Trump Kembali Ancam Facebook, Twitter, dan Google

Tech - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
29 August 2018 12:40
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Facebook, Twitter dan Google di hari Selasa (28/8/2018) siang.
Trump berkomentar di waktu yang tepat. Pasalnya, para perwakilan Google, Facebook, dan Twitter akan bersaksi di hadapan Kongres minggu depan. Mereka akan mendiskusikan penyensoran dan campur tangan pemilu.

Untuk kedua kalinya, para perwakilan dari semua perusahaan terkait akan menghadiri sidang di Capitol Hill untuk membahas kekhawatiran tentang campur tangan dalam pemilu.

Fakta tentang FacebookFoto: Edward Ricardo
Fakta tentang Facebook
Bagi Facebook, sidang semacam ini akan menjadi yang ketiga kalinya setelah CEO Mark Zuckerberg diinterogasi terkait skandal kebocoran data Cambridge Analytica di awal tahun ini. Direktur Eksekutif Twitter Jack Dorsey dan Direktur Operasional Facebook Sheryl Sandberg ada di antara para pejabat perusahaan yang memastikan hadir dalam persidangan tersebut.


Facebook dan Twitter telah menangguhkan ratusan akun menjelang pemilu paruh waktu di bulan November demi menghindari campur tangan dari pemain luar negeri.

Pekan lalu, Facebook telah menghapus 652 laman, grup, dan akun terkait Iran karena "perilaku tidak otentik terkoordinasi" yang menargetkan masyarakat AS, Inggris, Amerika Latin dan Timur Tengah. Sampai hari Selasa, Twitter sudah menghapus 770 akun karena "manipulasi yang terkoordinasi" menjelang pemilu paruh waktu.

Seluruh komentar Trump muncul untuk menggambarkan pandangan yang lebih luas di kalangan konservatif bahwa platform digital menyensor mereka.

Belakangan, presiden juga menuduh Twitter melakukan "shadow banning" atau pemblokiran diam-diam terhadap anggota terkemuka dari Partai Republik dan menyebut praktik tersebut "diskriminasi dan ilegal". Diduga, langkah tersebut dilakukan untuk membatasi hasil pencarian. Twitter sudah membantah klaim tersebut.


Kemudian di awal bulan ini, berbagai perusahaan teknologi termasuk Apple, Facebook, YouTube, Pinterest, dan Spotify melakukan tindakan terhadap konten dari ahli teori konspirasi sayap kanan Alex Jones. Mereka menghapus podcast, laman, dan konten lainnya.

Perusahaan-perusahaan teknologi berkata mereka menghapus konten Jones karena melanggar berbagai kebijakan terkait ujaran kebencian dan pelecehan.

"Apple tidak menoleransi ujaran kebencian, dan kami memiliki pedoman jelas bahwa para kreator dan pengembang harus mengikutinya untuk memastikan kami menyediakan lingkungan yang aman bagi semua pengguna kami," kata Apple saat itu.

Beberapa komentator sayap kanan telah mengkritisi penghapusan masal terhadap konten Jones dan menyebut langkah tersebut sama dengan penyensoran.
(prm)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading