MARKET DATA

Persaingan Kerja Brutal, Mahasiswa China Rela Beli Pengalaman Magang

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia
31 October 2026 15:00
Sarjana menganggur di China duduk di perpusatakaan
Foto: Economist

Jakarta, CNBC Indonesia - Di China, pengalaman untuk mencari kerja bahkan kini punya harga.

Di tengah pengangguran anak muda yang masih tinggi dan jumlah lulusan yang terus membengkak, sebagian mahasiswa rela membayar hingga puluhan ribu yuan demi mendapatkan magang di perusahaan ternama.

Bagi mahasiswa, pengalaman magang bukan lagi sekadar pelengkap curriculum vitae (CV). Pengalaman tersebut dipandang sebagai modal untuk memperkuat peluang memasuki dunia kerja, terutama untuk posisi profesional di perusahaan besar.

Namun, ketika kesempatan magang semakin sulit diperoleh, jasa perantara yang menawarkan akses ke perusahaan ikut menjadi pilihan.

Mengutip laporan South China Morning Post (SCMP), seorang mahasiswa akuntansi tahun kedua bernama Wang Guilin mempertimbangkan membayar jasa perantara untuk memperoleh posisi magang musim dingin di sebuah firma akuntansi besar. Ia mengaku ditawari biaya sebesar CNY 6.000 hingga CNY  12.000,", atau sekitar Rp32.628.000 (CNY1=Rp2.719)* untuk satu posisi magang.

Wang menilai persaingan melalui jalur rekrutmen biasa cukup berat. Posisi magang di perusahaan ternama, menurutnya, kerap diisi mahasiswa tingkat akhir dari universitas unggulan atau mereka yang telah memiliki pengalaman magang kuat.

Tarif jasa tersebut bervariasi. Ada penyedia yang menawarkan konsultasi karier, perbaikan CV, dan persiapan wawancara.

Namun, sebagian lainnya menjanjikan penempatan magang melalui jalur khusus dengan biaya yang tidak sedikit. Sejumlah mahasiswa bahkan melaporkan biaya hingga 30.000 yuan untuk memperoleh satu posisi.

Besarnya biaya itu menjadi persoalan ketika dibandingkan dengan penghasilan awal lulusan baru.

Data konsultan riset pendidikan MyCOS yang berbasis di Beijing menunjukkan lulusan sarjana pada 2025 memperoleh rata-rata gaji bulanan sebesar 6.435 yuan, enam bulan setelah menyelesaikan studi.

Dengan demikian, biaya magang yang mencapai puluhan ribu yuan dapat setara dengan beberapa bulan gaji awal.

Jutaan Lulusan Berebut Peluang Kerja

Persaingan tersebut berlangsung ketika jumlah lulusan perguruan tinggi China terus meningkat. Pada 2021, jumlah lulusan tercatat sekitar 9,09 juta orang. Angka itu naik menjadi 12,22 juta pada 2025 dan diperkirakan mencapai 12,7 juta pada 2026.

Bertambahnya jumlah lulusan berarti semakin banyak pencari kerja memasuki pasar tenaga kerja setiap tahun.

Sementara itu, kesempatan kerja untuk posisi pemula tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama, sehingga persaingan memperoleh pekerjaan formal menjadi semakin berat.

Tekanan itu juga terlihat dari tingkat pengangguran anak muda di China. Pada September 2026, tingkat pengangguran penduduk perkotaan berusia 16-24 tahun, tidak termasuk mahasiswa, tercatat sebesar 18%.

Angka tersebut masih menunjukkan tekanan yang besar di pasar kerja anak muda. Tingkat pengangguran juga cenderung meningkat pada musim kelulusan.

Pada Agustus 2026, misalnya, angkanya mencapai 18,9%, sebelum turun pada bulan berikutnya.

Stuart Gietel-Basten, profesor ilmu sosial dan kebijakan publik di Hong Kong University of Science and Technology (HKUST), menilai kecemasan anak muda dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari pasar tenaga kerja yang semakin ketat, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perlambatan pertumbuhan ekonomi, hingga bertambahnya jumlah lulusan yang mencari pekerjaan.

Dalam situasi seperti itu, mahasiswa dapat merasa perlu mengumpulkan lebih banyak pengalaman dan kualifikasi agar mampu bersaing. Namun, kebutuhan tersebut juga membuka peluang bagi penyedia jasa yang memanfaatkan kecemasan pencari kerja.

Ketika Magang Berbayar Berujung Penipuan

Risiko lain muncul ketika jasa penempatan magang tidak memberikan pengalaman yang dijanjikan. Di China, sejumlah kasus menunjukkan bahwa layanan yang menawarkan akses ke perusahaan besar dapat berujung pada penipuan.

Pada Juli 2026, surat kabar pemerintah People's Daily melaporkan sebuah perusahaan berbasis di Guangzhou yang menyamar sebagai karyawan perusahaan domestik dan internasional ternama.

Perusahaan itu memberikan tugas kepada mahasiswa secara jarak jauh, lalu menerbitkan sertifikat magang dan surat rekomendasi palsu dengan segel elektronik yang dipalsukan.

Kasus lain yang dilaporkan media China menunjukkan skala kerugian yang tidak kecil. Dalam satu kasus penipuan berkedok layanan magang, lebih dari 5.000 mahasiswa dan lulusan dilaporkan menjadi korban, dengan nilai penipuan melampaui 24 juta yuan.

Wang sendiri akhirnya memilih untuk tetap mencari magang secara mandiri. Ia berharap dapat memperoleh pengalaman di perusahaan yang lebih kecil sebelum mencoba melamar ke perusahaan besar ketika memasuki tahun ketiga kuliah.

Ia juga mengakui bahwa biaya jasa penempatan magang cukup tinggi dan belum tentu akan kembali menjadi pilihannya.

Gietel-Basten mengingatkan bahwa persaingan memperoleh magang dan kualifikasi tambahan dapat memperlebar kesenjangan di dunia pendidikan dan pasar tenaga kerja.

Kesempatan kerja, menurutnya, berisiko lebih banyak jatuh kepada mereka yang mampu membayar magang tanpa bayaran atau menggunakan jasa perusahaan swasta untuk membantu pencarian kerja.

Dengan jumlah lulusan yang terus bertambah dan persaingan yang semakin ketat, akses terhadap pengalaman kerja berpotensi menjadi persoalan tersendiri.

Jika kesempatan magang semakin bergantung pada kemampuan finansial, mahasiswa yang memiliki sumber daya lebih besar bisa memperoleh keunggulan sebelum mereka benar-benar memasuki pasar kerja.

 

(mae/mae)



Most Popular