Bos Facebook Serang Twitter karena Trump, Kok Bisa?

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
29 May 2020 06:35
Infografis: Ini Bukti
Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Executive Facebook Mark Zuckerberg kritik kebijakan Twitter yang melabeli cuitan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai informasi sesat yang perlu diverifikasi kebenarannya.

Menurut Mark Zuckerberg pihaknya tidak akan menjadi penentu kebenaran ucapan seseorang disampaikan di media sosial.

"Saya kira, kami memiliki kebijakan yang berbeda dengan Twitter dalam hal ini," ujar Mark Zuckerberg dalam sebuah acara televisi swasta di AS, seperti dilansir dari The Independent, Kamis (28/5/2020).

"Saya sangat percaya bahwa Facebook tidak seharusnya menjadi penentu kebenaran dari semua yang dikatakan orang di online. Secara umum, perusahaan swasta, khususnya perusahaan platform, tidak mengambil posisi itu," ujarnya.

Setiap cuitan Trump di Twitter akan diposting kembali di Facebook. Hingga kini postingan Trump tersebut tidak dihapus oleh Facebook.

Sebelumnya, Twitter melabeli dua cuitan Trump sebagai tak berdasar atau sesat soal pemungutan suara melalui surat suara akan menyebabkan manipulasi pemilih dan "Pemalsuan Pemilu".

Cuitan Trump itu mengarahkan ke dugaannya atas kecurangan yang terjadi di California. Ia mengatakan siapapun yang tinggal di negara bagian itu, akan dikirimi surat suara padahal sebenarnya mereka sudah dipastikan bisa pergi ke bilik suara di mana mereka terdaftar.





Di bawah cuitan Trump itu, Twitter memosting tautan yang bertuliskan "Dapatkan fakta tentang surat suara masuk". Termasuk membawa pengguna ke sebuah link berita media AS yakni CNN dan Washinton Post soal klaim Trump yang tak berdasar.

"Trump secara keliru mengklaim bahwa surat suara secara langsung akan mengarah pada 'Pemalsuan Pemilu'," tulis Twitter dikutip dari AFP. "Namun, pemeriksa fakta mengatakan tidak ada bukti bahwa surat suara yang masuk terkait dengan penipuan pemilih."

Cuitan Trump melanggar kebijakan Twitter soal informasi yang kredibel. Termasuk membatasi penyebaran informasi yang berbahaya.

Langkah ini mendapat tanggapan marah dari Trump. Ia berujar Twitter ikut campur dalam urusan Pemilihan Presiden AS 2020.

"Twitter benar-benar mengekang "KEBEBASAN BERBICARA", dan saya sebagai presiden tidak akan membiarkan itu terjadi," katanya.

Menanggapi serangan Bos Facebook, CEO Twitter Jack Dorsey mengatakan pemeriksaan kebenaran lewat fitur cek fakta bukan penentu kebenaran. Fitur ini tidak hanya menghubungkan pernyataan yang bertentangan dan menunjukkan informasi yang masih diperdebatkan sehingga pengguna dapat menilai sendiri.

"Ini tidak membuat kami menjadi 'wasit kebenaran," tulis Jack Dorsey di akun twitternya.

[Gambas:Video CNBC]





(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading