Cerita Menkes BGS Heran Sempat tak ada Varian Delta Cs di RI

Tech - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
02 August 2021 14:37
Infografis/Ini Varian-Varian Covid-19 Ganas yang Telah Ditemukan/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin buka-bukaan perihal penanganan pandemi Covid-19 dari aspek bioinformatika, terutama yang berkaitan dengan whole genome sequencing (WGS). Pemeriksaan WGS krusial untuk mengetahui mutasi virus corona penyebab Covid-19.

Dalam taklimat media virtual pada, Senin (2/8/2021), BGS, sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin, bercerita tatkala menjadi menteri kesehatan per Desember 2020, belum ada laporan perihal varian alfa, beta, hingga delta.

"Itu nggak ada. Ya heran juga saya kenapa itu nggak ada. Banyak yang bilang kalau Indonesia itu disayang oleh Allah. Tapi saya herannya kok Singapura ada, Malaysia ada, Filipina ada, Australia ada," ujarnya.

"Rupanya kita baru melakukan WGS itu 140 tes sembilan bulan terakhir dari Maret sampai dengan Desember. Sehingga kita sadar itu kurang. Karena Singapura saja mungkin sudah melakukannya berapa ribu tes waktu itu. Inggris sudah puluhan ribu tes. Jadi kita lihat kurang nih kita nih," lanjutnya.

Oleh karena itu, mulai Januari 2021, BGS menandatangani nota kesepahaman dengan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional saat itu Bambang Brodjonegoro untuk membentuk jejaring laboratorium yang bisa melakukan WGS. Sebab, tidak banyak laboratorium yang mampu melakukan WGS lantaran proses yang sulit serta biaya yang mahal.

"Itu hanya bisa dilakukan oleh lab-lab di Kemenkes dan Kemenristek/BRIN. Sehingga kita bikin kerja samanya. Nah sekarang kita sudah tes, sudah bangun kapasitas itu dan sebulan bisa seribu lebih. Sekarang sudah 3.917 dalam tujuh bulan dibandingkan dengan dulu sembilan bulan 140. Nah akibatnya keluar varian-varian tersebut. Keluarnya yang di atas itu," kata BGS.

Berikut data terbaru WGS yang dilakukan pemerintah:



Sekuens SARS-CoV-2Foto: Tangkapan Layar Youtube Kementerian Kesehatan



Setelah itu, BGS mengungkapkan kalau data-data itu dimasukkan ke dalam GISAID. Dari sana terlihat pergeseran populasi virus corona yang ada di Indonesia.

"Tapi dari sini kelihatan bahwa virus mana yang lebih kuat 'premanismenya', paling kuat 'premanismenya' dia akan mengalahkan preman-preman yang lain dan menguasai daerah itu. Kalau kita lihat memang yang delta itu cepat sekali bisa menguasai daerah kita. Dan teman-teman tahu kan bukan hanya di Indonesia, AS sekarang kan naik jadi 122 ribu per hari yaitu gara-gara varian delta," ujar BGS.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading