Malam Nuzulul Qur'an Tiba, 5 Alasan Al-Qur'an Diturunkan Tak Sekaligus
Jakarta, CNBC Indonesia - Setiap Ramadan, umat Islam menanti-nanti malam Nuzulul Al-Qur'an, yaitu malam turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW.
Ayat-ayat di Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.
Wahyu pertama yang turun di Gua Hira melalui perantara Malaikat Jibril adalah perintah membaca, dan setelah itu ayat-ayat Al-Qur'an terus turun mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW dan masyarakat saat itu.
Berikut catatan hikmah dibalik turunnya Al-Quran yang berangsur-angsur.
1. Menguatkan Hati Rasulullah
Salah satu hikmah utama turunnya Al-Qur'an secara berangsur-angsur adalah untuk menguatkan dan menenangkan hati Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan tugas dakwahnya.
Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Furqan ayat 32, ketika orang-orang kafir mempertanyakan mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus.
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةًۛ كَذٰلِكَۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا ٣٢
wa qâlalladzîna kafarû lau lâ nuzzila 'alaihil-qur'ânu jumlataw wâḫidah, kadzâlika linutsabbita bihî fu'âdaka wa rattalnâhu tartîlâ
Orang-orang yang kufur berkata, "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?" Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).
Pada masa awal dakwah, Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai tekanan, penolakan, bahkan permusuhan dari kaum Quraisy. Turunnya ayat-ayat Al-Qur'an secara berkala menjadi sumber penguatan spiritual bagi Rasul dalam menghadapi tantangan tersebut.
2. Menjawab Tantangan Kaum Penentang dan Pembelajaran Bagi Nabi Muhammad
Turunnya ayat Al-Qur'an secara bertahap juga berfungsi untuk menjawab berbagai pertanyaan dan tantangan dari kaum kafir yang berusaha mendustakan ajaran Islam.
Pada masa itu, orang-orang yang menentang Nabi Muhammad SAW kerap melontarkan pertanyaan sulit untuk menyudutkan beliau. Melalui wahyu yang turun secara bertahap, Allah memberikan jawaban atas berbagai persoalan tersebut, sekaligus menunjukkan kebenaran ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Hal ini juga menjadi media pembelajaran bagi Nabi Muhammad SAW, karena tidak jarang Allah SWT menegur rasulnya ketika beliau membuat kesalahan dalam berdakwah.
Sebuah contoh cerita dari hikmah ini tertulis pada Surah Al-Kahfi ayat 23 hingga 24. Ayat ini turun sebagai teguran kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau menjanjikan akan memberikan jawaban atas pertanyaan orang-orang Quraisy tentang roh, kisah penghuni gua (Ashabul Kahfi), dan kisah Zulkarnain.
وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ ٢٣
wa lâ taqûlanna lisyai'in innî fâ'ilun dzâlika ghadâ
Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, "Aku pasti melakukan hal itu besok,"
اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا ٢٤
illâ ay yasyâ'allâhu wadzkur rabbaka idzâ nasîta wa qul 'asâ ay yahdiyani rabbî li'aqraba min hâdzâ rasyadâ
kecuali (dengan mengatakan), "Insyaallah." Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini."
Ketika itu, Rasul belum mengetahui jawabannya karena belum menerima wahyu terkait jawaban tersebut. Allah SWT kemudian mengajarkan Rasul tentang pentingnya mengucap "InsyaAllah" sebelum akhirnya menurunkan jawaban yang dibutuhkan Nabi Muhammad SAW.
3. Lebih Mudah Dihafal dan Dipahami
Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur juga agar lebih mudah dihafal, dipahami, dan diamalkan oleh umat Islam.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, tradisi hafalan sangat kuat dalam masyarakat Arab. Ketika ayat-ayat Al-Qur'an turun sedikit demi sedikit, para sahabat dapat menghafalnya dengan lebih mudah sebelum kemudian menyampaikannya kepada orang lain.
Ditambah lagi penulisan wahyu pada masa itu masih sangat terbatas dengan hanya mengandalkan pelepah kurma, tulang, dan batu sebagai media tulis.
Bahkan penulisan dan pembukuan Mushaf Al-Quran baru resmi dilakukan di masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Usman Bin Affan, beberapa tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW.
Karena itu, proses bertahap ini sangat membantu umat Islam memahami isi Al-Qur'an secara lebih mendalam, karena setiap ayat dapat dipelajari dan diamalkan sebelum ayat berikutnya turun.
4. Menyesuaikan dengan Peristiwa di Masyarakat
Salah satu keunikan Al-Qur'an adalah banyak ayatnya turun mengiringi peristiwa yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, wahyu langsung menjadi pedoman dalam kehidupan nyata.
Selain itu, beberapa aturan dalam Islam juga ditetapkan secara bertahap agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Salah satu contoh yang sering disebut adalah proses pengharaman khamar atau minuman keras.
Pada tahap awal, Al-Qur'an menyebut bahwa khamar memiliki manfaat tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 219.
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ ٢١٩
yas'alûnaka 'anil-khamri wal-maisir, qul fîhimâ itsmung kabîruw wa manafi'u lin-nâsi wa itsmuhumâ akbaru min-naf'ihimâ, wa yas'alûnaka mâdzâ yunfiqûn, qulil-'afw, kadzâlika yubayyinullâhu lakumul-âyâti la'allakum tatafakkarûn
Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. (Akan tetapi,) dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." Mereka (juga) bertanya kepadamu (tentang) apa yang mereka infakkan. Katakanlah, "(Yang diinfakkan adalah) kelebihan (dari apa yang diperlukan)." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berpikir
Kemudian pada tahap berikutnya, umat Islam dilarang melaksanakan salat dalam keadaan mabuk, sebagaimana disebut dalam Surah An-Nisa ayat 43. Lalu hukum eksplisit tentang haramnya khamr akhirnya diturunkan pada Surah Al-Maidah ayat 90.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٩٠
yâ ayyuhalladzîna âmanû innamal-khamru wal-maisiru wal-anshâbu wal-azlâmu rijsum min 'amalisy-syaithâni fajtanibûhu la'allakum tufliḫûn
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
Pendekatan bertahap ini menunjukkan bagaimana Islam secara perlahan membangun perubahan sosial.
5. Bukti Kebenaran Al-Qur'an
Turunnya Al-Qur'an selama lebih dari dua dekade juga menjadi bukti keistimewaan dan keotentikannya.
Meski diturunkan dalam rentang waktu yang panjang dan dalam berbagai situasi yang berbeda, isi Al-Qur'an tetap memiliki keserasian dan konsistensi antara satu ayat dengan ayat lainnya.
Hal ini diberitakan Allah SWT lewat Surah Al-Hijr ayat 9:
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ ٩
innâ naḫnu nazzalnadz-dzikra wa innâ lahû laḫâfidhûn
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.
source on Google