyusutan gletser, dikatakan tim peneliti adalah gletser di Nepal Timur dan Bhutan.

Tim peneliti menambahkan jumlah dan ukuran dana glasial mengalami peningkatan. Ini membuat massa gletser hilang lebih cepat.

Ahli glasiologi di Pusat Perubahan Iklim Divecha Institut Sains India, Anil Kulkarni mengatakan gletser dengan cepat akan tetap menyusut. Diperkirakan bencana ini akan terjadi hingga pertengahan abad mendatang.

Setelah itu, limpasan gletser akan berkurang karena area yang berkurang. "Ini akan berdampak pada musim keberadaan air dan ketersediaan total air di wilayah itu," kata dia.

Pada Juni 2020 lalu, studi komprehensif soal perubahan iklim di India dari Kementerian Ilmu Bumi mengatakan Hindu Kush Himalaya tercatat mengalami kenaikan suhu hingga 1,3 derajat celcius. Kejadian berlangsung lebih dari 60 tahun yakni 1951 hingga 2014.

Tren penurunan mengenai hujan salju dan gletser terjadi di beberapa daerah Himalaya Hindi Kush.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ancaman Seram, Dunia akan Menjadi Seperti Zaman Roma Kuno


(npb/npb)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading