Kian Diterima Pasar, Bitcoin Berisiko Picu Krisis Keuangan?

Tech - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 March 2021 19:34
BUYING POWER: A Bitcoin sign in a window in Toronto, May 8, 2014.  REUTERS/Mark Blinch

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang kripto, bitcoin, kembali mendapat angin segar yang bisa membuatnya diterima semakin luas. Salah satu bank raksasa Amerika Serikat (AS), Morgan Stanley, dalam layanan wealth management, menawarkan akses ke bitcoin kepada para nasabah yang kaya raya.

Kabar tersebut dilaporkan CNBC International Rabu (17/3/2021) yang mengutip dari seorang sumber yang menolak untuk dipublikasikan indentitasnya.

Meroketnya harga bitcoin memang menarik perhatian bank-bank besar di Negeri Paman Sam. Apalagi setelah investor institusional hingga perusahaan besar semacam Tesla mulai masuk pasar bitcoin.


Namun, Morgan Stanley menjadi bank besar pertama di AS yang memberikan layanan bitcoin ke nasabahnya. Meski tidak semua nasabah, bahkan yang kaya, bisa mendapatkan layanan tersebut. Morgan Stanley baru akan memberikan akses kepada nasabah dengan "toleransi risiko yang agresif" yang memiliki dana yang dikelola perusahaan minimal US$ 2 juta.

Selain itu, Morgan Stanley juga menerapkan aturan yang ketat, investasi di bitcoin dibatasi maksimal 2,5% dari dana yang dimiliki.

Harga bitcoin pada perdagangan kemarin menguat lebih dari 2% ke US$ 57.725,64/BTC, dan berlanjut naik 1% lebih hari ini. Sementara rekor tertinggi sepanjang masa berada di US$ 61.780,63/BTC yang dicapai pada Sabtu 13 Maret lalu.

Jika langkah Morgan Stanley diikuti bank besar lainnya, bukan tidak mungkin harga bitcoin akan terus melesat memecahkan rekor tertinggi baru.

CEO Pantera Capital, Dan Morehead, memprediksi harga bitcoin kini menuju US$ 115.000/BTC di bulan Agustus nanti. Prediksi tersebut diberikan pada April 2020 lalu, saat harga bitcoin masih di bawah US$ 9.000/BTC.

"Bitcoin saat ini menuju target yang kami berikan pada April 2020 lalu, yakni di US$ 115.000/BTC di musim panas tahun ini," kata Morehead dalam sebuah rilis yang dikutip CoinDesk, Kamis (17/3/2021).

Selain menimbulkan euforia di pasar finansial, bitcoin juga masih menuai kontra. Masih banyak tokoh-tokoh finansial global yang menyebut bitcoin sebagai suatu aset yang berbahaya, sebut saja Menteri Keuangan AS, Janet Yellen.

Kemudian pemerintah India juga akan melarang segala macam aktivitas terkait mata uang kripto, pelakunya bisa terancam sanksi denda hingga hukuman penjara.
Bitcoin diberi cap "mother of all bubbles" oleh Michael Hartnett, kepala strategi investasi Bank of America.

idrFoto: CNBC International

"Reli bitcoin belakangan ini bisa jadi merupakan kasus spekulasi mania lainnya. Bitcoin terlihat seperti 'mother of all bubbles'," kata Hartnett, sebagaimana dilansir CNN Business, Jumat (8/1/2020).

Saat Hertnett mengungkapkan hal tersebut, harga bitcoin berada di kisaran US$ 40.000/btc, jika dibandingkan dengan level saat ini, sudah melesat nyaris 50% lagi.

Hartnett melihat bitcoin melesat jauh lebih besar dari kenaikan aset-aset yang pernah mengalami bubble dalam beberapa dekade terakhir. Harga emas yang melonjak 400% di akhir 1970an misalnya, kemudian bursa saham Jepang di akhir 1980an, hingga dot-com bubble di akhir 1990an.

Aset-aset tersebut melesat 3 digit persentase, sebelum akhirnya crash dan nyungsep senyungsep-nyungsepnya.

Meski demikan, Hartnett tidak memberikan prediksi harga bitcoin akan nyungsep, ia hanya menunjukkan jika bitcoin menjadi contoh meningkatnya aksi spekulasi.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Bitcoin Bisa Picu Krisis Finansial?

Bitcoin Bisa Picu Krisis Finansial?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading