Wah, BI Sebut Game Online Bisa Rugikan Negara!

Tech - Iswari Anggit Pramesti, CNBC Indonesia
27 March 2019 15:42
Wah, BI Sebut Game Online Bisa Rugikan Negara!
Jakarta, CNBC Indonesia - Siapa sangka bermain game online ternyata bisa merugikan negara?

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menjelaskan ketika seseorang mengunduh game online berbayar yang notabene publisher atau studionya dari luar negeri sama saja dengan mengalirkan dana ke luar negeri. Apalagi jika hal ini terjadi terus menerus, maka defisit neraca pembayaran Indonesia akan semakin melebar.

Ia mengatakan, misalnya harga satu game online sebesar Rp 7.000 sampai Rp 10.000 atau sekitar US$ 0,5, namun ketika yang mengunduh mencapai dua juta orang per hari, tentu membuat dana yang keluar dari Indonesia cukup besar.


"Kalau kita main game itu kelihatan enggak di NPI? Sekarang sih enggak, tapi yang pasti itu uang Indonesia ke luar. Mungkin hanya setengah dolar, tapi kalau yang main dua juta orang, ya itu uang keluar untuk games itu," ujarnya dalam Seminar Nasional: Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan, Rabu (27/3/2019).

Wah, BI Sebut Game Online Bisa Rugikan NegaraFoto: Wacana Pelarangan Permainan PUBG Menyeruak di Malaysia (CNBC Indonesia TV)


Oleh karena itu, Mirza mendorong agar generasi penerus Bangsa Indonesia, yang sering disebut generasi milenial mampu menciptakan game sendiri. Bila perlu game yang mampu menarik perhatian WNA, sehingga ketika mereka mengunduh, akan membawa aliran dana masuk ke dalam negeri.

"Bisa enggak kita bikin game? Enggak bisa? Teman-teman kita di ITB, ITS, bikin game yang diproduksi Indonesia? Mungkin sudah ada ya, tapi itu memang bagus kalau bisa. Tapi kan artinya perlu skill."

Selain mendorong generasi milenial Indonesia menciptakan game online berbayar, Mirza juga ingin agar anak bangsa bisa lebih menekuni dunia industri kreatif lainnya, seperti perfilman. Menurutnya, jika film karya anak bangsa bisa diputar di luar negeri, tentu turut menyumbang aliran dana masuk.

"Sekarang banyak PH di Indonesia, dan sekarang kita bisa jadi tuan rumah untuk film-film kita di Indonesia ini. Kalau zaman dulu saya SMA, SMP, nonton film barat semua, film luar negeri, silat dari Hong Kong."

Dengan demikian, Bank Indonesia berharap neraca pembayaran RI bisa semakin baik. Pasalnya, neraca pembayaran Indonesia sepanjang tahun 2018 lalu defisit US$ 7,1 miliar. Padahal di tahun 2017 neraca pembayaran Indonesia surplus US$ 11,6 miliar.





(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading