Virus Corona Menyebar Lewat Udara, Ini Cara Agar Tetap Aman

Tech - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
09 July 2020 13:24
In this Wednesday, June 10, 2020 photo, a health worker transfers sample of a person from a swab test for COVID 19 in New Delhi, India. Two and a half months of nationwide lockdown kept numbers of infections relatively low in India. But with restrictions easing in recent weeks, cases have shot up, raising questions about whether authorities have done enough to avert catastrophe. Half of Delhi’s 8,200 hospital beds dedicated to COVID-19 patients are already full and officials are projecting more than half a million cases in the city alone by July 31. (AP Photo/Manish Swarup)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ratusan ahli di dunia telah menemukan bukti bahwa virus corona penyebab COVID-19 dapat bertahan mengambang di udara dalam bentuk tetesan kecil untuk waktu yang lama. Tetesan kecil dari mulut atau hidung seorang pasien itu dapat membuat orang-orang sehat yang menghirupnya menjadi terinfeksi.

Hal itu pun mengkhawatirkan karena itu berarti virus yang belum ada obat maupun vaksinnya itu sangat mudah menyebar. Apalagi, tetesan kecil atau aerosol berisi virus bisa berasal seseorang yang tanpa gejala saat mereka menghembuskan napas, berbicara atau bernyanyi, menurut Dr. Marr dan lebih dari 200 ahli lainnya.

Para ahli itu sendiri telah menjabarkan bukti yang mereka temukan dalam surat terbuka kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


Meski demikian, Linsey Marr, seorang ahli aerosol di Virginia Tech menyebut bahwa belum jelas seberapa sering virus menyebar melalui tetesan kecil atau aerosol ini.

Lalu, apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah tertular virus asal Wuhan, China itu dari tetesan kecil di udara?

Menurut laporan The New York Times, para ahli mengatakan bahwa risiko penyebaran virus melalui aerosol paling tinggi terjadi di ruang tertutup dengan ventilasi yang buruk. Oleh karenanya, penyebaran di dalam pabrik, gereja, dan restoran kerap kali dilaporkan terjadi.

Atas dasar itu, para ahli menyarankan agar orang-orang meminimalkan waktu bersama di dalam ruangan dengan siapapun yang bukan dari keluarga mereka. Ruangan umum seperti sekolah, panti jompo, dan bisnis juga disarankan untuk menambahkan filter udara baru yang kuat dan lampu ultraviolet yang dapat membunuh virus di udara.

"Ada kerentanan besar terhadap penularan infeksi melalui aerosol di sekolah-sekolah," kata Don Milton, seorang ahli aerosol di University of Maryland.

Dari laporan para ahli itu, virus corona memang tidak bisa berpindah dalam jarak jauh atau tetap hidup di luar ruangan. Namun, bisa mengambang di udara ruangan selama sekitar tiga jam dalam bentuk aerosol.

Aerosol diartikan para ahli sebagai tetesan berdiameter kurang dari lima mikron. Sebagai perbandingan, rambut manusia umumnya berdiameter 50 mikron.

Selama ini, anjuran menjaga jarak dan mencuci tangan telah disampaikan karena virus corona diketahui menyebar melalui tetesan berat, yang diperoleh dari batuk atau bersin, yang bisa menyebar dalam jarak dekat dan menempel di permukaan suatu benda.

"Saya harus melakukan terlalu banyak senam mental untuk menjelaskan rute-rute penularan lainnya dibandingkan dengan transmisi aerosol, yang jauh lebih sederhana," kata Dr. Marr.

"Kita harus lebih menekankan masker dan ventilasi seperti yang kita lakukan dengan mencuci tangan," kata Dr. Marr. "Sejauh yang kami tahu, ini sama pentingnya, jika tidak lebih penting."

"Ketika di dalam ruangan, satu hal sederhana yang dapat dilakukan orang adalah membuka jendela dan pintu jika memungkinkan," jelas Dr. Marr.

[Gambas:Video CNBC]


[Gambas:Video CNBC]

(res/res)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading