Simak, Awal Mula Terjadinya 'Perang Dingin' OVO Vs Gopay

Tech - Fikri Muhammad, CNBC Indonesia
24 January 2019 10:43
Simak, Awal Mula Terjadinya 'Perang Dingin' OVO Vs Gopay
Jakarta, CNBC Indonesia - Pada masa ini perkembangan teknologi kian mengubah pandangan dunia lebih signifikan dari sebelumnya. Hadirnya transaksi non-tunai menjadi cara revolusioner dalam dunia perekonomian. Bagi sektor keuangan inovasi teknologi bukanlah hal baru. Tetapi memang intensitas pembahasan dan kajian keterkaitan antar keuangan dan teknologi cukup tinggi belakangan ini.

Muhammad Afdi Nizar dalam jurnal ilmiah terbitan Warta Fiskal tahun 2017 menyebutkan bahwa teknologi dan keungan memiliki sejarah yang panjang. Teknologi keuangan (financial technology) menurut Nizar sebetulnya sudah dipicu dari tahun 1960 dengan kemunculan kartu kredit. Kemudian berkembang pada teknologi telephone banking pada 1980.

Lalu, mengenai kegiatan pembayaran online yang mengalami pertumbuhan massif juga diungkapkan oleh pria yang bekerja sebagai peneliti di Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan itu. Hal pertumbuhan kegiatan pembayaran online disebabkan oleh booming yang terjadi pada model pinjaman (peer-to-peer, lending, P2PL) yang meningkat dari US$ 11 juta (setara dengan Rp 1,5 miliar) dalam tahun 2015 menjadi US$ 28,47 juta (setara dengan Rp 378,9 miliar) dalam tahun 2016.






Secara praktik, apa yang dikatakan oleh Nizar bisa dibenarkan. Go-Jek mendapatkan peningkatan transaksi peer to peer melalui Go-Pay tiap bulanya sebesar 35% di tahun 2017.

Sejak pertengahan tahun 2016, Go-Pay memang memberikan kemudahan untuk berbagai kalangan. Crystal Widjadja selaku SVP, Business Intelliggence dan Growth Go-Jek mengatakan bahwa melonjaknya penggunaan layanan pembayaran secara digital itu dikarenakan oleh kemudahan yang ditawarkan kepada pengguna dalam melakukan pembayaran seperti jasa layanan perusahaan maupun kebutuhan sehari-hari.

Sebelumnya, Go-Pay bernama Go-Ojek Credit. Hanya menggunakan satu rekening bank tertentu. Tidak bersifat real time dan harus melakukan konfirmasi ulang untuk setiap transfer.

Go-Pay kini sudah resmi menjadi platform uang elektronik dengan menambah fitur transfer, receive, dan withdraw. Proses ini berlangsung secara berangsur-angsur dan tersedia untuk para pengguna. Ia juga merupakan salah satu uang elektronik yang sudah mendapat izin dari Bank Indonesia selaku pihak yang mengatur regulasi sistem pembayaran.

Go-Pay sudah mengantongi izin No. 16/98/DKSP tanggal 17 Juni 2014 dengan tangga efektif 29 September 2014. Go-Pay sendiri berada di naungan PT Dompet Anak Bangsa yang sebelumnya berada pada naungan PT MV Commerce Indonesia.

Kemudian World Bank dalam situs resminya juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi keuangan juga menawarkan banyak peluang ke pemerintah. Karena bisa membuat sistem keuangan lebih efisien dan kompetitif. Selain itu, teknologi keungangan juga memeperluas akses layanan keuangan ke populasi yang kurang terlayani.

Besarnya peluang ini juga digarap oleh perusahan besar sekelas Lippo. Berada di naungan LippoX, sebuah smart financial apps diluncurkan pada Maret 2017 bernama OVO. Aplikasi ini mencoba mengakomodasikan berbagai kebutuhan keuangan tanpa uang tunai dan pembayaran seluler.

OVO juga sudah mengantongi izin dari Bank Indonesia dan termasuk dalam Daftar Penyelenggara Uang elektronik yang Telah Memperoleh Izin dari Bank Indonesia Per 21 Januari 2019. Situs resmi Bank Indonesia menyebutkan bahwa nama produk OVO Cash surat dan tanggal izin No. 19/661/DKSP/Srt/B tanggal 7 Agustus 2017 yang memiliki tanggal operasionalnya pada 22 Agustus 2017. OVO sendiri berada pada naungan PT Visionet Internasional.

Perkembangan dunia tanpa uang tunai dirasakan oleh Co-Founder ¾ Coworking Space, Muhammad Pradytio Nugroho. Menurutnya keadaan ini bermanfaat bagi efisiensi waktu. Namun bila tidak di kelola dengan baik secara financial planning hal ini menjadi berbahaya. Karena bagi seseorang yang lebih suka mengeluarkan uang elektronik dibanding cash akan berpengaruh pada dampak psikologis.

"Gue liat sekarang udah jarang banget yang megang uang cash. Apapun transaksi secara online, bahkan makan di warteg pun gua bayar pake go-pay ke temen gue yang pake cash. Gue pernah riset kecil-kecilan bahwa online payment itu ngebuat orang jadi ketagihan buat Top-Up terus. Nah ini konsepnya mirip banget sama kartu kredit," ucap Pradityo pada CNBC Indonesia via pesan Line (23/1/2019).

Mengenai dampak psikologis pada perilaku pengguna transaksi uang elektronik sepertinya juga berpengaruh pada perilaku konsumtif. Seperti yang dikatakan oleh Seorang Mahasiswi Negeri di Bandung bernama Fitriyah Permatasari.

"Jadi aku jarang banget pake cash. Uang ada di debit dan kebetulan nggak punya kredit. Secara psikologis ini berkaitan dengan habit-ku yang suka belanja online dan promo. Nominalnya sih nggak banyak, setiap belanja mulai dari 20-200 ribu untuk kosmetik, sepatu, dan baju. Sampai untuk uang jajan aku dipake 50 persenya untuk belanja," ucap Fitriyah pada CNBC Indonesia.

Simak Artikel Selanjutnya Tentang OVO Vs Gopay!


[Gambas:Video CNBC]


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading