Jika Terpilih, Ini Tugas Berat Nadiem Sebagai Menteri Digital

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
16 October 2019 14:14
Jika Terpilih, Ini Tugas Berat Nadiem Sebagai Menteri Digital
Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Nadiem Makarim dikabarkan masuk radar Istana untuk mengisi posisi menteri. Pendiri dan CEO Gojek ini diproyeksikan jadi menteri ekonomi digital.

"Nadiem sudah berhubungan langsung dengan Presiden. Tunggu saja ada kabar mengejutkan tentang pentolan Gojek ini," ujar sumber CNBC Indonesia di lingkungan Istana, Rabu (16/10/2019).




Jika terpilih tugas Nadiem sebagai menteri ekonomi digital tidaklah ringan. Selain harus membesarkan kementerian baru, Nadiem juga dituntut untuk bisa memaksimalkan potensi ekonomi digital Indonesia.

Laporan Google, Temasek dan Bain & Company, tahun ini ekonomi digital Indonesia berpotensi tumbuh menjadi US$40 miliar dan pada tahun 2025 meningkat menjadi US$130 miliar. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor ride-hailing, e-commerce dan digital payment.


Jika Terpilih, Ini Tugas Berat Nadiem Sebagai Menteri DigitalFoto Infografis: Nadiem Makarim, Pendiri dan CEO Gojek (CNBC Indonesia/Arie Pratama)


Untuk memanfaatkan ekonomi digital tersebut, kementerian digital harus menyelesaikan beberapa masalah. Yakni, masalah pendanaan dan regulasi yang masih banyak. Biaya logistik Indonesia yang masih tinggi serta internet yang masih lambat.

Menurut riset OpenSignal pada Mei 2019, Indonesia berada diposisi ke-73 dan 87 negara soal kecepatan internet download. Indonesia masih kalah bila dibandingkan dengan Singapura, Filipina, Vietnam atau Myanmar. Padahal kecepatan internet menjadi salah satu prasyarat untuk kembangkan ekonomi digital.




Lainnya terkait talenta digital. Software Engineer Gojek Giri Kuncoro  mengatakan berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kebutuhan tenaga kerja digital sekitar 600 ribu orang per tahun dan masih belum bisa dipenuhi. Tingginya kebutuhan karena banyak perusahaan teknologi dan startup yang lahir beberapa tahun belakangan.

"Jadi ada gap antara suplai dan demand, jumlahnya sekitar 600 ribu orang per tahun. Kalau gap 600 ribu orang ini terus-terusan, kalau ditarik 10 tahun ke depan kan artinya jadi 6-7 juta orang gapnya," kata Giri kepada CNBC Indonesia.




Sementara Bekraf juga menyebutkan pada 2030 dengan pesatnya perkembangan ekonomi digital, tenaga kerja yang dibutuhkan mencapai 17 juta orang. SDM digital memiliki peran penting untuk memaksimalkan ekonomi digital. Tanpa talenta yang cukup maka perkembangan akan terganggu dan bisa menjadi pintu masuk membanjirnya tenaga kerja asing ke Indonesia.


(roy/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading