Penanganan Covid-19

Bukan Cuma Eijkman, LIPI Hingga Kampus Juga Kembangkan Vaksin

Tech - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
23 September 2020 13:32
INFOGRAFIS, Pengembangan Vaksin Covid Masih Berlanjut

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan pengembangan vaksin Covid-19 di Indonesia tidak hanya dilakukan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman semata. Ada institusi-instusi lain yang terlibat dalam pengembangan tersebut.

"Alhamdulillah, selain Lembaga Eijkman, kita sudah mengidentifikasikan ada lima sampai enam institusi lain, termasuk LIPI dan beberapa universitas yang juga mengembangkan vaksin dengan platform yang berbeda-beda," kata Bambang dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI yang berlangsung secara virtual, Rabu (23/9/2020).


Secara paralel, Ia mengaku sudah bertemu dengan industri farmasi dalam negeri yang siap memproduksi vaksin Covid-19. Sehingga tidak bergantung kepada PT Bio Farma Tbk.


"Karena kalau kita hanya mengandalkan Bio Farma dikhawatirkan kapasitasnya tidak mencukupi. Karena itu, kita perlu mengajak perusahaan lain, swasta terutama, dan mereka ternyata menyambut baik upaya ini dan bahkan mereka juga bersedia untuk mendukung riset yang dilakukan beberapa lembaga baik lembaga penelitian maupun universitas," ujar Bambang.



Eks Menteri Keuangan itu lantas membeberkan tujuan penerbitan Keputusan Presiden Nomor 18 tentang Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19. Di dalam tim itu, Bambang menjabat sebagai ketua tim.



"Dukungan Presiden melalui Keppres Nomor 18 itu tentunya membuka akses bagi tim nantinya. Pertama tentunya mendapatkan pembiayaan, penganggaran. Dan mungkin perlu saya sampaikan kalau dalam proses pembuatan vaksin, nantinya memang yang paling mahal adalah proses produksi vaksinnya dan proses vaksinasinya. Dan itu nanti anggarannya ada di Kementerian Kesehatan sebagai pengguna," kata Bambang.

"Sedangkan porsi kami adalah di pengembangan bibit vaksin. Jadi riset yang ada di laboratorium ditambah di uji klinis. Terutama kalau nanti vaksin-vaksin atau bibit vaksin yang sudah lolos uji hewan masuk kepada uji klinis manusia dan di situlah diperlukan biaya yang cukup besar. Artinya bisa Rp 30 miliar, Rp 40 miliar untuk uji klinis setiap bibit vaksin," lanjutnya.

Oleh karena itu, kata Bambang, tim harus menyiapkan penganggaran dari berbagai sumber.

"Dengan adanya keppres tentunya ini juga akan lebih memudahkan kami untuk mengakses kalau ada kebutuhan anggaran tambahan. Nah kebetulan kami sudah memulai koordinasi tim keppres ini di mana penekanannya adalah vaksin yang bibit vaksinnya dikembangkan di dalam negeri dengan menggunakan isolat virus yang memang bertransmisi di Indonesia," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(miq/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading