MARKET DATA
Newsletter

Pekan Panas! 7 Bank Sentral Umumkan Suku Bunga-China Gelar Rapat Akbar

mae,  CNBC Indonesia
26 October 2026 06:25
Pasar bullish vs bearish
Foto: Pixabay
  • Pasar keuangan Indonesia berakhir hijau akhir pekan lalu, tapi menghadapi banyak tekanan pekan ini
  • Wall Street melemah akhir pekan lalu dipicu jatuhnya saham teknologi
  • Perkembangan perang hingga keputusan bank sentral dunia akan menjadi penggerak pasar pekan ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Kinerja positif pekan lalu diharapkan bisa menjadi modal positif bagi pasar saham, rupiah, dan obligasi dalam mengarungi pekan ini.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi banyak tekanan eksternal sepanjang pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar pada hari ini dan sepanjang pekan ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (23/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,95% atau naik 51,35 poin ke level 5.439,26.

Dalam sepekan, IHSG juga menguat 4,9% pada pekan lalu. Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah IHSG ambruk 14,9% pada pekan sebelumnya.

Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 8,73 triliun pada pekan lalu.

Sejumlah saham mencatatkan pergerakan harga signifikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang perdagangan sepekan periode 19-23 Oktober 2026. Tiga saham dengan penguatan terbesar pekan lalu adaalah Saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK), Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE), dan PT Widodo Makmur Unggas Tbk

Berdasarkan data statistik perdagangan BEI, harga saham TRUK melesat 87,11% dalam sepekan, dari Rp3.220 menjadi Rp6.025 per saham.

Di posisi kedua, saham Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) melonjak 70,57% dari Rp384 menjadi Rp655. Disusul saham Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) yang menguat 63,64%, dari Rp22 menjadi Rp36 per saham.

Di sisi lain, saham Alkindo Naratama Tbk (ALDO) menjadi saham dengan penurunan terdalam (top losers) sepanjang pekan lalu.

 

Harga saham ALDO anjlok 29,92%, dari Rp1.955 menjadi Rp1.370 per saham.

Saham PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) menyusul dengan koreksi 29,29%, dari Rp990 menjadi Rp700. Berikutnya, saham PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) turun 28,92%, dari Rp830 menjadi Rp590 per saham.

Dari pasar mata uang, pada perdagangan terakhir pekan lalu Jumat (23/10/2026), nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis 0,03% dan mengakhiri perdagangan di posisi Rp18.040/US$, setelah dua hari perdagangan sebelumnya ditutup melemah.

Namun, penguatan pada akhir pekan lalu belum cukup untuk membawa rupiah mencatat kinerja positif secara mingguan.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda masih melemah 0,22% terhadap dolar AS sepanjang perdagangan sepekan lalu.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak ke 7,446% pada akhir pekan lalu, dibandingkan 7,169% pada akhir pekan sebelumnya. Imbal hasil yang menanjak menandai harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.

Wall Street ditutup melemah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (24/10/2026), seiring aksi jual yang sebelumnya menghantam saham teknologi meluas ke sektor lain. Sentimen pasar juga tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah AS yang menembus US$100 per barel di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik Amerika Serikat (AS)-Iran kembali memanas.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 652,82 poin atau 1,23% ke level 52.215,16. Indeks S&P 500 turun 0,52% ke posisi 7.623,68, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,21% menjadi 25.955,34.

Saham-saham defensif yang biasanya menjadi incaran investor saat pasar bergejolak justru ikut tertekan. Sektor kebutuhan pokok konsumen, utilitas, dan kesehatan kompak melemah.

 

Saham American Express, salah satu komponen Dow Jones, anjlok lebih dari 3% setelah perusahaan mengumumkan pemangkasan sekitar 5% tenaga kerja globalnya. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari upaya perusahaan mempersiapkan diri menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Saham Caterpillar juga turun sekitar 2%, sementara Goldman Sachs melemah lebih dari 1%, menambah tekanan terhadap indeks Dow Jones yang beranggotakan 30 perusahaan.

Sehari sebelumnya, saham-saham teknologi mengalami tekanan ketika investor mengevaluasi dampak lonjakan utang korporasi dan kenaikan suku bunga terhadap perusahaan AI dan teknologi lainnya.

Pada perdagangan Jumat, saham Microsoft bergerak naik tipis. Sementara itu, saham produsen cip seperti Micron Technology dan Advanced Micro Devices (AMD) mencatatkan penguatan lebih besar, masing-masing hampir 3% dan sekitar 2%.

Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, mengatakan investor selama dua pekan terakhir berbondong-bondong keluar dari saham teknologi dan perusahaan yang diuntungkan oleh pembangunan pusat data, lalu beralih ke aset yang dianggap lebih aman.

 

Namun, menurutnya, arus perpindahan tersebut pada akhirnya akan kehilangan tenaga ketika semakin sedikit investor yang bersedia melakukan rotasi serupa.

Ellerbroek menambahkan, kinerja keuangan perusahaan teknologi pada musim laporan keuangan kali ini masih cukup kuat. Hal tersebut memberikan alasan bagi investor untuk kembali mempertimbangkan saham teknologi, alih-alih semata-mata mengikuti sentimen ketakutan di pasar.

"Emosi dan ketakutan memainkan peran yang sangat besar," ujarnya. Meski demikian, sejumlah perusahaan teknologi telah melaporkan hasil keuangan kuartalan yang solid.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun naik lebih dari 4 basis poin ke kisaran 4,999%.

Sehari sebelumnya, yield acuan tersebut sempat turun di bawah level psikologis 5% untuk pertama kalinya dalam sebulan. Penurunan itu terjadi ketika investor mulai mencermati besarnya kebutuhan utang untuk membiayai pembangunan pusat data AI.

Kinerja Wall Street Sepekan

Secara mingguan, indeks S&P 500 melemah 0,5%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7%. Sebaliknya, Dow Jones masih mencatatkan kenaikan sebesar 0,4% sepanjang pekan lalu.

Pergerakan ini menunjukkan tekanan di pasar saham AS semakin meluas. Investor kini tidak hanya mencermati valuasi saham teknologi dan kebutuhan pembiayaan AI, tetapi juga harus menghadapi risiko lonjakan harga energi akibat potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pasar keuangan global dan Indonesia akan menghadapi pekan padat pada minggu ini.

Perkembangan perang masih menjadi penggerak utama pasar pekan ini. Sejumlah agenda penting, mulai dari keputusan bank sentral yang akan menggerakkan pasar saham, obligasi, valuta asing, dan komoditas.

Pada pekan ini, tujuh bank sentral dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter, yakni State Bank of Pakistan pada 26 Oktober; Federal Reserve AS, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, dan Bank of Thailand pada 28 Oktober; European Central Bank (ECB) pada 29 Oktober; serta Bank of Japan (BOJ) pada 30 Oktober.

Investor juga akan mencermati data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan zona euro, serta inflasi PCE AS yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Berikut sederet agenda ekonomi yang perlu dicermati pasar pekan ini.

1. Sidang Partai Komunis China

Communist Party Fifth Plenum atau Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China merupakan pertemuan penting untuk membahas arah politik dan kebijakan strategis China.

Partai akan membahas arah kebijakan ekonomi, industri, teknologi, dan pembangunan negara dalam beberapa tahun ke depan.

Sidang yang dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober 2026 ini menjadi sorotan karena dapat memberikan sinyal mengenai konsolidasi kekuasaan Presiden Xi Jinping, penguatan pemberantasan korupsi, serta prioritas pemerintahan menjelang 2027.

BEIJING, CHINA - OCTOBER 16: Chinese President Xi Jinping, bottom, speaks during the Opening Ceremony of the 20th National Congress of the Communist Party of China  at The Great Hall of People on October 16, 2022 in Beijing, China. Xi Jinping is widely expected to secure a third term in power. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images)BEIJING, CHINA - OCTOBER 16: Chinese President Xi Jinping, bottom, speaks during the Opening Ceremony of the 20th National Congress of the Communist Party of China at The Great Hall of People on October 16, 2022 in Beijing, China. Xi Jinping is widely expected to secure a third term in power. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Foto: Getty Images/Kevin Frayer

Bagi investor global, hasil pertemuan ini penting untuk mencermati kepastian kebijakan, iklim bisnis, dan prospek ekonomi China yang berpengaruh terhadap pasar saham, nilai tukar yuan, harga komoditas, serta negara mitra dagang seperti Indonesia.

2. Laba Industri China September 2026

China merilis data laba industri Januari-September pada Selasa (27/10) pukul 08.30 WIB. Sebagai pembanding, laba industri tumbuh 15,7% secara tahunan pada Januari-Agustus, melambat dari 17,6% pada Januari-Juli. Perlambatan lanjutan dapat menekan prospek permintaan komoditas, sedangkan penguatan laba berpotensi menjadi sinyal perbaikan aktivitas industri dan investasi China.

3. Keputusan Suku Bunga The Fed Oktober 2026

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00%, setelah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September.

Meski suku bunga diperkirakan tidak berubah, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya.

Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter AS.

Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, serta daya tarik Surat Berharga Negara (SBN).

4. Pertumbuhan Ekonomi AS Kuartal III-2026

Estimasi awal PDB AS kuartal III dirilis Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.

Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3,2% secara kuartalan dalam hitungan tahunan (annualized), naik dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan yang lebih kuat dapat menegaskan ketahanan ekonomi AS, tetapi jika disertai inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama berpotensi menguat.

5. Inflasi PCE Amerika Serikat

AS juga akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September pada Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.

Sebagai catatan, pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4% (YoY) sementara inflasi inti sebesar 3,0% (YoY).

Inflasi PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan naik 0,3% secara bulanan pada September 2026, dari 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1%, dari 3,0%.

Data ini penting karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.

Jika inflasi melampaui perkiraan, kekhawatiran bahwa tekanan harga masih sulit dikendalikan dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan tekanan terhadap pasar, meskipun diperlukan bukti penurunan yang konsisten sebelum prospek kebijakan moneter berubah secara signifikan.

6. Keputusan Suku Bunga ECB Oktober 2026

ECB dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis (29/10) pukul 20.15 WIB, dengan konferensi pers pada pukul 20.45 WIB.

Konsensus memperkirakan suku bunga operasi pembiayaan utama tetap di 2,65%, sementara suku bunga fasilitas simpanan bertahan di 2,50%.

Investor akan mencermati bagaimana ECB menyeimbangkan risiko inflasi dengan perlambatan ekonomi kawasan Eropa. Tekanan harga energi dan ketidakpastian pertumbuhan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.

Keputusan mempertahankan suku bunga belum tentu berarti ECB akan menahan kebijakan untuk waktu yang panjang. Karena itu, perubahan nada komunikasi bank sentral akan menjadi perhatian utama pasar.

Pernyataan ECB juga perlu dicermati bersama data ekonomi AS yang dirilis pada hari yang sama. Kombinasi kedua perkembangan tersebut dapat memengaruhi pergerakan euro, dolar AS, dan obligasi global

7. Data Ketenagakerjaan Jepang September 2026

Jepang merilis data ketenagakerjaan Jumat (30/10) pukul 06.30 WIB.

Tingkat pengangguran diperkirakan tetap 2,5%, sementara rasio lowongan terhadap pelamar bertahan di 1,18. Pasar tenaga kerja yang ketat dapat menopang upah dan konsumsi, tetapi juga mempertahankan tekanan biaya. Data ini menjadi salah satu indikator bagi BOJ dalam menentukan arah kebijakan moneter.

8. Penjualan Ritel Jepang September 2026

Jepang akan merilis data ritel pada Jumat (30/10/2026).

Penjualan ritel Jepang September diperkirakan tumbuh 3,3% secara tahunan, meningkat dari 2,7% pada Agustus.

Data yang dirilis Jumat (30/10/2026) ini akan mengukur ketahanan konsumsi di tengah tekanan harga. Penguatan penjualan dapat mendukung prospek ekonomi, sedangkan hasil di bawah perkiraan berpotensi membuat BOJ lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga.

9. Keputusan Suku Bunga BOJ Oktober 2026

BOJ dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat (30/10), dengan waktu pengumuman yang dapat berubah mengikuti jadwal resmi bank sentral.

Konsensus memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.

Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk perubahan proyeksi pertumbuhan, inflasi, serta penilaian terhadap perkembangan upah dan konsumsi.

Nada kebijakan yang lebih hawkish berpotensi memperkuat yen dan meningkatkan perhatian investor terhadap penyempitan selisih suku bunga Jepang dengan negara lain.

Perubahan selisih tersebut dapat memengaruhi strategi carry trade, yakni pemanfaatan perbedaan suku bunga antarnegara untuk mencari keuntungan.

Sebaliknya, keputusan mempertahankan bunga tidak serta-merta menutup peluang kenaikan pada pertemuan berikutnya. Petunjuk mengenai waktu dan kecepatan normalisasi kebijakan akan menjadi fokus utama investor.

10. Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026

Estimasi awal PDB zona euro dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB.

Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6% pada kuartal sebelumnya.

Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1%, turun dari 1,2%. Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi kawasan dan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan ECB.

11. Tingkat Pengangguran Zona Euro September 2026

Tingkat pengangguran zona euro dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB dan diperkirakan bertahan di 6,4%.

Stabilitas tenaga kerja dapat menopang pendapatan dan konsumsi di tengah perlambatan ekonomi. Sebaliknya, kenaikan pengangguran bersamaan dengan melemahnya PDB dapat memperbesar kekhawatiran terhadap prospek ekonomi kawasan.

Berikut agenda dan data ekonomi yang dirilis hari ini

  • Menteri Koordinator Bidang Pangan memimpin Rapat Koordinasi dengan tema Keamanan Pangan di Ruang Rapat Utama Kemenko Pangan, Graha Mandiri, Jakarta Pusat

  • Konferensi Pers penindakan ekspor ilegal emas oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan di Auditorium Sabang, Gedung Sumatra, Kantor Pusat Bea Cukai, Jakarta Timur

  • Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Grand Ballroom, Hotel Fairmont, Jakarta. Turut hadir antara lain CEO Danantara Indonesia, Menteri Keuangan, dan Gubernur Bank Indonesia

  • Presiden menghadiri seremoni pembukaan Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Grand Ballroom, Hotel Fairmont, Jakarta Pusat

  • Press Conference Jak-Japan Matsuri 2026 yang akan diselenggarakan di Aula Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat

  • Communist Party Fifth Plenum China

Berikut agenda korporasi hari ini:


RUPS PT Link Net Tbk.

RUPS PT Yelooo Integra Datanet Tbk.
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim United Tractors Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim Astra Graphia Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim Astra Otoparts Tbk
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim Astra Agro Lestari Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Cisadane Sawit Raya Tbk.

Jatuh Tempo Surat Berharga Negara seri Obligasi Negara RI Seri VR0051


Berikut indikator ekonomi terbaru:


(mae/mae) Next Article 9 Sentimen Bayangi RI Pekan Ini: Super Wednesday - Pertemuan IMF


Most Popular
Features