Bill Gates: Corona Bisa Lebih Mematikan Jika Ini Terjadi

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
12 July 2020 13:00
Philanthropist and Co-Chairman of the Bill & Melinda Gates Foundation Bill Gates gestures as he speaks to the audience during the Global Fund to Fight AIDS event at the Lyon's congress hall, central France, Thursday, Oct. 10, 2019. French President Emmanuel Macron said the conference of the Global Fund to fight against AIDS, tuberculosis and malaria raised at least $13.92 billion for the next three years. (Ludovic Marin/Pool Photo via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pendiri Microsoft, Bill Gates, mengeluarkan peringatan soal virus corona (COVID-19) pada Sabtu (11/7/2020). Gates mengatakan bahwa obat maupun vaksin Covid-19 tidak akan bisa menghilangkan pandemi jika tidak didistribusikan kepada orang-orang yang paling membutuhkannya.

Apalagi, jika hanya diberikan pada negara yang mampu menawar dengan harga tinggi. Kesalahan itu juga bisa membuat pandemi makin bertahan lama dan lebih mematikan.




"Jika kita membiarkan obat-obatan dan vaksin diberikan ke penawar tertinggi, alih-alih ke orang-orang dan tempat-tempat di mana mereka paling dibutuhkan, kita akan memiliki pandemi yang lebih lama, lebih mematikan," kata miliarder filantropis itu dalam sebuah konferensi COVID-19 jarak jauh yang diselenggarakan oleh International AIDS Society.

"Kami membutuhkan para pemimpin untuk membuat keputusan sulit tentang distribusi berdasarkan ekuitas, tidak hanya pada faktor-faktor yang didorong pasar," tambahnya, sebagaimana dilaporkan CNBC International, Minggu (12/7/2020).

Gates mengeluarkan pernyataannya di tengah tingginya kekhawatiran bahwa negara-negara kaya akan lebih diutamakan untuk memperoleh vaksin dibandingkan negara-negara berkembang.



Saat ini semakin banyak negara dan perusahaan yang berlomba untuk menghadirkan vaksin ke pasar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 21 kandidat vaksin yang saat ini dalam uji klinis sedang diuji pada sukarelawan manusia. Di mana tiga di antaranya berada dalam fase ketiga dari percobaan tersebut.

Perusahaan biotek Amerika Serikat (AS) Moderna, perusahaan farmasi AS AstraZeneca dan Sinovac Biotech dari China merupakan perusahaan yang paling terdepan dalam pengembangan vaksin untuk virus asal Wuhan, China itu. Namun, Moderna, yang bekerja sama dengan Institut Kesehatan Nasional AS, baru-baru ini mengatakan bahwa uji coba tahap akhir untuk vaksin akan ditunda, mungkin beberapa minggu.

Di sisi lain, vaksin potensial yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech telah menunjukkan adanya hasil kekebalan pada pasien yang sehat, tetapi juga menyebabkan demam dan efek samping lainnya.

Lebih lanjut, Gates mengatakan bahwa dalam hal pendistribusian vaksin ini, dunia harus belajar dari 'perang' melawan HIV / AIDS dua dekade lalu. Di mana dunia perlu menciptakan sistem distribusi global yang adil untuk membuat obat tersedia untuk semua orang.



Gates mengatakan krisis AIDS berfungsi sebagai model dalam membuat obat COVID-19 lebih merata dan tersedia secara luas, merujuk pada Dana Global 2002 untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria sebagai contoh.

"Kerja sama global, tekad untuk menemukan alat dan mengeluarkannya di tempat yang paling mereka butuhkan adalah sangat penting," kata Gates. "Ketika kita memiliki hal-hal itu, negara, lembaga, dan advokat bekerja bersama dalam tanggapan kolektif ini, kita memang melihat dampak yang luar biasa."


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading