Metaverse Mau Berkembang di Indonesia? Ini Syaratnya

Tech - Lalu Rahadian, CNBC Indonesia
16 December 2021 15:47
Direktur Utama Shinta VR, Andes Rizky

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembangan teknologi Metaverse atau dunia virtual tiga dimensi diprediksi akan semakin pesat terjadi ke depannya termasuk di Indonesia. Akan tetapi, secara konsep teknologi Metaverse ternyata sudah ada sejak periode 1980-an silam.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama Shinta VR Andes Rizky pada Program Tech Outlook 2021 CNBC Indonesia bertema 'Virtual Reality dan Kontribusi Terhadap Ekonomi', Kamis (16/12/2021). Menurut Andes, konsep Metaverse di zaman dulu muncul dengan istilah lain.

"Dulu sempat ada (istilah) immersive technology, kemudian ada VR, AR. Di industri ini kita bisa bergabung dengan konten-konten digital. Bedanya, kalau VR kita sebagai manusia 'nyemplung' ke dunia digital. Di AR, dunia digital 'nyemplung' ke dunia kita. Kalau Metaverse, semua yang bisa kita lakukan ya ada di sana dan semua akan bercampur atau mixing. Makanya ada juga istilah VR, AR, dan Mix Reality, nah itu yang akan terjadi di Metaverse," kata Andes.


Dia menambahkan dasar terciptanya dunia Metaverse adalah teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR). Tanpa kedua teknologi itu, dunia virtual 3D tak akan tercipta. Nantinya, dalam dunia Metaverse manusia bisa merasakan sensasi berinteraksi seperti di dunia nyata. Bedanya, semua pengalaman akan terjadi di dunia maya.

Menurut Andes, saat ini sudah ada beberapa teknologi atau gim yang menerapkan teknologi semi-Metaverse. Gim-gim tersebut umumnya adalah permainan yang menyediakan ruang bagi pemain untuk berinteraksi di dunia buatannya.

Pada dunia Metaverse yang sebenarnya, pengguna internet nanti bisa merasakan pengalaman interaksi dan aktivitas di dunia nyata secara digital. Contohnya, masyarakat bisa melihat pesan yang masuk ke telepon selulernya saat berada di dalam dunia Metaverse.

"Metaverse ada kapasitas maksimalnya. Kalau produk dari kami untuk Human Development, itu kami batasi hanya 20-50 orang yang bisa berada di satu ruangan. Ke depannya pasti bisa ditingkatkan kemampuan untuk menampung sampai ratusan orang," ujarnya.

Meski sudah di depan mata, tapi pengembangan dunia Metaverse di Indonesia masih menemui sejumlah tantangan. Salah satunya, Andes berkata ada hambatan karena tingginya harga alat yang dibutuhkan untuk membuat fundamental dari Metaverse, yaitu VR dan AR.

Selain itu, Shinta VR juga menyoroti tantangan untuk membuat adopsi dunia Metaverse bisa merata dan mudah diakses masyarakat. Meski begitu, dalam mengembangkan teknologi VR selama ini, Shinta VR sudah menemukan cara untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.

"Dari semua tantangan itu ada dua irisan agar kami bisa hadapi. Pertama, fitting-nya di mana. Misalnya, sekolah itu kita harus tahu kebutuhan dan bujet mereka, kemudian kami berikan (produk/layanan) sesuai hal itu dan dengan value lebih tinggi dari ekspektasi mereka. Kedua, kita di Indonesia kuat di komunitas. Ini salah satu kekuatan yang kurang dimiliki negara lain dan menjadi bantuan kami hadapi tantangan itu," ujarnya.

Andes juga berkata, pengembangan VR dan Metaverse di Indonesia harus disesuaikan dengan infrastruktur telekomunikasi yang ada. Produk dan layanan yang akan dikeluarkan harus memerhatikan aspek tersebut, agar bisa berjalan optimal dengan kecepatan internet rata-rata di Indonesia.

Menurutnya, dalam dunia Metaverse nanti segala kemungkinan bisa terjadi, bahkan pada hal-hal yang mungkin sulit dilakukan di dunia nyata. Dalam kurun lima tahun ke depan, Andes memprediksi pengembangan dunia Metaverse atau pemanfaatan VR dan AR secara lebih optimal di Indonesia bisa dilakukan pada sektor pendidikan, SDM, dan hiburan.

"Tentu isunya nanti adalah limitasi privasi dan harus dilindungi itu privasi. Tapi bayangkan, nanti kita bisa bikin properti di sana, bikin konser, demo masak, dan segala macam kegiatan. Itu nanti bisa dikoneksikan juga dengan commerce yang ada sekarang. Yang paling possible di Indonesia dalam kurun lima tahun ke depan tetap di sektor edukasi dan human development," kata Anders.

"Kalau di entertainment lebih ke arah pariwisata. Indonesia ini punya banyak pulau, budaya, makanan, bayangkan kalau itu bisa dijadikan dan dikumpulkan di satu dunia Metaverse Indonesia. Nanti kita bisa kenalkan semua budaya kita di situ," tambahnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mungkinkah Menggabungkan Dunia Nyata & Virtual?


(rah/rah)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading