Internasional

Setor Rp 17 T, Trump Booking 300 Juta Dosis Vaksin Corona

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
22 May 2020 13:45
A lab assistant holds a blood sample to be tested for COVID-19 antibodies, Tuesday, April 28, 2020, at Principle Health Systems and SynerGene Laboratory, in Houston. The company, which opened two new testing locations Tuesday, is now offering a new COVID-19 antibody test developed by Abbott Laboratories. (AP Photo/David J. Phillip)
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat mendapatkan hampir sepertiga dari satu miliar dosis pertama vaksin COVID-19 eksperimental milik perusahaan farmasi AstraZeneca yang harganya mencapai hingga US$ 1,2 miliar (lebih dari Rp 17,7 triliun).

Trump melakukan hal ini ketika banyak negara di dunia berebut dan berlomba mendapatkan obat dan vaksin untuk mengembalikan ekonomi negara mereka masing-masing, setelah diterjang virus corona jenis baru ini.




Meskipun belum terbukti efektif melawan SARS-CoV-2, vaksin dipandang sebagai satu-satunya cara untuk memulai kembali ekonomi dunia yang macet. Bahkan untuk mendapatkan keunggulan dari pesaing global.



Departemen Kesehatan AS setuju untuk menyediakan sejumlah biaya tersebut guna mempercepat pengembangan vaksin dari AstraZeneca dan mengamankan 300 juta dosis untuk negara Paman Sam tersebut.

"Kontrak ini dengan AstraZeneca adalah tonggak utama dalam pekerjaan Operation Warp Speed menuju vaksin yang aman, efektif, tersedia secara luas pada tahun 2021," kata Sekretaris Kesehatan AS Alex Azar, dikutip dari AFP.

Vaksin, yang sebelumnya diberi nama ChAdOx1 nCoV-19 dan sekarang diberi nama AZD1222 ini dikembangkan oleh University of Oxford, serta dilisensikan kepada perusahaan obat asal Inggris AstraZeneca.



Sayangnya hingga kini, belum pasti apakah vaksin ini dapat menembus kekebalan virus corona pasti. Namun kesepakatan dengan AS memungkinkan uji klinis tahap akhir atau fase III dari vaksin dengan uji coba kepada 30.000 masyarakat di AS.

AstraZeneca, yang berbasis di Cambridge, Inggris, menyatakan telah menyelesaikan perjanjian untuk setidaknya 400 juta dosis vaksin dan mengamankan kapasitas produksi untuk satu miliar dosis, dengan pengiriman pertama akan dimulai pada bulan September mendatang.

Perusahaan farmasi paling berharga pada Indeks FTSE 100 blue-chip Inggris ini setuju untuk memberikan 100 juta dosis kepada orang-orang di Inggris, dengan 30 juta dosis pada September. Para menteri telah berjanji bahwa Inggris akan mendapatkan akses pertama untuk vaksin tersebut.

"Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada pemerintah AS dan Inggris atas dukungan substansial mereka untuk mempercepat pengembangan dan produksi vaksin," kata Kepala Eksekutif AstraZeneca Pascal Soriot.

Di sisi lain, AstraZeneca mengatakan sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah dan mitra di seluruh dunia, seperti Serum Institute of India, untuk meningkatkan akses dan produksi, dan berbicara kepada berbagai organisasi mengenai alokasi dan distribusi vaksin yang adil.

Serum Institute of India, pembuat vaksin terbesar di dunia berdasarkan volume, telah mendedikasikan salah satu fasilitasnya dengan kapasitas untuk memproduksi hingga 400 juta dosis per tahun untuk memproduksi vaksin Oxford.

"Kami meningkatkan secara konservatif sekitar 4 hingga 5 juta dosis per bulan, sebagai permulaan," kata Chief Executive Adar Poonawalla kepada Reuters.

Sebelumnya, AS sudah mencapai kesepakatan untuk mendukung pengembangan vaksin dengan perusahaan Johnson & Johnson (J&J), Moderna, dan Sanofi. Namun kesepakatan ini memicu kekhawatiran jika hanya negara-negara terkaya saja yang dapat memiliki akses terhadap vaksin penyakit COVID-19 ini.

Kini sudah ada lebih dari 5,1 juta kasus terjangkit di seluruh dunia, dengan lebih dari 330 ribu kematian, dan lebih dari 2 juta pasien berhasil sembuh. AS sendiri merupakan negara dengan kasus terjangkit terbanyak secara global, dengan lebih dari 1,6 juta kasus, lebih 96 ribu kematian, dan lebih dari 380 ribu sembuh.

[Gambas:Video CNBC]





(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading