Gegara Aturan Privasi Baru, Turki Selidiki WhatsApp-Facebook

Tech - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
11 January 2021 20:45
FILE PHOTO: A logo of WhatsApp is pictured on a T-shirt worn by a WhatsApp-Reliance Jio representative during a drive by the two companies to educate users, on the outskirts of Kolkata, India, October 9, 2018. Picture taken October 9, 2018. REUTERS/Rupak De Chowdhuri - RC16ED4B4AE0/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Kompetisi Turki (Turkish Competition Board) mengatakan pihaknya meluncurkan penyelidikan ke WhatsApp dan Induknya Facebook Inc atas kebijakan privasi baru.

Dikutip Reuters, Senin (11/1/2021), dalam sebuah pernyataan tertulis, Dewan Kompetisi mengatakan WhatsApp dan Facebook harus menangguhkan pengumpulan data sampai penyelidikan selesai.

"Dewan Persaingan telah membuka penyelidikan terhadap Facebook dan WhatsApp dan menangguhkan persyaratan untuk membagikan data Whatsapp," katanya.


WhatsApp memperbarui persyaratan layanannya Rabu lalu, memungkinkan WhatsApp berbagi data dengan Facebook data penggunanya. Kebijakan ini berlaku pada pada 8 Februari 2021. Mereka yang tidak sepakat dipersilahkan menghapus akun WhatsApp.

Beberapa data pengguna WhatsApp yang dibagikan ke Facebook adalah IP address, informasi browser, jaringan seluler, nomor telepon, operator seluler atau ISP, bahasa, zona waktu dan informasi perangkat.

Akhir-akhir ini Pemerintah Turki telah meningkatkan pengawasannya kepada beberapa platform chattingdan media sosial lainnya. Hal ini tentunya mendapatkan kecama besar dari kritikus bahwa hal ini mengancam kebebasan berpendapat di negeri yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan itu.

Sebelumnya, Kepala Kantor Transformasi Digital Ali Taha Koc mengimbau warga Turki untuk meninggalkan aplikasi WhatsApp. Ini sebagai respons terhadap kebijakan privasi baru aplikasi chatting milik Facebook ini.

Dalam aturan terbarunya WhatsApp akan membagi datanya ke Facebook. Namun aturan ini tidak berlaku bagi pengguna di Inggris Raya dan Uni Eropa. Hal ini membuat Ali Taha menyarankan warga Turki menggunakan aplikasi "nasional dan lokal" seperti BiP dan Dedi.

"Perbedaan antara negara UE dan lainnya dalam hal privasi data tidak dapat diterima! Seperti yang telah kami kutip dalam Pedoman Keamanan Informasi dan Komunikasi, aplikasi asal asing menanggung risiko signifikan terkait keamanan data," ujar Taha Ali seperti dikutip dari Aljazeera, Senin (11/1/2021).

"itulah kenapa kami perlu melindungi data digital kami dengan software lokal dan nasional dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan kami. Mari tak melupakan data Turki akan berada di Turki, terima kasih terhadapa solusi lokal dan nasional."


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading