MARKET DATA

Saham, Emas & Deposito Diadu: Rp100 Juta Awal Tahun Kini Jadi Berapa?

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
23 October 2026 10:51
Rupiah & IHSG Jeblok
Foto: Infografis / Rupiah & IHSG Jeblok / Aristya Rahadian K

Jakarta, CNBC Indonesia - Pilihan instrumen investasi menjadi salah satu penentu besarnya keuntungan yang bisa diperoleh investor sepanjang 2026.

Memasuki Oktober 2026, kinerja saham, emas, hingga valuta asing menunjukkan hasil yang beragam. Sebagian mampu mencatatkan keuntungan, sementara lainnya justru mengalami penurunan nilai yang cukup dalam.

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut mempengaruhi hasil tersebut. Kurs dolar AS yang berada di Rp16.670 pada awal Januari kini mencapai Rp18.045 per dolar AS, sehingga memberikan keuntungan tambahan bagi investor yang memiliki aset berbasis dolar.

Untuk melihat perbandingannya, CNBC Indonesia membuat simulasi penempatan dana Rp100 juta pada enam instrumen investasi berbeda sepanjang tahun berjalan.

 

Perhitungan menggunakan data hingga Kamis (22/10/2026) pukul 15.30 WIB, dengan imbal hasil sebelum memperhitungkan pajak dan biaya transaksi.

1. S&P 500 ETF (SPY)

Investasi di pasar saham Amerika Serikat (AS) melalui SPDR S&P 500 ETF (SPY) mencatatkan keuntungan tertinggi dalam simulasi ini. Harga SPY naik dari US$683,17 pada awal Januari menajdi US$773,09 per unit pada 22 Oktober 2026, atau menguat 13,16%.

Kenaikan tersebut turut diperbesar oleh penguatan dolar AS terhadap rupiah. Dengan memperhitungkan perubahan harga ETF dan kurs, investasi awal Rp100 juta kini bernilai sekitar Rp122,50 juta, atau menghasilkan keuntungan Rp22,50 juta (22,50%).

2. Kas Valas (USD)

Menyimpan dolar AS sejak awal tahun juga memberikan keuntungan seiring pelemahan rupiah. Kurs dolar AS yang semula berada di Rp16.670 pada awal Januari naik menjadi Rp18.045 per dolar AS pada 22 Oktober 2026.

Artinya, investor yang menukarkan Rp100 juta menjadi dolar AS pada awal tahun dan mengonversinya kembali ke rupiah kini memperoleh sekitar Rp108,25 juta, atau untung Rp8,25 juta (8,25%) hanya dari selisih kurs.

3. Obligasi Ritel ST015-T4

Sukuk Tabungan ST015-T4 memberikan imbal hasil melalui pembayaran kupon bulanan. Kupon yang semula sebesar 5,45% per tahun meningkat menjadi 6,45% untuk pembayaran September dan Oktober 2026.

Dengan asumsi investasi Rp100 juta sejak penerbitan pada Desember 2025, total kupon yang diterima sepanjang Januari hingga Oktober mencapai sekitar Rp4,71 juta sebelum pajak. Jika ditambahkan dengan pokok investasi, nilainya menjadi Rp104,71 juta, setara dengan imbal hasil 4,71%.

4. Deposito Perbankan Konvensional

Menggunakan asumsi suku bunga 3,5% per tahun (sebelum pajak), sesuai dengan tingkat bunga penjaminan LPS pada awal 2026, penempatan dana Rp100 juta selama 293 hari kalender menghasilkan bunga sekitar Rp2,81 juta.

Dengan demikian, nilai pokok beserta bunga yang terakumulasi hingga 22 Oktober 2026 mencapai Rp102,81 juta, atau memberikan imbal hasil sebesar 2,81%.

5. Emas Batangan Antam

Emas Antam justru mencatatkan kerugian jika investor menjual kembali emas yang dibeli pada awal tahun. Harga pembelian pada 2 Januari 2026 tercatat Rp2.504.000 per gram, sementara harga jual kembali (buyback) pada 22 Oktober berada di Rp2.365.000 per gram.

Dengan selisih harga tersebut, investasi awal Rp100 juta kini hanya bernilai sekitar Rp94,45 juta, atau berkurang Rp5,55 juta (5,55%) sebelum pajak dan biaya transaksi.

6. Indeks LQ45

Indeks LQ45 mencatatkan penurunan paling dalam dibandingkan instrumen lainnya. Sejak awal tahun, indeks yang berisi 45 saham pilihan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini turun dari level 852 menjadi 542,19 pada 22 Oktober 2026.

Jika Rp100 juta diinvestasikan pada portofolio yang mengikuti pergerakan indeks tersebut, nilainya kini menyusut menjadi sekitar Rp63,64 juta. Artinya, investor mengalami penurunan nilai sebesar Rp36,36 juta (36,36%) sepanjang tahun berjalan.

LQ45 dan Emas Antam Sama-Sama Rugi, Apa Penyebabnya?

Penurunan LQ45 tak lepas dari tekanan yang melanda pasar saham domestik sepanjang 2026. Kondisi ini semakin berat setelah MSCI membuka konsultasi terkait potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada pertengahan Oktober.

Kekhawatiran terhadap keluarnya dana asing turut memicu aksi jual, termasuk pada saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam LQ45.

Sementara itu, harga emas dunia belakangan tertekan oleh prospek suku bunga Amerika Serikat (AS) yang bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini membuat aset berbunga seperti obligasi AS lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.

Di dalam negeri, selisih harga beli dan buyback Antam turut membuat nilai investasi emas dalam simulasi ini masih mencatatkan kerugian meskipun harga jual Antam lebih tinggi dibandingkan awal tahun

(gls/gls)



Most Popular