Matahari Lockdown, NASA Khawatir Bencana Ini Terulang Lagi

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
18 May 2020 14:18
Workers are silhouetted against the rising sun as they toil on a new apartment building in Kansas City, Mo. Wednesday, April 8, 2020. Construction workers are among the people exempt from the city's stay-at-home order which remains in effect in an effort to slow the spread of the new coronavirus. (AP Photo/Charlie Riedel)
Jakarta, CNBC IndonesiaMatahari dikabarkan telah melakukan lockdown atau mengunci diri sendiri selama dua tahun terakhir. NASA pun mengkhawatirkan akan terjadi bencana alam di bumi.

Matahari mengalami lockdown ketika Sunspot (bintik matahari) terus berkurang. Berdasarkan pemantauan para ahli sekara tata surya kita memasuki periode 'minimum matahari' yang berarti aktivitas di permukaan matahari telah turun secara drastis. Tata surya akan mengalami resesi sinar matahari.


"Hitungan Sunspot (titik matahari), ini adalah salah satu yang terdalam abad ini. Medan magnet matahari menjadi lemah, memungkinkan sinar kosmik ekstra ke tata surya," ujar Astronom Tony Philips, seperti dilansir dari New York Post, Senin (18/5/2020).


Bintik matahari adalah aktivitas magnet di permukaan matahari. Ini merupakan indikasi aktivitas matahari yang melahirkan semburan matahari dan lontaran massa korona matahari. Bintik matahari dijadikan ilmuan sebagai cara membaca siklus matahari.

Berdasarkan pantauan para ilmuwan kekosongan bintik matahari ini telah mencapai 76% dari seluruh matahari. Tahun lalu persentasenya lebih tinggi hingga 77%.

Para ilmuwan NASA khawatir ini akan mengulangi periode Dalton Minimum, yang terjadi pada 1790 dan 1830. Ketika itu bumi mengalami periode dingin yang brutal, kehilangan panen, kelaparan dan letusan gunung berapi yang kuat.

Pada periode itu suhu merosot hingga 2 derajat celcius selama 20 tahun, menghancurkan produksi pangan dunia.

Pada 10 April 1815, terjadi letusan gunung berapi terbesar kedua dalam 2.000 tahun. Letusan tersebut terjadi di Gunung Tamboro, Nusa Tenggara Barat, yang menewaskan 71.000 orang.

Pada 1816, terjadi periode yang dijuluki Tahun Tanpa Musim Panas atau ngetren dengan nama delapan belas ribu dan membeku hingga mati, ketika salju turun di Juli.


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading