Bill Gates Ungkap Bahaya di Balik Booming Uang Kripto-Bitcoin

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
22 April 2021 04:00
A cryptocurrency mining computer equipped with high-end graphic cards is seen on display at a computer mall in Hong Kong, China January 29, 2018. Picture taken January 29, 2018.  REUTERS/Bobby Yip

Jakarta, CNBC Indonesia - Uang kripto seperti Bitcoin dan Dogecoin kini jadi buah bibir. Pasalnya, reli harga uang kripto menciptakan orang kaya baru. Namun booming cryptocurrency ini memberikan ancaman pada Bumi.

Ancamannya berupa meningkatnya pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change). Untuk menghasilkan Bitcoin dibutuhkan komputer mumpuni untuk memecahkan teka-teki matematika rumit dan konsumsi listrik yang tinggi.

Sayang untuk menghasilkan listrik banyak pembangkit listrik masih menggunakan bahan bakar fosil yang menghasilkan karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke udara. Dampaknya Bumi semakin panas dan membuat perubahan iklim.


"Bitcoin menggunakan lebih banyak listrik daripada metode lain yang dikenal umat manusia. Ini bukan masalah iklim yang baik," " ujar Bill Gates dikutip dari Fox Business, Kamis (22/4/2021).

Konsumsi listrik untuk penambangan Bitcoin memang luar biasa. Berdasarkan riset Universitas Cambridge mencapai 121,6 terawatt-hour (TWh). Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dari pengguna listrik bahkan dalam satu negara. Misalnya di Argentina 121 TWh dan Belanda sebanyak 108TWh.

Namun Bill Gates tak menyerah begitu saja. Dia mengatakan jika pencipta Bitcoin dapat menggunakan energi terbaru kan kemungkinan tidak ada masalah ke depannya.

"Jika (penciptaannya) menggunakan listrik ramah lingkungan dan tidak mengurangi kegunaan lainnya, mungkin tidak apa-apa," ungkapnya.

Bill Gates merupakan salah satu orang terkaya di dunia yang memberikan perhatian besar kepada perubahan iklim. Dalam blog pribadinya pada Agustus 2020, ia menyebutkan dampak yang dihasilkan perubahan iklim lebih mematikan ketimbang pandemi Covid-19.

Dalam catatannya hingga Agustus 2020 ada 14 kematian dari 100.000 orang karena Covid-19. Dalam 40 tahun mendatang diproyeksi angka yang sama akan terjadi karena perubahan iklim.

Pada akhir abad ini, jika pertumbuhan emisi tetap tinggi, perubahan iklim dapat menyebabkan 73 kematian tambahan per 100.000 orang. Dalam skenario emisi yang lebih rendah, angka kematian turun menjadi 10 per 100.000.

"Dengan kata lain, pada 2060, perubahan iklim bisa sama mematikannya dengan COVID-19, dan pada 2100 bisa lima kali lebih mematikan," tulis Bill Gates dalam blognya.

Perubahan iklim juga akan berdampak pada kesengsaraan ekonomi. Dalam satu atau dua dekade mendatang jika emisi karbon tetap tinggi kemungkinan besar dampaknya separah pandemi seukuran Covid-19 setiap 10 tahun. Pada akhir abad ini, akan jauh lebih buruk jika emisi tetapi tinggi.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading