Ada Usul Paspor Vaksin untuk Berwisata, Cek Kata Epidemiolog

Tech - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
16 April 2021 05:30
Bali buka kunjungan wisatawan domestik. (AP Photo/Firdia Lisnawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Belakangan beredar adanya wacana kebijakan orang yang sudah melakukan vaksinasi Covid-19 diperbolehkan bebas untuk bepergian. Sejumlah epidemiolog memandang hal ini sangat berbahaya jika dilakukan.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Hariadi Wibisono menjelaskan vaksinasi melindungi diri sendiri setelah tercipta atau terbentuk jumlah antibodi yang memadai. Namun protective level setiap orang berbeda, baik dalam waktu dan kadarnya.

Sehingga orang yang sudah divaksin dan kebal masih bisa terpapar virus corona, walaupun yang bersangkutan tidak sakit. Bahkan masih bisa menularkan orang yang belum divaksin.


"Vaksinasi tidak menggantikan protokol kesehatan. Traveling yang ditakutkan adalah berkumpul tanpa pengaman, jadi bukan travelingnya tapi resiko terjadinya kerumunan sehingga meningkatkan resiko penularan," ujar Hariadi kepada CNBC Indonesia, Kamis (15/4/2021).

Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan efikasi vaksinasi Covid-19 saat ini baru bisa menjamin 60% sampai 70% saja.

"Jadi tidak menjamin orang yang sudah divaksin itu bisa terbebas dari virus corona. Itu pemikiran yang salah dan kalau itu diterapkan keluar dari kaidah kesehatan," ujarnya kepada CNBC Indonesia.

Senada juga disampaikan oleh Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman. Dia menjelaskan orang sudah lengkap melakukan vaksinasi dan boleh traveling itu tidak tepat atau salah kaprah.

Pasalnya yang sudah divaksin bukan berarti bebas untuk berpergian, saat ini orang sudah divaksin dan mereka yang belum membatasi mobilitas masih ada. Dikhawatirkan dengan adanya varian virus corona baru, bisa menginfeksi orang yang sudah pulih maupun yang sudah divaksin.

"Sudah divaksin bukan berarti izin untuk bepergian, vaksinasi artinya bukan untuk kebebasan bepergian, tidak," tuturnya.

"Mau yang sudah divaksin pun bisa terinfeksi, hanya saja yang sudah divaksin ini tidak fatal dan tidak sampai masuk ICU. [...] Bisa sakit, bisa menularkan," ujarnya lagi.

Bisa dikatakan, orang yang sudah divaksin dan memiliki proteksi lebih benar dan kecenderungan untuk menjadi parah bisa dibilang tidak ada. Tapi seharusnya tidak bisa dijadikan salah satu 'paspor' bebas bepergian.

"Paspor vaksin itu cenderung berbahaya, karena memberikan pemahaman yang salah. Seolah-olah yang sudah vaksin kebal, tidak. Dalam kondisi saat ini kita belum memiliki satu vaksin yang efektif dalam segala varian virus," jelasnya.

"Artinya harus di booster dan itu sudah membuat kondisi vaksin ini tidak bisa 100% dijadikan rujukan," pungkasnya.

Begitu juga disampaikan oleh Epidemiolog dari Universitas Airlangga Laura Navika Yamani. Menurut Laura orang yang sudah tervaksinasi belum tentu tidak akan terinfeksi dengan Covid-19. Karena kemungkinan terinfeksi maupun menularkan masih tetap ada.

"Sehingga, jangan sampai pemahaman masyarakat menjadi keliru terkait dengan adanya pembebasan melakukan traveling, karena sudah divaksin."

"Yang tepat adalah orang tersebut (yang sudah divaksin) harus tetap berdisiplin menjalankan protokol kesehatan sampai pandemi terkendali di Indonesia," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading