Pemerintah Proyeksi Harga Batu Bara Akhir 2020 US$ 59-61

Tech - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
05 June 2020 20:00
A rotary dredge loads wagons with coal at Borodinsky opencast colliery, owned by the Siberian Coal Energy Company (SUEK), near the Siberian town of Borodino east of Krasnoyarsk, Russia February 26, 2019. Picture taken February 26, 2019. REUTERS/Ilya Naymushin
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga batu bara Indonesia pada akhir tahun 2020 berada di kisaran US$ 59-61 per ton.

Direktur Penerimaan Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Minieral (ESDM) Johnson Pakpahan mengatakan harga batu bara turun disebabkan oversupply batu bara global.

Ia memperkirakan harga batu bara akan kembali menguat setelah pandemi corona (Covid-19) berakhir. Sepanjang tahun 2019 HBA rata-rata mencapai US$ 77,89 per ton, sementara HBA Januari - April 2020 sebesar US$ 66,42 per ton.


"Harga batu bara Indonesia pada akhir tahun 2020 diperkirakan berkisar US$ 59 - 61 per ton. Akhir tahun 2021 mencapai US$ 66 per ton, dan akhi tahun 2022 sebesar US$ 69 per ton," ungkapnya dalam diskusi virtual, Jumat, (05/06/2020).

Sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun ini sebesar Rp 35,93 triliun, sudah tercapai 40,50% atau sebesar Rp 14,55 triliun. Menurutnya penundaan penyetoran PNBP akan menunda cashflow pemerintah.


Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Juni kembali anjlok ke posisi US$ 52,98 per ton turun US$ 8,13 per ton dari bulan Mei US$ 61,11 per ton. Anjloknya HBA 13,3% ini dampak dari minimnya pergerakan ekonomi yang membuat pasar permintaan batu bara turut mengalami kelesuan, terutama di India dan Tiongkok.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan stok batu bara di India dan Tiongkok terbilang cukup tinggi. "Mereka masih memanfaatkan produksi dalam negeri sendiri," ungkapnya dalam keterangan tertulisnya, Kamis, (04/06/2020).

Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasali memproyeksikan penerimaan negara di sektor Minerba tahun ini akan terjadi penurunan sekitar 20% gara-gara Covid-19.


Dari posisi Rp 44,4 triliun menjadi sekitar Rp 35 triliun. Penyebabnya tidak hanya harga jual komoditas yang jatuh, tetapi juga terjadi penurunan volume penjualan dan ekspor terutama batu bara juga akan menurun.

"Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Minerba sebagian besar (hampir 80%) didapatkan dari pertambangan batu bara," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa, (2/06/2020).
(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading