Dolar Ditendang di Mana-Mana: Yen, Won-Rupiah Perkasa, Yuan Malah Loyo
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Dorongan positif bagi mata uang Asia terjadi di tengah pelemahan dolar AS di saat berlangsungnya penghitungan suara pemilu sela AS.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.22 WIB, delapan dari 10 mata uang Asia yang dipantau menguat terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang lainnya yang melemah.
Yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam pagi ini. Yen menguat 0,59% ke posisi JPY157,71/US$.
Won Korea Selatan menyusul dengan kenaikan 0,52%, sementara baht Thailand menguat 0,21% dan ringgit Malaysia berhasil terapresiasi 0,15%.
Dolar Singapura juga bergerak positif dengan penguatan 0,12%. Rupiah ikut menguat 0,11% ke posisi Rp18.115/US$.
Dong Vietnam dan peso Filipina masing-masing menguat 0,08% dan 0,03%.
Di sisi lain, yuan China menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam setelah melemah 0,16%. Dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang lain yang berada di zona merah dengan koreksi 0,08%.
Dolar AS pagi ini sedang berada di bawah tekanan seiring dengan investor yang mulai mencermati hasil pemilu sela AS yang tengah berlangsung. Indeks dolar AS (DXY) pada perdagangan pagi ini tercatat melemah 0,42% ke posisi 101,446.
Pelemahan tersebut terjadi seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap kemungkinan perubahan komposisi kekuatan politik di Kongres AS.
Hasil awal penghitungan suara menunjukkan Senator Partai Demokrat Jon Ossoff berhasil mempertahankan kursinya di Georgia. Namun, hasil pemilu secara keseluruhan masih terus dihitung untuk menentukan apakah Partai Demokrat mampu mengambil alih kendali Kongres dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.
Perubahan komposisi Kongres berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal AS, terutama terkait belanja pemerintah, anggaran, dan kebijakan ekonomi Trump ke depan.
Carol Kong, ahli strategi mata uang Commonwealth Bank of Australia, menilai dolar AS masih berpotensi menghadapi tekanan tambahan apabila Partai Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres.
"Jika hal itu terjadi, dolar AS bisa melemah lebih jauh karena kemenangan Demokrat di kedua kamar Kongres akan membatasi belanja pemerintah selama masa jabatan Trump," ujar Kong, dikutip dari Reuters.
Pasar menilai perubahan kekuatan politik di Kongres dapat mempersempit ruang pemerintah AS untuk menjalankan sejumlah kebijakan fiskal, terutama apabila pemerintahan dan Kongres tidak lagi dikuasai partai yang sama.
Pelemahan dolar juga terjadi bersamaan dengan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun tercatat turun sekitar 4 basis poin ke posisi 4,919%.
Penurunan imbal hasil tersebut ikut mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar AS.
Meski begitu, arah dolar berikutnya masih akan sangat bergantung pada hasil akhir pemilu sela, terutama terkait partai mana yang akan menguasai DPR dan Senat AS.
Selain persoalan politik, perkembangan konflik di Timur Tengah juga tetap menjadi perhatian.
Kong mengingatkan bahwa peningkatan ketegangan antara AS dan Iran setelah pemilu berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.
"Jika agresi dalam konflik meningkat, harga minyak bisa melonjak tajam dan hal itu akan mendukung dolar AS," ujarnya.
Harga minyak Brent pada perdagangan Asia berada di sekitar US$103,85 per barel, relatif stabil setelah pada perdagangan sebelumnya turun sekitar 1% ke level terendah dalam hampir empat pekan.
Pasar masih menimbang perkembangan perundingan damai di Iran dan Ukraina, sekaligus risiko gangguan pasokan energi akibat serangan yang masih berlangsung.
Sementara itu, yuan China bergerak melemah setelah pada perdagangan Selasa mengalami penurunan harian terdalam sejak 15 Mei.
Tekanan terhadap yuan muncul setelah bank sentral China atau People's Bank of China (PBoC) menaikkan rasio kewajiban cadangan devisa bagi lembaga keuangan dari sebelumnya 4% menjadi 6%. Langkah yang dilakukan untuk memperlambat laju penguatan yuan yang terjadi sebelumnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)