Israel Kepincut Vaksin Sputnik V, Negosiasi dengan Rusia

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
22 August 2020 12:22
INFOGRAFIS, Sputnik V, Vaksin Covid-19 Buatan Rusia

Jakarta, CNBC Indonesia - Meskipun memicu reaksi skeptis dari publik global, vaksin virus corona yang dikembangkan Kementerian Pertahanan Rusia dan Gamaleya Research Institute, yakni Sputnik V akan menjalankan uji tahap ketiga.

Namun, untuk mendapatkan izin edar, Sputnik V harus harus melalui pengujian terhadap lebih dari 40.000 orang. Uji coba juga harus diawasi oleh lembaga riset dari luar negeri.

Rusia, yang baru mendaftarkan vaksin corona pada awal Agustus lalu ini, akan menguji coba vaksin di Meksiko. Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard, sebagaimana diwartakan Reuters, mengatakan jika Meksiko ditawari untuk uji coba setidaknya 2.000 dosis vaksin.


Situs web untuk Sputnik V mengatakan, uji klinis tahap akhir atau fase III melibatkan lebih dari 2.000 orang dan dimulai pada 12 Agustus di Rusia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Brasil, dan Meksiko. Produksi massal vaksin tersebut dijadwalkan akan dimulai pada September nanti.

Selain beberapa negara tersebut, rupanya Israel juga ingin ikut andil. Pusat Medis Hadassah Israel kini sedang dalam negosiasi untuk menguji vaksin Sputnik V, serta potensi memproduksi dan mendistribusikannya di negara Yahudi itu, sebagaimana dikonfirmasi oleh The Jerusalem Post.

Polina Stepensky, ketua Departemen Transplantasi Sumsum Tulang & Imunoterapi Kanker Dewasa dan Anak-anak di Hadassah, mengatakan bahwa "kami sedang bernegosiasi" secara khusus untuk mengambil bagian dalam uji coba vaksin Sputnik V tahap ketiga.

Jika vaksin Sputnik V terbukti aman dan efektif, pihak Israel akan mendirikan fasilitas produksi sehingga vaksin akan tersedia untuk masyarakat negara tersebut.

"Baik sebagai dokter dan ilmuwan, saya pikir mereka telah mengembangkan hal yang sangat luar biasa," kata Stepensky, mencatat bahwa dia sendiri akan bersedia untuk mendapatkan suntikan vaksin. "Dari pendekatan ilmiah, di mata saya pendekatan yang baik. Kami ingin berkolaborasi sehingga kami dapat belajar dan lebih memahami."

Namun, Kementerian Kesehatan Israel mengkonfirmasi bahwa mereka mengetahui negosiasi tersebut, tetapi tidak mengatakan apakah akan mengizinkan uji coba.

Pada awal Agustus ini, Kepala Pusat Medis Hadassah, Zeev Rotstein mengatakan bahwa Rusia sedang merekrut rumah sakit untuk berkolaborasi dalam uji klinis, dan cabang Hadassah di Skolkovo telah mengajukan diri.

Kendati demikian, para peneliti dan WHO mengingatkan Rusia untuk berhati-hati karena masih memerlukan tinjauan keamanan yang ketat. Dikutip dari Channel News Asia, tes dengan ribuan orang ini akan setara dengan uji coba fase 3 yang sedang dijalani vaksin dari perusahaan lain.

Kepala Dana Investasi Langsung Rusia Kirill Dmitriyev, mengatakan dalam pengarahan online bahwa vaksinasi kepada kelompok berisiko, termasuk tenaga medis, juga akan dimulai minggu depan atas dasar sukarela. Lebih dari 20 negara menurutnya telah membuat permintaan untuk membeli lebih dari satu miliar dosis vaksin.

Dmitriyev menambahkan bahwa Rusia memiliki perjanjian dengan beberapa negara untuk memproduksi vaksin. Selain itu vaksinasi massal di Rusia ditargetkan dimulai pada Oktober dan ekspor dilakukan pada November atau Desember 2020.

Vaksin ini mendapatkan peringatan dari para ilmuwan barat, bahwa Rusia kemungkinan bergerak terlalu cepat. Namun, Dmitriyev mengatakan reaksi skeptis dari publik global mulai berkurang.

"Kami melihat ada perubahan nada yang signifikan dari WHO. Awalnya ya, mereka tidak memiliki cukup informasi tentang vaksin Rusia, sekarang informasi resmi sudah dikirim dan mereka akan mengevaluasinya," katanya, dikutip dari Channel News Asia pada Jumat (21/08/2020).

Namun Dmitriyev menambahkan "Kami tidak melihat adanya hambatan bagi regulator individu untuk menyetujui vaksin Rusia tanpa persetujuan WHO," katanya.

Vaksin buatan Rusia memang berbeda dari vaksin lainnya, sebab belum sepenuhnya diuji klinis hingga tahap akhir.

Vaksin yang sudah disuntikan kepada putri Presiden Rusia Vladimir Putin ini juga menimbulkan kontroversi, sebab laporan uji klinisnya belum dipublikasikan di jurnal ilmiah. Selain itu, Rusia juga sempat dituding terlibat dalam pencurian data seputar vaksin.

Majalah Science melaporkan, Kementerian Kesehatan Rusia telah mengeluarkan surat izin penggunaan Sputnik V untuk sebagian kecil masyarakat Rusia terutama yang rentan terjangkit Covid-19.

Namun dalam surat izin tersebut, vaksin Sputnik V ini tak bisa digunakan untuk publik secara luas sebelum 1 Januari 2021. Kemungkinan baru akan digunakan secara meluas setelah dilakukan uji klinis secara masif dan mengikuti prosedur yang berlaku.

Menurut Tim Riset CNBC Indonesia, vaksin Sputnik V menggunakan virus yang telah direkayasa (jenis adenovirus) untuk membawa materi genetik virus corona baru berupa gen pengkode protein 'Spike' sehingga diharapkan mampu menginduksi pembentukan antibodi.

Per Sabtu (22/8/2020), Rusia telah mencatat 946.976 kasus positif, dengan 16.189 kasus kematian, dan 761.330 pasien berhasil sembuh. Menurut data Worldometers, Rusia menduduki posisi tertinggi keempat setelah Amerika Serikat, Brasil, dan India.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading