MARKET DATA
Newsletter

9 Sentimen Bayangi RI: HSC Didepak, Insentif Cair - Kabar dari Jepang

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
23 October 2026 06:20
Seorang pria berjalan di Wall Street di luar Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 7 April 2025. (REUTERS/Brendan McDermid//File Foto)
Foto: Seorang pria berjalan di Wall Street di luar Bursa Saham New York (NYSE) di Kota New York, AS, 7 April 2025. (REUTERS/Brendan McDermid)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) mayoritas melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026) atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Kekhawatiran baru terhadap besarnya belanja perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta lonjakan harga minyak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik memicu aksi jual di pasar saham.

Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 2,6% ke level 26.008,86. Penurunan ini menjadi kinerja harian terburuk Nasdaq sejak Juni.

Indeks S&P 500 juga melemah 1,21% ke posisi 7.663,43, mencatat penurunan harian terdalam sejak Juli 2026. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bergerak tipis menguat 11,89 poin atau 0,02% ke level 52.867,98.

 

Tekanan terutama datang dari saham-saham teknologi, seiring kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan pendanaan untuk pengembangan AI yang terus meningkat.

Saham Meta Platforms turun sekitar 7%, meskipun perusahaan tersebut membukukan pendapatan di atas ekspektasi pasar dan memberikan proyeksi kinerja yang optimistis.

Pelemahan juga melanda sejumlah perusahaan teknologi lainnya. Saham Advanced Micro Devices (AMD) anjlok lebih dari 8%, sedangkan Micron Technology dan Nvidia masing-masing turun 6% dan 4%.

Saham CoreWeave, salah satu pemain utama penyedia infrastruktur komputasi awan untuk AI atau neocloud, turut merosot 10%. Penurunan terjadi ketika imbal hasil obligasi dan biaya perlindungan kredit perusahaan tersebut masih bertahan tinggi.

Di tengah tekanan pasar, CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan kepada CNBC pada Kamis bahwa permintaan terhadap layanan neocloud berada pada level yang sangat tinggi, bahkan disebutnya di luar perkiraan.

Namun, Huang juga menyoroti keterbatasan modal yang berpotensi menghambat pertumbuhan industri tersebut.

 

Pernyataan mengenai kelangkaan modal ini memicu kekhawatiran investor terhadap kemampuan pasar kredit untuk menopang kebutuhan pendanaan perusahaan AI.

Dalam catatan kepada klien, para trader Wells Fargo menyebut komentar Huang telah membuat pasar gelisah dan kembali memunculkan kekhawatiran bahwa kapasitas pasar modal, khususnya dari sisi kredit, semakin terbatas di tengah tingginya risiko yang harus ditanggung investor.

Mereka juga menilai komentar Meta mengenai besarnya kebutuhan pendanaan AI turut menekan saham perusahaan tersebut dan membebani pasar secara keseluruhan.

Sementara itu, trader JPMorgan menilai sentimen positif yang mewarnai perdagangan Rabu berbalik arah dalam semalam. Pelemahan saham Meta sebelum pembukaan pasar serta meningkatnya kekhawatiran mengenai potensi eskalasi konflik Iran setelah pemilu paruh waktu AS bulan depan turut membebani sentimen.

JPMorgan juga menyoroti rapuhnya kepercayaan investor terhadap pendanaan AI dan minimnya keyakinan untuk kembali meningkatkan eksposur pada saham teknologi setelah pembalikan arah pasar baru-baru ini.

Harga Minyak Melonjak, Investor Berburu Aset Aman

Tekanan pasar semakin besar setelah harga minyak dunia melonjak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

The New York Times melaporkan, mengutip sejumlah sumber, bahwa AS dan Israel memiliki rencana untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS bulan depan.

 

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan kepada wartawan pada Rabu malam bahwa Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran. Ia menambahkan bahwa sesuatu akan terjadi dalam waktu yang relatif dekat.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent, patokan internasional, melonjak 4% dan ditutup pada US$113,17 per barel.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,39% ke US$99,47 per barel.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian, investor beralih ke obligasi pemerintah AS atau US Treasury sebagai aset lindung nilai.

Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun turun lebih dari 17 basis poin menjadi 4,972%, level terendah dalam hampir satu bulan.

Imbal hasil obligasi bertenor dua tahun juga merosot lebih dari 16 basis poin menjadi 4,659%.

Penurunan imbal hasil tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset yang dinilai lebih aman di tengah tekanan pada saham teknologi dan risiko geopolitik yang kembali meningkat.

(evw/evw)


Most Popular
Features