Internasional

50% di Brasil, Kemanjuran Sinovac Beda di 3 Negara, Kok Bisa?

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
13 January 2021 09:20
A worker inspects vials of SARS CoV-2 Vaccine for COVID-19 produced by SinoVac at its factory in Beijing on Thursday, Sept. 24, 2020. A Chinese health official said Friday, Sept. 25, 2020, that the country's annual production capacity for coronavirus vaccines will top 1 billion doses next year, following an aggressive government support program for construction of new factories. (AP Photo/Ng Han Guan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Vaksin corona (Covid-19) buatan perusahaan China, Sinovac Biotech Ltd. rupanya memiliki empat tingkat efektivitas yang berbeda. Data berbeda mengenai efektivitas vaksin Coronavac ini telah dirilis dalam beberapa pekan terakhir.

Di Indonesia, uji coba lokal menunjukkan kemanjuran vaksin sebesar 65% terhadap Covid-19. Tetapi hanya 1.620 orang di Indonesia yang ikut serta dalam uji coba itu, sehingga angkanya terlalu kecil untuk data yang lebih akurat.


Kemudian Turki mengatakan pada Desember 2020 lalu bahwa vaksin yang sama menunjukkan kemanjuran 91,25% dalam uji coba lokalnya. Namun data Turki juga terlalu kecil untuk menarik kesimpulan yang cukup.

Di Brasil, tempat uji coba terbesar Sinovac terhadap lebih dari 13.000 orang sedang dilakukan, tingkat efektivitas telah dipublikasikan. Mitra uji coba lokal perusahaan, Institut Butantan mengatakan pekan lalu bahwa vaksin itu 78% efektif dalam mencegah kasus ringan Covid-19 dan 100% efektif melawan infeksi parah dan sedang.

Namun pada Selasa (12/1/2021), Institut Butantan mengatakan angka keseluruhan, yang juga termasuk kasus sangat ringan yang tidak memerlukan bantuan medis, sebenarnya adalah 50,38%.

Bloomberg menulis, data kemanjuran yang tumpang tindih tidak pernah terjadi sebelumnya dalam perlombaan vaksin Covid-19 lainnya. AstraZeneca Plc merilis dua tingkat perlindungan terpisah berdasarkan rezim dosis yang berbeda bulan lalu, dan semua temuan berada di atas ambang batas kemanjuran 50% yang diwajibkan oleh regulator untuk persetujuan penggunaan.

Namun kebingungan, yang muncul ketika beberapa pemerintah negara berkomitmen untuk menyuntik warganya dengan vaksin Sinovac, memicu skeptisisme atas vaksin China, yang telah mengungkapkan informasi keamanan dan pengujian yang lebih sedikit daripada vaksin buatan barat.

Resiko keributan data semakin merusak kepercayaan pada vaksin yang telah dijanjikan oleh Presiden Xi Jinping untuk dibagikan dengan seluruh dunia sebagai barang publik global.

"Ada tekanan finansial dan prestise yang sangat besar untuk uji coba ini agar secara besar-besaran melebih-lebihkan hasil mereka," kata Nikolai Petrovsky, seorang profesor di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat di Universitas Flinders.

"Dalam banyak kasus, pernyataan yang berlebihan juga bermotif politik, karena negara-negara yang telah gagal mengendalikan pandemi sekarang ingin melebih-lebihkan manfaat vaksin untuk memenangkan suara dan meredakan kerusuhan lokal."

Seorang juru bicara Sinovac menolak untuk mengomentari angka dari uji coba di Brasil, Turki dan Indonesia dan mengatakan lebih banyak data akan dirilis oleh mitranya di Brasil minggu ini.

Masalah data tampaknya sudah menahan persetujuan peraturan beberapa pemerintah negara untuk penggunaan vaksin Sinovac. Sebagai informasi, dalam aturan WHO, efikasi vaksin minimal 50%. Namun vaksin ini jauh tertinggal dari vaksin lain yang diproduksi, seperti Moderna (94%) dan Pfizer/BioNTech (95%).


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading