Internasional

Jadi Mau Pilih Mana, Vaksin AS atau Vaksin China?

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
06 August 2020 17:03
Infografis: 4 Negara Pesan Vaksin Covid-19, Rogoh Berapa Triliun?

Jakarta, CNBC Indonesia - Perlombaan dalam membuat vaksin virus corona (Covid-19) terus dilakukan banyak negara. Saat ini setidaknya ada 160 vaksin yang dikembangkan berbagai negara dunia, baik yang bekerja sama dengan perusahaan farmasi besar maupun universitas terkemuka atau negara lainnya.

Beberapa yang terdepan dalam pengembangan vaksinnya di antaranya yaitu Amerika Serikat (AS) dan China, negara tempat awal wabah ditemukan. Keduanya sudah melakukan tahap uji coba vaksin ke manusia dan hasilnya menunjukkan sejumlah keberhasilan.



Pada bulan Juli, media China melaporkan bahwa vaksin yang dikembangkan oleh CanSino Biologics yang berbasis di Tianjin dan unit penelitian militer negara itu telah menunjukkan secercah harapan dalam pengujian awal ke manusia.

Bahkan China telah mengumumkan bahwa vaksinnya sudah dapat digunakan oleh militer, meski baru akan memulai uji coba fase tiga. Ini menjadikan CanSino perusahaan pertama yang memiliki vaksin virus corona yang disetujui untuk penggunaan terbatas.

Perusahaan China lainnya, termasuk Sinovac yang berbasis di Beijing dan Sinopharm milik negara, juga telah meluncurkan uji coba fase tiga terakhir mereka. Sinovac akan melakukan uji coba di Brasil, sedangkan Sinopharm akan menguji vaksinnya di Uni Emirat Arab.




Di sisi lain, vaksin dari perusahaan bioteknologi Amerika, Moderna, juga telah mencapai uji coba fase tiga. Bahkan Swiss dikabarkan hampir menandatangani kesepakatan untuk mengamankan akses untuk vaksin virus corona yang sedang dikembangkan oleh Moderna, menurut seorang pejabat pemerintah Swiss.

Namun, dalam hal kepercayaan terhadap vaksin temuan kedua negara ini, nampaknya negara-negara Asia memiliki pandangan yang berbeda. Sebagaimana dilaporkan South China Morning Post, negara-negara Asia telah terbagi kepercayaannya. Sebab, ada yang memilih vaksin yang diproduksi China hingga turut mengembangkannya bersama dengan negara itu, dan ada juga yang memilih vaksin yang diproduksi oleh pembuat obat-obatan Barat.

Salah satu yang tertarik dengan vaksin China adalah Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan farmasi milik negara, Bio Farma, telah bekerja sama dengan Sinovac untuk mengembangkan vaksin virus korona sejak April. Perusahaan akan meluncurkan uji coba fase tiga akhir bulan ini, yang jika berhasil akan menghasilkan produksi hingga 250 juta dosis vaksin setahun.

Filipina, yang menghadapi gelombang baru infeksi, juga mengincar vaksin buatan China. Bulan lalu, Presiden Rodrigo Duterte mengatakan dia telah meminta Presiden China Xi Jinping, untuk membantu Filipina mendapatkan akses prioritas ke vaksin Covid-19.

Malaysia juga termasuk negara yang mengincar vaksin China. Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia Khairy Jamaluddin pekan lalu berbicara dengan China untuk menyampaikan minat negara itu dalam mengamankan akses vaksin lebih awal. Namun demikian, sebelumnya Jamaluddin juga mengatakan negara itu sedang mencari opsi vaksin lain yang diproduksi oleh AS dan Inggris.

Berbeda dengan tetangganya, Singapura lebih memiliki bekerja sama dengan perusahaan Amerika. Jepang juga demikian. Bahkan Pfizer dan BioNTech telah setuju untuk memasok Jepang dengan 120 juta dosis vaksin virus corona eksperimental mereka pada paruh pertama tahun 2021.

Di sisi lain, Thailand juga lebih tertarik dengan vaksin Amerika. Sekretaris Jenderal Komite Vaksin Nasional Thailand, Siriroek Songsivilai telah mengisyaratkan bahwa negara itu akan menggunakan produk Pfizer. Ia memperkirakan bahwa harga vaksin akan mencapai 620 baht (US$ 19,80) per dosis. Meski demikian, Thailand juga menargetkan vaksinnya sendiri siap digunakan pada akhir 2021.

Meski tiap negara Asia memilih vaksin yang hasil produksi negara berbeda, para pakar menyebut ada beberapa faktor yang membuat hal itu terjadi. Pertama adalah tingkat keamanan dan kemanjuran, serta harga, kata Kavitha Hariharan, direktur masyarakat sehat di Marsh & McLennan Advantage.

"Ini terutama terjadi di negara berkembang dengan populasi besar yang memiliki pengeluaran perawatan kesehatan per kapita yang relatif lebih rendah," ujarnya.

Faktor lainnya yaitu alasan geopolitik. Ini diungkapkan  Jeremy Lim, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di Universitas Nasional Singapura.

"Negara-negara akan secara alami menyesuaikan dengan prioritas nasional mereka yang lebih luas di luar kesehatan," paparnya.

Hal senada juga dikatakan Leong Hoe Nam, pakar penyakit menular yang berbasis di Singapura. Menurutnya ketersediaan vaksin juga berperan karena permintaan kemungkinan akan melebihi pasokan.

"Jika Anda melihat Filipina dan Malaysia, ada juga tawaran kuat China ke negara-negara itu, dan kami juga melihat China menyediakan pasokan medis kepada mereka sehingga mereka cenderung mendapatkan pasokan vaksin dari China dengan mudah," katanya.



[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading