MARKET DATA

Khalid bin Walid: Bagaimana Panglima Islam Membaca Medan Perang?

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
26 February 2026 03:30
Ilustrasi Perang Badar
Foto: Detik

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Khalid bin Walid selalu muncul dalam sejarah militer Islam sebagai sosok jenderal brilian. Dijuluki Saifullah al-Maslul atau "Pedang Allah yang Terhunus", ia dikenal karena kecerdikan membaca situasi perang.

Dari Arabia hingga Suriah, kiprahnya ikut membuka jalan bagi ekspansi Islam pada abad ke-7.

Terlahir Dengan Sendok Emas

Khalid bin Walid lahir sekitar tahun 592 M dari keluarga terpandang Bani Makhzum di Makkah. Ayahnya Walid bin Mughirah dikenal kaya dan berpengaruh, sementara ibunya Lubaba berasal dari keluarga terhormat.

Sejak kecil Khalid mendapat fasilitas lengkap untuk mengasah kemampuan berkuda, menggunakan senjata, hingga taktik militer. Ia pernah menjadi musuh Islam dan memimpin pasukan Quraisy dalam Perang Uhud (625 M).

Namun sekitar 627-629 M, Khalid mendapat hidayah dan memeluk Islam. Ia ikut dalam berbagai misi militer di Jazirah Arab. Sepeninggalan Rasulullah, Khalid menjadi salah satu jenderal utama dalam ekspansi Islam di era Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Peran Penting dalam Ekspansi Islam

Khalid bin Walid memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas wilayah Muslim setelah wafat Nabi. Ia berhasil merebut kembali beberapa daerah yang sempat memberontak, lalu dikirim Khalifah Abu Bakar untuk menaklukkan Irak. Di sana ia sukses merebut Al-Hirah sebelum bergerak menuju Suriah.

Salah satu momen paling monumental adalah Pertempuran Yarmuk (636 M) melawan Bizantium. Meski jumlah pasukan Muslim lebih kecil, Khalid mampu memukul mundur lawan dan membuka jalan bagi penaklukan Damaskus serta wilayah Syam lainnya.

Menariknya, meskipun sempat dicopot dari jabatan panglima oleh Khalifah Umar, Khalid tetap setia berjuang sebagai komandan lapangan. Sikap tawadhu' ini justru memperkuat reputasinya sebagai pemimpin militer yang tidak haus jabatan

Taktik Perang: Cerdas, Adaptif, dan Psikologis

Selain berani, Khalid juga memiliki kecerdasan strategi perang. Ia dikenal fleksibel membaca kondisi medan perang.

Misalnya, dalam beberapa pertempuran ia membagi pasukan menjadi puluhan kontingen, memutar posisi sayap kanan dan kiri untuk mengecoh lawan, serta menyiapkan pasukan cadangan yang datang belakangan seolah bantuan baru. Strategi ini menggoyahkan mental musuh yang merasa kalah jumlah.

Dalam Perang Mu'tah (perang pertamanya setelah masuk Islam) Khalid berhasil menyelamatkan pasukan Muslim yang sempat kacau setelah para pemimpin gugur. Ia mengatur ulang formasi, melakukan manuver taktis, dan menggunakan kamuflase pasukan agar musuh ragu menyerang.

Strategi lain yang terkenal adalah memanfaatkan momentum kelalaian lawan, seperti yang pernah ia lakukan saat Perang Uhud sebelum masuk Islam. Kemampuan membaca celah lawan inilah yang membuatnya hampir selalu unggul di medan perang.

 

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular