Negara Maju Borong Vaksin Corona & Prediksi Suram Bill Gates

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
21 July 2020 11:21
A lab assistant holds a blood sample to be tested for COVID-19 antibodies, Tuesday, April 28, 2020, at Principle Health Systems and SynerGene Laboratory, in Houston. The company, which opened two new testing locations Tuesday, is now offering a new COVID-19 antibody test developed by Abbott Laboratories. (AP Photo/David J. Phillip)

Jakarta, CNBC Indonesia - Vaksin Covid-19 belum ditemukan hingga saat ini. Tetapi negara-negara maju sudah mulai memesan kandidat vaksin. Prediksi suram pendiri Microsoft Bill Gates soal corona kini membayangi.

Terbaru adalah pemerintah Inggris yang memesan 90 juta dosis vaksin yang dikembangkan Pfixer-BioNTech dan Valneva. Inggris akan mendapatkan 30 juta dosis vaksin Covid-19 dari BioNTech dan Pfizer serta 60 juta dosis vaksin Valneva, seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa (21/7/2020).

Sebelumnya Inggris sudah memesan 100 juta dosis vaksin dari AstraZaneca yang dikembangkan dari University of Oxford. Vaksin ini sudah memasuki uji klinis fase tiga atau tahap akhir.


Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) sudah memesan 300 juta dosis vaksin buatan University of Oxford dan AstraZeneca. AS menggelontorkan dana hingga US$1,2 miliar dan diharapkan akan tiba Oktober 2020. AS juga memesan 100 juta dosis vaksin Novavax dengan nilai US$1,6 miliar.

Empat negara maju di Eropa, yakni Jerman, Italia, Belanda, dan Prancis sudah memesan 300 juta dosis vaksin milik AstraZeneca dengan nilai kontrak mencapai US$843,2 juta.

Aksi negara maju memborong kandidat Covid-19 ini pun menjadi sorotan dari pendiri Microsoft. Menurutnya aksi ini bisa membuat pandemi corona di dunia bisa berlangsung lama karena vaksin hanya akan tersedia bagi negara maju saja.

Menurut Bill Gates harusnya obat dan vaksin tersedia untuk negara-negara dan orang-orang membutuhkan, bukan untuk "penawar tertinggi" yang mengandalkan kekuatan pasar.

Bill Gates menambahkan aksi sejumlah negara kaya atau negara maju yang sudah memesan ratusan juta dosis vaksin membuat negara lain tidak mendapatkan dosis yang cukup untuk melawan virus corona. Pasalnya, produksi vaksin butuh waktu panjang.


"Jika kita membiarkan obat-obatan dan vaksin pergi ke penawar tertinggi, alih-alih ke orang-orang dan tempat-tempat yang paling dibutuhkan, kita akan memiliki pandemi yang lebih lama, lebih tidak adil, lebih mematikan," kata Gates, yang juga seorang pendiri Microsoft, dikutip dari Reuters.

"Kami membutuhkan para pemimpin untuk membuat keputusan sulit tentang distribusi berdasarkan ekuitas, bukan hanya pada faktor-faktor yang didorong pasar."


[Gambas:Video CNBC]

(roy/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading