Negara dengan Harga Pangan Paling Bergejolak, RI Peringkat Berapa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pangan merupakan kebutuhan pokok dan salah satu paling penting dalam kehidupan manusia. Namun, akses terhadap pangan tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan makanan, tetapi juga pada keterjangkauan harganya.
Kenaikan harga pangan dapat menekan daya beli rumah tangga, meningkatkan biaya hidup, serta membatasi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.
Berdasarkan proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) per 15 Oktober 2026, sejumlah negara diperkirakan mengalami kenaikan harga pangan dalam 12 bulan ke depan, sementara negara lainnya berpotensi mencatatkan penurunan.
Angka proyeksi Iran jauh melampaui Argentina yang berada di urutan kedua dengan proyeksi kenaikan 34%, disusul Rwanda sebesar 29,1%.
Turki dan Nigeria juga diperkirakan mengalami kenaikan dua digit, masing-masing 24,2% dan 23,5%. Sejumlah negara lain, termasuk Lebanon, Mongolia, dan Libya, turut masuk dalam daftar dengan proyeksi kenaikan di atas 18%.
Tingginya proyeksi kenaikan harga pangan Iran terjadi di tengah tekanan inflasi yang sudah besar. Inflasi pangan Iran mencapai 98% pada Februari 2026, sebelum konflik Timur Tengah semakin memperburuk risiko terhadap pasokan dan biaya perdagangan.
Konflik di kawasan tersebut turut meningkatkan risiko gangguan pasar energi dan perdagangan internasional.
Kenaikan biaya bahan bakar, pupuk, serta transportasi dapat menambah beban produksi dan distribusi pangan. Bahan bakar dibutuhkan dalam berbagai tahap produksi hingga pengiriman, sementara pupuk menjadi salah satu input penting dalam pertanian.
Meski demikian, perubahan harga pangan tidak hanya dipengaruhi konflik dan biaya produksi. Pelemahan mata uang, ketergantungan pada impor, serta kondisi pasokan domestik juga dapat memengaruhi besarnya kenaikan harga di setiap negara.
Di sisi lain, sejumlah negara diproyeksikan mengalami penurunan harga pangan dalam 12 bulan ke depan. Vanuatu berada di posisi teratas dengan proyeksi penurunan 8%, diikuti Kamerun sebesar 7,3%. Swedia dan Latvia menyusul dengan penurunan masing-masing 5,7% dan 5,3%.
Sejumlah negara Eropa mendominasi daftar ini. Ceko diproyeksikan mengalami penurunan 4,3%, sementara Hungaria sebesar 4%. Belanda, Denmark, dan Slovakia juga masuk dalam daftar negara dengan proyeksi penurunan harga pangan. China turut tercatat dengan proyeksi penurunan sebesar 1,6%.
Penurunan harga hasil pertanian turut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan prospek harga pangan di Eropa.
Pada kuartal II-2026, harga yang diterima petani di Uni Eropa turun 5,8% secara tahunan. Penurunan terutama terlihat pada harga susu yang merosot 16,6% dan serealia sebesar 5,6%.
Namun, petani masih menghadapi kenaikan biaya produksi. Pada periode yang sama, biaya energi meningkat 22%, sedangkan harga pupuk naik 13,4%. Kondisi ini berpotensi membatasi penurunan harga pangan di tingkat konsumen karena biaya produksi dan distribusi masih menjadi beban.
Selain itu, penurunan harga yang diproyeksikan belum tentu membuat bahan pangan kembali murah.
Di kawasan euro, harga pangan masih sekitar 30% lebih tinggi dibandingkan akhir 2021. Kenaikan kumulatif tersebut menunjukkan bahwa koreksi harga dalam beberapa waktu ke depan mungkin memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia tercatat memiliki proyeksi moving mean perubahan harga pangan sebesar 4,76% dalam data yang digunakan FAO.
Secara keseluruhan, proyeksi harga pangan menunjukkan bahwa tekanan terhadap biaya hidup dapat berkembang dengan arah dan besaran berbeda di setiap negara.
Perkembangan harga selanjutnya akan bergantung pada kondisi pasokan, biaya produksi dan distribusi, serta dinamika ekonomi dan geopolitik global.
(mae/mae)