OJK Ungkap Ancaman Besar Perbankan Zaman Now, Apa Itu?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
23 September 2021 18:00
Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo (Syahrizal Sidik/CNBC Indonesia).

Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir semua sektor melakukan migrasi ke digital, termasuk industri perbankan. Namun ada sejumlah tantangan yang harus dirasakan bagi bank itu sendiri.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK, Slamet Edy Purnomo mengatakan salah satunya adalah soal perlindungan data pribadi. Ini menjadi masalah sebab Indonesia belum memiliki aturan terkait Perlindungan Data Pribadi.

"Sampai sekarang kita juga belum memiliki UU Perlindungan Data Pribadi. Kita harus memperhatikan hal-hal resiko pribadi masyarakat," kata Slamet dalam virtual seminar LPPI: Mengelola Risiko Siber Dalam Industri Digital, Kamis (23/9/2021).


Dia juga menyebut ada resiko kebocoran data pengguna dengan transformasi digital. Slamet menyebutkan perlu adanya kolaborasi antar instansi, terutama dengan Bareskrim.

Soal keamanan ini menjadi pekerja rumah bersama, yakni mencegah dan memitigasi untuk kejahatan bisa seminimal mungkin, ungkap Slamet.

Dalam kesempatan yang sama Edit Prima, Direktur Keamanan dan Sandi Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata BSSN menyebut dua tahun terakhir sektor perbankan sering terkena serangan siber secara global. Kemungkinan karena sektor ini paling masif dalam melakukan transformasi digital.

"Masifnya akan semakin membuka peluang pelaku-pelaku kejahatan melakukan ancaman," ungkapnya.

Dia menjelaskan beberapa kasus menggunakan teknis seperti social engineering, sim swab dan juga phishing, Selain itu insiden siber juga terjadi dalam bentuk seperti malware, phishing, pencurian dara dan juga DDOS.

Menurutnya untuk mitigas resiko keamanan perlu mengenali resiko yang ada dan menerapkan resiko. Pihak perbankan biasanya telah paham mengenai manajemen resiko yakni dengan melihat aset yang dimiliki baik individu dan institusi.

"Dari aset-aset kira-kira menjadi kelemahan dan kerentanan, setelah itu kita perhitungan ancaman apa yang seadainya kelemahan yang kita punya menjadi resiko," jelas Edit.

Dia menekankan untuk menerapkan manajemen resiko. Dengan memahami apa yang jadi kelemahan dan ancaman setelah berhitung resiko yang ada.

" Baru berhitung resiko menjadi insiden bagaimana kita menanggapi dan merespon dan melakukan recovery insiden terjadi," kata Edit.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading