MARKET DATA

El Nino Mengancam India, Krisis Pangan & Ekonomi di Depan Mata

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia
08 October 2026 13:35
Pekerja memuat bal jerami padi ke traktor, di sawah, pada pagi yang berkabut, di tengah polusi udara yang terjadi di Mansa, di negara bagian Punjab, India utara, 12 November 2025. (REUTERS/Bhawika Chhabra)
Foto: Pekerja memuat bal jerami padi ke traktor, di sawah, pada pagi yang berkabut, di tengah polusi udara yang terjadi di Mansa, di negara bagian Punjab, India utara, 12 November 2025. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

Jakarta, CNBC Indonesia - El Niño mulai menekan pertanian India, dari berkurangnya hujan hingga terbatasnya cadangan air untuk musim tanam berikutnya. Ancaman ini datang ketika konflik geopolitik turut mengerek biaya energi, mengganggu pasokan pupuk, dan memperbesar risiko kenaikan harga pangan.

Tekanan tersebut juga menjadi perhatian bagi Asia, terutama India. Gangguan panen di negara produsen dapat merembet ke negara pengimpor melalui kenaikan harga dan berkurangnya pasokan di pasar internasional.

El Niño Menguat, Pertanian Tertekan

Badan meteorologi Inggris, Met Office, dalam laporan 22 September 2026 menyatakan suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian tengah telah melampaui tingkat yang tercatat pada kejadian El Niño sebelumnya. Fenomena tersebut masih berkembang menuju puncaknya pada akhir tahun.

El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik ekuator bagian tengah dan timur menghangat melebihi normal. Perubahan ini menggeser pola sirkulasi atmosfer dan distribusi hujan, sehingga sebagian wilayah mengalami kondisi lebih panas dan kering. 

Bagi pertanian, berkurangnya hujan dapat menghambat penanaman, menurunkan kelembapan tanah, serta membatasi air irigasi. Dampaknya dapat berlanjut ke musim tanam berikutnya apabila waduk tidak memperoleh cukup tambahan air.

Hujan Minim, Waduk India Tak Penuh

Mengutip CNBC International, India menerima curah hujan terendah dalam lebih dari satu dekade sepanjang Juni-September 2026. Nomura menyebut sejumlah wilayah Maharashtra, Andhra Pradesh, Punjab, dan Haryana menghadapi kondisi kekeringan ekstrem.

Pada akhir September, cadangan air waduk masih sekitar 28% di bawah kapasitas penuh, menurut laporan Nomura. Kondisi tersebut menambah risiko bagi tanaman musim dingin yang membutuhkan pasokan air setelah musim monsun berakhir. 

Seorang buruh tani minum air saat istirahat di tengah pekerjaan di sawah pada hari musim panas di Karnal di negara bagian utara Haryana, India, 3 Juni 2024. (REUTERS/Bhawika Chhabra)Seorang buruh tani minum air saat istirahat di tengah pekerjaan di sawah pada hari musim panas di Karnal di negara bagian utara Haryana, India, 3 Juni 2024. (REUTERS/Bhawika Chhabra) Foto: Seorang buruh tani minum air saat istirahat di tengah pekerjaan di sawah pada hari musim panas di Karnal di negara bagian utara Haryana, India, 3 Juni 2024. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

HDFC Mutual Fund dalam analisis 6 Oktober mencatat defisit hujan sekitar 13% dibandingkan normal. Meski demikian, luas tanam musim kharif, yakni musim tanam utama di India yang bergantung pada curah hujan monsun, hanya turun 1,4% dari tahun sebelumnya setelah hujan Juli membantu mengejar keterlambatan penanaman. Luas tanam padi turun lebih besar, yakni 3,7%.

Persoalan air juga tidak merata. HDFC mencatat waduk di wilayah selatan hanya terisi sekitar 52% dari kapasitas tampung efektifnya, sementara wilayah tengah dan barat memiliki kondisi lebih baik.

Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar memperingatkan bahwa kombinasi El Niño dan kekurangan pupuk akibat konflik geopolitik berpotensi memicu krisis pangan besar dalam beberapa bulan mendatang, sebagaimana dilaporkan CNBC International.

Dari Panen ke Inflasi Hingga Konsumsi

Pertanian menyumbang sekitar 17% perekonomian India, tetapi menopang mata pencaharian sekitar 46,1% tenaga kerjanya. Karena itu, gangguan panen dapat menekan pendapatan masyarakat dan belanja rumah tangga.

Pasar pedesaan juga menyumbang hampir 40% penjualan barang konsumsi sehari-hari atau FMCG, menurut data Nielsen Consumer yang dikutip CNBC International. Pelemahan daya beli di wilayah ini menjadi risiko bagi perusahaan seperti Hindustan Unilever, Colgate-Palmolive, Nestle, hingga produsen mobil Maruti Suzuki.

Hanna Luchnikava-Schorsch, Kepala Ekonomi Asia Pasifik S&P Global Market Intelligence, memperkirakan ekonomi pedesaan India melambat secara signifikan pada 2026 dan 2027 akibat tekanan terhadap hasil panen dan pendapatan petani.

Tekanan harga sudah terlihat. Inflasi konsumen India mencapai 4,82% secara tahunan pada Agustus, sementara inflasi pangan sebesar 5,95%. Kementerian Keuangan India juga memperingatkan bahwa mahalnya minyak dan gangguan pasokan dapat menambah tekanan inflasi.

Pada Rabu (7/10/2026), Reserve Bank of India menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,5%. Bank sentral turut menaikkan proyeksi inflasi tahun fiskal berjalan menjadi 5,2%, dari sebelumnya 5%.

Meski demikian, ekonomi India belum kehilangan seluruh penopangnya. RBI masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,1% pada tahun fiskal berjalan. HDFC juga mencatat perluasan irigasi dan cadangan pangan yang besar dapat membantu meredam dampak kekurangan hujan.

Ancaman Meluas ke Negara-Negara Asia

"Risiko ketahanan pangan di Asia Selatan dan Asia Tenggara diperkirakan meningkat, memperbesar potensi kerusuhan dan ketidakstabilan politik di sejumlah ekonomi paling rentan," tulis Verisk Maplecroft dalam laporan 16 September 2026.

Lebih dari 75% negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara masuk kategori risiko ketahanan pangan tinggi hingga sangat tinggi. Kondisi ini membuat kawasan tersebut semakin rentan terhadap kenaikan harga pangan di tengah tekanan cuaca ekstrem dan gangguan pasokan pupuk.

Ancaman Krisis Pangan Membayangi Negara-Negara Asia. Pemetaan risiko ketahanan pangan, tekanan sumber daya air, dan gelombang panas di sejumlah negara Asia pada kuartal III-2026. Ukuran lingkaran menunjukkan kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap PDB.Ancaman Krisis Pangan Membayangi Negara-Negara Asia. Pemetaan risiko ketahanan pangan, tekanan sumber daya air, dan gelombang panas di sejumlah negara Asia pada kuartal III-2026. Ukuran lingkaran menunjukkan kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan terhadap PDB. Foto: Verisk Maplecroft, World Bank (2026).

Grafik tersebut memperlihatkan bahwa sejumlah eksportir beras utama Asia, termasuk India, Thailand, dan Pakistan, menghadapi tekanan tinggi terhadap sumber daya air. Kondisi ini meningkatkan kerentanan produksi pertanian ketika El Niño mengganggu pola hujan.

Risiko juga menjangkau Indonesia dan Malaysia sebagai produsen utama minyak sawit dunia.

Cuaca panas dan tekanan terhadap ketersediaan air berpotensi mengganggu produksi sawit, sementara negara pengimpor pangan menghadapi risiko kenaikan harga apabila pasokan internasional mengetat.

FEWS NET mencatat hujan Juni-September di sejumlah wilayah Pakistan jauh di bawah rata-rata. Kekurangan hujan diperkirakan menekan produksi musim kharif dan pendapatan buruh tani. Meski demikian, peluang hujan lebih baik pada musim berikutnya dapat membantu pemulihan sebagian produksi. 

Harga Pangan Bergantung Pada Panen dan Kebijakan

Besarnya dampak terhadap pasar pangan juga bergantung pada kebijakan perdagangan. Menurut FEWS NET, India rata-rata memasok sekitar 40% ekspor beras dunia, sehingga perubahan kebijakan ekspornya dapat menggerakkan harga internasional.

USDA masih memperkirakan ekspor beras India yang tetap tinggi dengan dukungan stok besar. Artinya, penurunan produksi belum otomatis berujung pada pembatasan ekspor.

Bagi Indonesia, perkembangan panen dan kebijakan pemasok beras menjadi hal yang perlu dicermati, bersamaan dengan ketersediaan air untuk produksi dalam negeri. Gangguan pasokan di luar negeri dapat memperbesar tekanan ketika produksi domestik juga menghadapi cuaca kering.

Dampaknya pun dapat muncul setelah musim hujan berakhir. Tekanan ketahanan pangan sering memuncak pada musim paceklik berikutnya, ketika hasil panen dan pendapatan rumah tangga telah berkurang.

(slm/slm)



Most Popular