Ubay bin Ka'ab, Ahli Al-Qur'an yang Dipilih Mendengar Wahyu Langsung
Jakarta, CNBC Indonesia - Peristiwa Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Pada malam itulah Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira melalui wahyu Surat Al-'Alaq ayat 1-5. Sejak saat itu, Al-Qur'an turun secara bertahap dan dijaga melalui hafalan para sahabat.
Di antara sahabat yang dikenal sebagai penghafal sekaligus ahli Al-Qur'an adalah Ubay bin Ka'ab. Ia merupakan penduduk Yatsrib atau Madinah yang sangat cerdas, gemar membaca, dan pandai menulis. Pada masa itu, kemampuan literasi merupakan hal yang langka, sehingga keahlian Ubay menjadikannya sosok penting di tengah masyarakat.
Ketika Mus'ab bin Umair diutus Rasulullah SAW ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam, Ubay termasuk di antara orang-orang yang segera menerima dakwah tersebut. Ia kemudian menyatakan keislamannya, mengikuti Baiat Aqabah, serta turut menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW saat hijrah ke Yatsrib
Ubay dikenal sebagai sahabat yang memiliki ketakwaan mendalam. Ia kerap menangis saat menyebut nama Allah SWT, dan suaranya yang penuh penghayatan ketika membaca Al-Qur'an membuat orang-orang di sekitarnya ikut terharu.
Amanah dari Langit untuk Ubay
Suatu ketika, Rasulullah SAW menyampaikan kabar yang membuat Ubay bin Ka'ab terharu. Nabi bersabda bahwa beliau diperintahkan oleh Malaikat Jibril untuk membacakan Al-Qur'an secara khusus kepadanya.
Dengan penuh takjub, Ubay bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah namaku disebut kepadamu?" Nabi menjawab bahwa bukan hanya namanya yang disebut, tetapi juga nasabnya disebut di hadapan penduduk langit. Mendengar itu, Ubay menangis, menyadari besarnya amanah yang ia emban sebagai penjaga wahyu.
Â
Dalam riwayat tersebut, Rasulullah kemudian membacakan firman Allah dalam QS Al-Bayyinah ayat 1-8 kepadanya. Peristiwa ini menjadi bukti kedudukan istimewa Ubay dalam hal penguasaan dan penjagaan Al-Qur'an.
Sepanjang hidupnya, Ubay menjadi panutan dalam hal Al-Qur'an. Khalifah Umar bin Khattab bahkan pernah menyebutnya sebagai tokoh utama kaum Muslimin dalam urusan Al-Qur'an. Perannya menunjukkan bahwa sejak masa awal Islam, penjagaan wahyu dilakukan melalui kombinasi hafalan, pengajaran, dan pencatatan.
Kepergian Ubay bin Ka'ab meninggalkan duka mendalam. Banyak kaum Muslimin yang mengantar jenazahnya sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan keteladanannya dalam menjaga serta mengajarkan Al-Qur'an.
Momentum Nuzulul Quran setiap Ramadan menjadi pengingat bahwa Al-Qur'an tidak hanya diturunkan sebagai bacaan, tetapi juga sebagai pedoman hidup. Tradisi tadarus dan khataman yang semarak di berbagai masjid hari ini merupakan kelanjutan dari warisan para sahabat seperti Ubay bin Ka'ab mereka yang menjaga wahyu dengan hafalan, ketakwaan, dan pengorbanan.
Â
(mae/mae) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]