Vaksin Moderna Diklaim Lebih Baik dari Pfizer, Butuh Booster?

Tech - roy, CNBC Indonesia
05 August 2021 18:25
A Palestinian medic displays a vial of the Moderna COVID-19 vaccine, at the health ministry, in the West Bank city of Bethlehem, Wednesday, Feb. 3, 2021. The Palestinian Authority has administered its first known coronavirus vaccinations after receiving several thousands of doses of the Moderna vaccine from Israel. The Pfizer-BioNTech and AstraZeneca vaccines will be provided in the coming weeks through COVAX, a World Health Organization program designed to help poor countries acquire vaccines. (AP Photo/Nasser Nasser)

Jakarta, CNBC Indonesia - Moderna Inc mengklaimĀ vaksin Covid-19 buatannya memiliki efektivitas 93% dalam empat hingga enam bulan setelah suntikan dosis kedua. Hal ini menunjukkan kemanjuran vaksin Moderna tidak banyak berubah dari efikasi awal yang mencapai 94% melawan Covid-19.

Klaim ini lebih baik dibandingkan dengan data yang dirilis pesaingnya, Pfizer-BioNTech yang menunjukkan penurunan kemanjuran vaksin sebesar 6% setiap dua bulan dan menjadi 84% enam bulan setelah dosis kedua disuntikkan.

"Kami sangat senang bahwa kemanjuran vaksin Covid-19 kami stabil di 93% dalam empat hingga enam bulan," ujar Chief Executive Moderna Stephane Bancel, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (5/8/2021). "Durasi yang kuat ini akan menguntungkan ratusan juta orang yang telah disuntikkan vaksin Moderna."


Moderna mengungkapkan dalam studi yang sedang berlangsung ini, tiga kandidat booster berbeda yang digunakan menginduksi respons antibodi yang kuat terhadap varian yang menjadi perhatian. Ini termasuk varian Gamma, Beta, dan Delta.

Efektivitas vaksin yang bertahan lama diartikan penerimanya mungkin akan lebih lama menerima suntikan booster atau dosis tambahan untuk meningkatkan antibodi untuk mempertahankan tubuh dari infeksi Covid-19.

Kehadiran Covid-19 varian delta telah memunculkan perdebatan para ahli apakah perlu memberikan booster atau vaksin dosis tambahan agar tubuh lebih baik dalam melawan varian delta. Maklum, varian yang pertama kali ditemukan di India ini sangat cepat menular dan bisa membuat penderita perlu dirawat di rumah sakit.

Informasi saja, vaksin menghadirkan dua sistem kekebalan dalam melawan virus. Yakni, antibodi yang biasa menurun seiring waktu dan sel-T yang memberikan perlindungan dari penyakit parah, dan juga memberi daya tahan.

Sel-T merupakan sejenis sel darah putih yang memainkan peran berbeda dalam mempertahankan tubuh melawan virus yang menyerang. Antibodi mencegah virus menyerang sel tetapi tidak bertahan selama sel-T.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading