Telkom Buka Blokir Netflix, Siapa yang Untung dan Rugi?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
08 July 2020 13:27
FILE - This June 24, 2015, file photo, shows the Netflix Apple TV app icon, in South Orange, N.J. Netflix reports financial results on Monday, April 18, 2016. Sports are on hold, movie theaters are closed and so are amusement parks. But Americans held captive at home by the coronavirus can turn to Netflix, Amazon, Hulu and other streaming services, outliers in an entertainment industry otherwise brought to an unprecedented standstill. (AP Photo/Dan Goodman, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Telkom Group akhirnya resmi berkolaborasi dengan Netflix. Kerja sama kedua belah pihak ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Setelah diblokir sejak 2016, akhirnya penantian panjang pengguna Telkomsel dan IndiHome terbayar juga. Kini mereka dapat mengakses berbagai konten video netflix dengan mudah tanpa harus menggunakan VPN yang ilegal.

Pemblokiran selama empat tahun oleh Telkom Group tersebut merupakan bentuk dukungan perseroan terhadap pemerintah terkait kepastian layanan. Salah satu yang diinginkan adalah Netflix harus mau melakukan take down atau mencabut konten ketika ada keluhan dari pengguna.


Namun pemblokiran ini justru menghambat kemajuan bisnis bagi kedua belah pihak. Pasalnya akses ke konten dan video streaming sering menjadi medan kompetisi bagi operator seluler maupun data internet. Hal ini pun diamini oleh Executive Director Indonesia ICT Institute Heru Sutadi.

"Memang kan Netflix sekarang menjadi alat kompetisi operator untuk bersaing. Dan nampaknya Telkom harus "menyerah" mengikuti apa yang dilakukan operator lain dengan membuka Netflix," ujar Heru kepada CNBC Indonesia, Selasa (7/7/2020).

Dengan kolaborasi antara Telkom dan Netflix ini, keduanya dapat menciptakan hubungan yang saling menguntungkan (mutalisme). Dari sisi Netflix, pengguna Telkomsel yang jumlahnya mencapai 170 juta dan IndiHome dengan pelanggan mencapai 7 juta tentu menjadi ladang yang menjanjikan untuk digarap. 

Bayangkan saja jika pengguna Telkomsel dan IndiHome ini juga berlangganan Netflix, maka pendapatan perusahaan Video On Demand (VOD) yang bermarkas di California, AS itu bakal terdongkrak. 

Indonesia memang pasar yang menjanjikan untuk bisnis VOD. Ukuran populasi yang besar dengan lebih dari 267 juta penduduk serta tingginya adopsi teknologi digital membuat perusahaan sekelas Netflix melebarkan sayapnya ke Indonesia. 

Berdasarkan data Statista, jumlah pelanggan Netflix dari Indonesia setiap tahunnya bertambah lebih dari dua kali lipat. Berdasarkan kalkulasi CNBC Indonesia, pertumbuhan tahunan (CAGR) pengguna Netflix dari Indonesia mencapai 112% sejak 2017-2020. 

Pada saat yang sama pendapatan serta pendapatan per pelanggan Netflix di Indonesia juga tumbuh masing-masing 149% dan 17% per tahunnya (CAGR). Statista memproyeksi pengguna Netflix di Tanah Air bakal tembus 900 ribu orang di tahun ini.

Pendapatan Netflix dari bisnis streaming videonya di Indonesia ditaksir mencapai US$ 76,63 jiuta atau setara dengan Rp 1,07 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000/US$. Ini asumsi sebelum terjadi kerja sama antara Netflix dan Telkom.

Coba bayangkan jika gara-gara kerja sama ini pelanggan Netflix tembus 1 juta di tahun ini, maka berdasarkan perkiraan CNBC Indonesia pendapatan Netflix tahun ini bisa mencapai US$ 84,5 juta. Ini kalau ada tambahan lebih dari 500 ribu pelanggan di tahun ini. 

Jika total pelanggan Netflix tahun ini bertambah menjadi 1 juta saja, maka pendapatan Netflix bisa mencapai US$ 126,75 juta. Fantastis bukan pertumbuhannya? 

Bagi Netflix, Telkom berperan sebagai channel untuk meningkatkan penetrasi pelanggan dan media untuk bisa berkompetisi dengan para pemain lain seperti iFlix dan Hooq yang sejak awal menawarkan biaya lebih miring. 

Sebagai informasi saja, untuk berlangganan Netflix sebelumnya harus merogoh biaya Rp 109.000/bulan. Sementara untuk berlangganan iFlix hanya merogoh Rp 39.000/bulan dan Hooq Rp 69.000/bulan. 

Namun kini Netflix juga telah hadir dengan penawaran menarik yakni biaya langganan Rp 49.000/bulan untuk dua akun email yang bisa didaftarkan.

Selain konten yang beragam dan berkualitas internasional, harga yang juga sudah tergolong miring ini akan semakin menjadi daya tarik bagi calon pelanggan maupun pelanggan yang sudah ada. 

Sekarang jika dilihat dari sisi Telkom. Menonton streaming video dari Netflix membutuhkan data seluler. Jika pengguna Telkomsel juga berlangganan Netflix maka konsumsi data akan pelanggan akan meningkat. 

Bayangkan saja jika untuk menonton 1 film membutuhkan waktu 40-120 menit dan data yang dikonsumsi mencapai 200 MB - 1 GB, maka tambahan konsumsi data ini akan meningkatkan pendapatan Telkomsel. 

Kerja sama dengan Netflix pun dapat meningkatkan pengalaman pelanggan (customer experience) Telkom. 

"Kemitraan ini merupakan upaya menumbuhkembangkan bisnis digital serta untuk terus menjaga excellent customer experience Telkom Group dengan menyediakan berbagai kemudahan dan kenyamanan dalam mengakses konten-konten berkualitas. Ke depannya Telkom berharap agar Netflix dapat lebih berperan pada kemajuan perfilman nasional dengan memperbanyak tayangan produk konten lokal," ujar Arif melalui keterangan resmi, Selasa (7/7/2020).

Kerja sama antara kedua belah pihak ini merupakan salah satu contoh bagaimana di era digital seperti sekarang ini, kolaborasi memainkan peranan penting untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading