Pakar Epidemi: Vaksinasi Covid-19 RI Kurang dari 10 Tahun

Tech - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
09 February 2021 14:09
Sejumlah tenaga medis mengikuti proses vaksinasi Covid-19 di Istora Senayan, Kamis, 4 Februari 2021. Ribuan tenaga kesehatan akan menerima vaksinasi covid-19 tahap pertama di Istora Senayan, Jakarta. Vaksinasi massal ini digelar mulai pukul 08.00-16.00 WIB. Vaksinasi dilakukan secara teratur dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Peserta terpilih yang telah mendapatkan email konfirmasi, nantinya akan diberitahukan tempat dan jam kehadiran. Vaksinasi massal ini diperuntukan bagi tenaga kesehatan yang belum mendapatkan vaksin. Dalam vaksinasi massal ini, Pemprov menargetkan untuk menyuntik 6.000 tenaga kesehatan. Vaksinasi ini untuk penyuntikan dosis pertama Sinovac. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Belum lama ini Bloomberg dalam laporan terbarunya menyebut butuh waktu 7 tahun untuk melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap 75% populasi umat manusia di dunia. Namun kecepatan vaksinasi antara satu negara dengan negara lainnya berbeda.

Berdasarkan perhitungan Bloomberg tersebut, RI membutuhkan lebih dari 10 tahun untuk mencapai 75% populasi tervaksinasi. Menanggapi hal ini Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengatakan vaksinasi Covid019 di Indonesia kemungkinan tidak akan selama seperti perhitungan Bloomberg.

"Ini kan prediksi dia dari capaian dan kecepatan vaksinasi saat ini, harus dilihat dilihat dari dua sisi, ini harus dilihat sebagai masukan. Kalau 10 tahun juga tidak terlalu tepat," kata Dicky kepada CNBC Indonesia, Selasa (09/2/2021).


Dia menegaskan vaksinasi tetap tidak menjamin selesainya pandemi Covid-19. Pengendaliannya situasi pandemi menurutnya penting 3T (testing, tracing, dan treatment) dan protokol kesehatan 3M. Kecepatan vaksinasi menurutnya akan bergantung pada suplai dari produsen, sehingga produksi dalam skala besar dan bahan bakunya juga menjadi tantangan dalam program vaksinasi.

"Satu tahun terlalu optimistis tapi untuk mencapai herd imunity adalah perjalanan panjang. Yang terpenting vaksinasi yang sangat tepat dan targetnya menurunkan angka kesakitan," kata Dicky.

Dia menyebutkan langkah vaksinasi untuk kelompok lanjut usia pun sudah tepat, dan diharapkan dapat berlanjut untuk yang memiliki komorbid atau penyakit penyerta untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian.

"Penguatan 3T dan protokol kesehatan akan melindungi dan mengendalikan pandemi, tapi masih belum ada strategi komprehensif. Program vaksinasi kita bagus lah tapi stratagi intervensi lain di 3T jauh sekali jomplang ini berbahaya, dan pandemi yg ga terkendali berpotensi melahirkan strain baru atau mendatangkan strain baru," ujarnya.

Jika ada strain baru yang masuk dan berkembang cepat maka bisa membalikkan posisi saat ini, sehingga harus membuat strategi nasional 3T. Dalam strategi tersebut vaksinasi masuk sebagai salah satu mengendalikan pandemi sehingga bisa menjadi lebih terukur.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading