Jadi Alternatif China, Ada Harga Mahal di Balik Booming Ekspor Vietnam
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China membawa keuntungan besar bagi Vietnam melalui meningkatnya investasi manufaktur dan ekspor.
Akan tetapi, di balik pesatnya pertumbuhan industri tersebut, ketergantungan Vietnam terhadap pembangkit listrik berbahan bakar batu bara justru semakin meningkat.
Vietnam mencatatkan produksi listrik berbasis batu bara sebesar 132,9 terawatt jam (TWh) sepanjang Januari-September 2026, meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data lembaga riset energi Ember, angka tersebut menjadi rekor tertinggi untuk periode sembilan bulan pertama dalam sejarah negara tersebut.
Berdasarkan data Ember, batu bara masih mendominasi produksi listrik Vietnam dibandingkan sumber energi lainnya, seperti tenaga air, gas, surya, dan angin.
Dominasi tersebut semakin terlihat pada 2026, ketika produksi listrik berbasis batu bara meningkat di tengah tingginya kebutuhan energi dan melemahnya produksi listrik tenaga air.
Lonjakan ini tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas manufaktur berorientasi ekspor, terutama setelah perusahaan-perusahaan global mulai mengalihkan sebagian produksinya dari China akibat kebijakan tarif AS.
Mengutip analisis kolumnis Reuters Gavin Maguire pada Jumat (23/10/2026), pertumbuhan sektor manufaktur telah mendorong kebutuhan listrik Vietnam meningkat hampir 50% sejak 2019.
Di sisi lain, produksi listrik tenaga air turun sekitar 12% sepanjang tahun berjalan akibat curah hujan yang lebih rendah dari normal. Kondisi tersebut membuat pembangkit batu bara semakin diandalkan untuk memenuhi kebutuhan energi industri.
Perang Tarif AS-China Jadi Berkah Bagi Manufaktur Vietnam
Sejak AS mulai memberlakukan tarif tambahan terhadap barang impor China pada 2018, sejumlah perusahaan multinasional berupaya mendiversifikasi rantai pasok dengan memindahkan sebagian aktivitas produksinya ke negara berbiaya lebih rendah.
Vietnam menjadi salah satu negara yang paling diuntungkan dari pergeseran tersebut, didukung biaya produksi yang kompetitif serta posisinya sebagai basis manufaktur di Asia Tenggara.
Perubahan ini terlihat dari perkembangan perdagangan AS dengan China dan Vietnam.
Pada 2018, nilai impor AS dari China sekitar 10 kali lebih besar dibandingkan impor dari Vietnam. Ketimpangan tersebut menyusut tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan nilai impor bulanan AS dari China dan Vietnam sejak 1980 hingga 2026, dalam US$ miliar. Foto: LSEG, Reuters (23 Oktober 2026). |
Berdasarkan data LSEG yang dikutip Reuters, ketika impor AS dari China mencapai puncaknya sekitar US$539 miliar secara tahunan, rata-rata impor bulanan AS dari China mencapai US$45 miliar, sementara dari Vietnam hanya sekitar US$4 miliar.
Memasuki 2026, rata-rata impor bulanan AS dari China turun menjadi sekitar US$22,9 miliar, sedangkan impor dari Vietnam melonjak menjadi US$22 miliar.
Artinya, nilai impor bulanan AS dari Vietnam meningkat lebih dari 400% dibandingkan sekitar 2018, hingga hampir menyamai China.
Pergeseran perdagangan tersebut turut mendorong pertumbuhan ekonomi Vietnam. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Vietnam rata-rata mencapai 7,4% per tahun sejak 2022, menjadikannya salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia dalam periode tersebut.
Ekspansi manufaktur juga meningkatkan konsumsi energi. Data Ember menunjukkan kebutuhan listrik Vietnam tumbuh rata-rata sekitar 6% per tahun sepanjang 2022-2025.
Dengan demikian, perang tarif tidak hanya mengubah peta perdagangan global, tetapi juga memengaruhi kebutuhan energi negara-negara yang menjadi tujuan relokasi industri.
Industri Tumbuh Pesat, Batu Bara Jadi Penopang Utama
Di balik pertumbuhan tersebut, Vietnam masih sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber pembangkit listrik utama.
Sejak 2019, pembangkit listrik tenaga batu bara menyumbang rata-rata sekitar 49% dari keseluruhan produksi listrik Vietnam. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran sepertiga produksi listrik.
Ketergantungan terhadap batu bara juga berfluktuasi mengikuti ketersediaan sumber energi lainnya, terutama pembangkit listrik tenaga air.
Pada 2022, kontribusi batu bara sempat turun menjadi 38,5% berkat melimpahnya produksi listrik tenaga air. Kenaikan harga batu bara internasional saat itu juga mendorong pengurangan penggunaannya.
Situasinya berbalik pada 2026. Penurunan produksi listrik tenaga air akibat rendahnya curah hujan membuat kontribusi batu bara kembali meningkat.
Berdasarkan data Ember, produksi listrik berbasis batu bara Vietnam meningkat sebesar 17,2 TWh sepanjang Januari-September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi kenaikan terbesar di antara seluruh sumber energi. Sebaliknya, produksi listrik tenaga air turun 9,1 TWh, sementara gas dan tenaga angin masing-masing meningkat 5,7 TWh dan 4,1 TWh.
Sepanjang Januari-September 2026, batu bara menyumbang hampir 52% dari bauran pembangkitan listrik Vietnam, tertinggi untuk periode yang sama sejak 2020 menurut Ember.
Ketergantungan yang semakin besar terhadap batu bara turut meningkatkan emisi sektor ketenagalistrikan.
Data Ember yang dikutip Reuters menunjukkan emisi sektor listrik Vietnam melonjak 16% menjadi rekor 129 juta ton setara karbon dioksida sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Dengan periode puncak produksi listrik tenaga air yang telah berlalu, penggunaan batu bara dan emisi dari sektor ketenagalistrikan berpotensi terus meningkat hingga akhir tahun.
Vietnam Perluas Pembangkit Non-Batu Bara, PLTU Masih Dibangun
Vietnam mulai memperluas kapasitas pembangkit listrik non-batu bara untuk memenuhi peningkatan kebutuhan energi. Berdasarkan data Global Energy Monitor yang dikutip Reuters, sekitar 11 gigawatt (GW) pembangkit listrik berbasis gas, 1,4 GW tenaga air, dan 1,3 GW tenaga angin tengah dibangun.
Meski demikian, pembangunan pembangkit listrik berbasis batu bara masih berlanjut, dengan kapasitas 2,7 GW dalam tahap konstruksi dan tambahan 2,6 GW dalam perencanaan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa batu bara masih akan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan listrik Vietnam. Tanpa percepatan transisi energi, pertumbuhan industri dan ekspor berpotensi terus mendorong peningkatan konsumsi batu bara serta emisi karbon.
Keuntungan Ekonomi Dibayangi Biaya Lingkungan
Perkembangan Vietnam memperlihatkan konsekuensi dari pergeseran rantai pasok global akibat perang dagang. Di satu sisi, relokasi manufaktur berhasil meningkatkan ekspor, menarik investasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan listrik membuat industri ekspor Vietnam semakin bergantung pada batu bara, yang turut mendorong kenaikan emisi karbon.
Ketergantungan ini juga dapat menjadi tantangan bagi perusahaan-perusahaan AS yang mengimpor barang dari Vietnam, terutama seiring meningkatnya perhatian terhadap jejak karbon dalam rantai pasok global.
Pada akhirnya, keberhasilan Vietnam sebagai pusat manufaktur global tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekspor, tetapi juga oleh kemampuannya menyediakan energi yang kompetitif, andal, dan semakin rendah emisi.
(slm/slm)