Ramai Recall Mobil Honda, Mitsubishi & Toyota, Ada Apa Sih?

Tech - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
04 August 2020 07:49
Suasana aktivitas pasar Nangka, Jakarta Pusat, Rabu (19/2). Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui usulan Menteri Keuangan Sri Mulyani untuk menerapkan cukai terhadap produk plastik secara keseluruhan, bukan hanya kantong plastik. Pasalnya, dari sebagian besar anggota berpandangan bahwa, apabila pemerintah ingin mengedepankan aspek lingkungan dan kesehatan, seharusnya cukai plastik bukan hanya ditunjukkan untuk kantong kresek saja. Tapi juga terhadap beberapa produk plastik lainnya, seperti minuman kemasan, kemasan makanan instan, dan lain sebagainya. Sri Mulyani juga mengajukan pengenaan beberapa produk kena cukai ke Komisi XI DPR. Salah satu barang yang akan kena cukai adalah kendaraan bermotor khususnya kendaraan yang masih mengeluarkan emisi CO2. Ketentuan yang akan diatur adalah, dikecualikan pada kendaraan:

Kendaraan yang tak menggunakan BBM seperti kendaraan listrik

Kendaraan umum, kendaraan pemerintah, kendaraan keperluan khusus seperti ambulan dan damkar

Kendaraan untuk kebutuhan ekspor

Berdasarkan bahan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang diterima CNBC Indonesia, belum ada besaran tarif yang diusulkan. Besaran tarif dapat berubah tergantung tujuan dari kebijakan pemerintah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pabrikan otomotif besar mengalami kendala pada produknya. Mulai dari Honda, Mitsubishi hingga Toyota saat Pandemi. Uniknya, persoalan pabrikan tersebut adalah sama, yakni masalah di komponen fuel pump. Alhasil, recall harus dilakukan.

Wakil Presiden Direktur TAM Henry Tanoto mengungkapkan bahwa permintaan recall ini langsung berasal dari Jepang, yakni Toyota Motor Corporation. Adapun alasan recall adalah komponen pompa bahan bakar kendaraan.

"Kami mendapat informasi dari principal bahwa parts ini berpotensi terjadi kerusakan sehingga perlu diganti. Focus kami adalah bagaimana customers bisa segera mengganti parts ini di bengkel resmi kami," kata Henry kepada CNBC Indonesia, Senin (03/08/2020).


Sementara itu, Head of Media Relation TAM, Dimas Aska mengatakan bahwa hingga kini kasus matinya fuel pump tersebut belum ditemukan di Indonesia. Melainkan terjadi di luar Indonesia. Namun, karena dikhawatirkan merugikan konsumen di Tanah Air, maka TAM langsung melakukan kampanye recall.

Namun, meski tidak adanya laporan persoalan fuel pump di Indonesia belum tentu menggambarkan bahwa kasus tersebut bakal tidak terjadi. Sehingga untuk antisipasi sejak dini maka kebijakan recall dilakukan.

"Di Indonesia kita belum menemukan masalahnya, jadi belum ada laporan yang menyatakan masalah itu muncul karena fuel pump dan lain-lain itu belum ada. Belum ada ke sana lah sebenarnya sih. Cuma karena memang principal minta kita, oke tetap dilakukan, ya sudah kita lakukan," jelas Dimas.

Sejumlah tipe mobil Toyota yang terkena dampak recall fuel pump di Indonesia antara lain Alphard produksi 2017-2018, Corolla produksi 2018, FJ Cruiser produksi 2013-2014, serta Kijang Innova, Fortuner, dan Hilux produksi 2017-2019. TAM mengimbau pengguna mengganti fuel pump kendaraan dan segera mengecek kendaraan di bengkel resmi.

Bukan hanya itu, sebelumnya, Pada 15 Juli 2020 Honda mengumumkan recall terhadap Honda Brio, Honda Mobilio, Honda Jazz, Honda BR-V, Honda HR-V, Honda CR-V, Honda City, Honda Civic dan Honda Accord dengan tahun model antara 2017 hingga 2019.

Unit yang teridentifikasi dalam program ini adalah sebanyak 85.025 unit. Kampanye penggantian komponen Fuel Pump dimulai tanggal 15 Juli 2020 dan dilakukan secara bertahap di seluruh Indonesia.

Tidak ketinggalan, pada akhir Juni 2020, sebanyak 139.111 unit mobil Mitsubishi Xpander mengalami recall karena ada persoalan pada komponen pompa bahan bakar. PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), mengumumkan program Field Fix Campaign atau kampanye Perbaikan Mitsubishi Xpander mulai 22 Juni 2020.

Rentetan masalah pada fuel pump tentu mengkhawatirkan konsumen. Lalu, apa masalah ini sebenarnya berbahaya?

Ada potensi kecelakaan akibat mobil yang bermasalah karena fuel pump, terutama tiba-tiba bermasalah saat mobil sedang dikendarai.

"Kalau dalam kasus tadi fuel pump mati. Kalau bisa bahayakan? Bisa. Lagi kencang misalnya tiba-tiba mati, pengemudi panik. Kalau yang terjadi seorang perempuan dan mesin mati di tol highway, kaget dia, nggak tahu mau menetralkan caranya bagaimana, nggak berpikir. Karena ekspektasi nggak ada gitu," kata Founder and Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Palububu kepada CNBC Indonesia.

Namun, jika pengemudi bisa mengambil kendali setir, dia tidak panik dengan kondisi yang ada, maka bisa jadi kondisinya bakal lebih baik.

"Kalau nggak panik, bisa dia kontrol. Masih memungkinkan. Katakan mesin mati pengemudi paham dia menetralkan, Dalam kondisi rem, semua berat, mesin mati dia bisa arahkan kendaraan ke spot yang aman. Jadi saya katakan masih memungkinkan bahayakan, mungkin tidak mungkin iya," jelas Jusri.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading