Ramai di Game Among Us, Adakah Impostor di Dunia Nyata?

Tech - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
19 October 2020 11:12
among us

Jakarta, CNBC Indonesia - Belakangan istilah impostor ramai dipakai anak milenial yang berasal dari game online Among Us. Dalam game Among Us impostor bertugas untuk menipu, membunuh karakter lain dan membuat pemain lain tidak dapat menyelesaikan misi.

Lantas adakah impostor di dunia nyata? Menurut Psikolog Klinis UGM, Tri Hayuning Tyas dalam dunia kesehatan da istilah impostor syndrome atau impostor phenomenon. Ini merupakan fenomena psikologis dimana seseorang tidak mampu menerima dan menginternalisasi keberhasilan yang ia raih.

"Dengan kata lain, orang yang mengalami impostor syndrome selalu mempertanyakan dirinya sendiri atas pencapaian atau prestasi yang telah diraih. Ia merasa kesuksesan yang berhasil diraih merupakan bentuk dari keberuntungan atau kebetulan semata, bukan karena kemampuan intelektual diri," ujarnya seperti dihimpun dari situs UGM, Senin (19/10/2020).

Hayuning Tyas mengungkapkan seseorang dengan impostor syndrome tak pernah berhenti meragukan apakah keberhasilan yang diraih merupakan cerminan dari kemampuannya dan orang tersebut memiliki ketakutan kondisinya itu diketahui orang lain dan dianggap sebagai penipu.

"Ada kekhawatiran ketahuan, sebab ia merasa selama ini melakukan penipuan atau berbuat curang. Padahal pencapaian atau prestasi itu nyata karena memang benar-benar mampu atau pintar ," jelasnya.

Kondisi ini, menurut Hayuning Tyas, berbeda dengan istilah impostor yang berasal dari Bahasa Inggris yang artinya seseorang yang berpura-pura menjadi orang lain dengan tujuan untuk menipu atau melakukan kecurangan. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan keuntungan dari kepura-puraan.

Ia menyebutkan bahwa impostor syndrome tidak masuk dalam klasifikasi gangguan jiwa. Kendati begitu, sindrom ini umum dijumpai dalam kehidupan dan cukup mengganggu karena jika terus menerus terjadi dapat menimbulkan kecemasan, stres, bahkan depresi.

Fenomena impostor ini pertama kali dimunculkan oleh Psikolog Rose Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978. Di awal penelitian diketahui sindrom ini banyak dijumpai pada wanita cerdas dengan capaian prestasi tinggi. Lalu, penelitian terus berlanjut dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa impostor syndrom tidak hanya pada wanita, tetapi juga ditemukan pada pria.

"Sindrom ini bisa terjadi pada siapa saja, terutama pada orang yang harus menunjukkan performa pencapaian intelektual. Umum dijumpai saat seseorang memulai perjalanan intelektual atau karier baru juga pada orang dengan karakter perfeksionis," papar wanita yang sempat mengambil studi Clinical Psychology di Illionis Institute of Technology dan saat ini tengah menuntaskan studi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada.



(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading